Hari Minggu Biasa II (16 Januari 2022)
Yes 62:1-5; Mzm. 96:1-2a, 2b-3, 7-8a,9-10ac; 1 Kor 12:4-11, Yoh 2:1-11

 

FALSAFAH “BHINNEKA TUNGGAL IKA” menjadi pemersatu bangsa Indonesia yang masyarakatnya majemuk, heterogen budaya, bahasa, agama, etnis atau rasnya. Falsafah yang diambil dari Kitab Sutasoma karangan Empu Tantular ini menegaskan bahwa “berbeda-beda tetapi tetap satu”. Bagi rakyat Indonesia yang mendiami ribuan pulau dan dengan segala kebudayaannya masing-masing. falsafah itu sudah dihayati dalam kehidupannya sehari-hari. Perbedaan bukan menjadi penghalang untuk bersatu, sebaliknya menjadi modal atau kekuatan untuk membangun bangsa.

Makna kata-kata itu tersirat pula dalam bacaan kedua hari ini. Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh, ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang Allah dalam semua orang (1Kor 12:4-6). Bila semua orang menyadari bahwa Allah adalah Allah dari segala makhluk, Allah itu Esa, maka orang akan dapat hidup berdampingan tanpa memikirkan perbedaaan agama, suku, ras, jenis kelamin, dan status sosialnya. Orang akan menerima sesamanya dengan dan kelebihannya. Sikap congkak yang dibenci dapat dihindarkan sehingga persatuan dan kesatuan umat manusia dapat terwujud seperti keinginan Roh, yaitu: hidup damai sejahtera. Buah Roh adalah kasih, sehingga selayaknya karunia yang diberikan Allah dimanfaatkan untuk kepentingan bersama demi kemajuan, kesejahteraan dan kebahagiaan  masyarakat.

Peristiwa perkawinan di Kana menjadi menarik, bukan hanya karena Yesus membuat menarik, mukjizat yang pertama, tetapi juga karena peristiwa itu mengandung banyak hal yang pantas direnungkan. Di tengah masyarakat, biasanya orang yang mengadakan pesta perkawinan menyediakan makanan dan minuman dua kali lipat dari tamu yang diundang. Hal itu dilakukan untuk menjaga kemungkinan tak terduga yang dapat membuat malu tuan pesta. Maka habisnya anggur dalam perkawinan di Kana cukup mengherankan, hampir membuat tuan pesta mendapatkan malu, Tamu yang datang tentunya melebihi jatah yang sudah dilipat gandakan. Kemungkinan Yesus Datang bukan hanya dengan para murid-Nya, tetapi disertai para pengikut-Nya yang berjumlah besar yang kebanyakan adalah rakyat jelata. Rupanya Yesus menghendaki pesta itu bukan hanya diperuntukkan kalangan orang terpandang tetapi menjadi pesta rakyat. Dalam pesta itu tak ada perbedaan kaya miskin, pejabat-rakyat biasa, tua-muda, pria wanita. Semuanya diikutsertakan dalam pesta dan mendapat jatah anggur sampai puas. Yesus merasa perlu untuk membuat mukjizat sebagai tanda keselamatan dari Allah sehingga melalui mukjizat itu Yesus meyakinkan bangsa Yahudi bahwa Dialah sesungguhnya Mesias yang sudah lama dinantikan. Sebelum peristiwa di Kana itu, Andreas berkata kepada Simon, saudaranya: “Kami telah menemukan Mesias” (Yoh 1:41). Dalam peristiwa perkawinan di Kana itu sikap Bunda Maria perlu kita contoh karena tahu persis pribadi Yesus, puteranya itu. Bunda Maria percaya, bahwa Yesus, puteranya akan berbuat sesuatu. Ketika mereka kekurangan anggur, Bunda Maria tidak datang memberitahu kepala perjamuan yang seharusnya bertanggung-jawab, tetapi mendekati Yesus dan berkata; “Mereka kekurangan anggur”. Bunda Maria berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan Nya kepadamu, buatlah itu!” Iman Bunda Maria kepada Yesus mendatangkan keselamatan bagi tuan rumah sehingga tidak mendapat malu, tetapi malah mendapat pujian karena menyuguhkan anggur yang baik. Dalam peristiwa itu kita juga dapat melihat bahwa Bunda Maria begitu tanggap melihat kesulitan sesamanya dan siap mengulurkan bantuan. Kalau kita berada dalam kesulitan, tidak ada salahnya kita mohon bantuan Bunda Maria, Bunda Gereja. Perubahan air menjadi anggur melambangkan perubahan kehidupan masyarakat yang memberikan harapan lebih baik dalam kehidupan. Anggur dalam Perjanjian Baru sering merupakan gambaran bagi dunia yang akan datang yang lebih baik. Sikap tanggap yang dilakukan Bunda Maria inilah yang mesti kita teladani. Tuhan Yesus menghendaki warga Gereja bersikap simpati dan berempati kepada orang-orang terutama yang mengalami kesulitan. Karena Yesus datang untuk menyelamatkan manusia, demikian pula para murid-Nya diminta menjadi “penyelamat” bagi sesamanya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.