Sinode tingkat Paroki Santo Paulus Pekanbaru dibuka pada 28 November 2021, sekaligus pembukaan masa Adven. Pada hari yang sama (28/11), kami mengadakan pertemuan perdana di Stasi St. Fransiskus Xaverius-Bukit Payung dan Stasi St. Lusia-Rumbai. Sosialisasi (sinode) serentak melalui media sosial dan pertemuan-pertemuan kami lakukan sejak 18 November 2021.

Kalau ada anggapan kami terlambat memulainya, dibandingkan dengan pembukaan sinode tingkat Keuskupan Padang oleh Bapa Uskup (17/10), memang demikian. Hal itu tidak luput dari kesibukan kerja saya di luar kota. Pada 7 November, saya bergerak cepat membentuk tim bersama pastor paroki. Setelah terbentuk, tim mempelajari dokumen pedoman sinode, selan jutnya marathon mengagendakan pertemuan untuk ‘menggejar ketertinggalan. Kami berko mitmen ‘mengejar’, pada minggu keempat Januari 2022 seluruhnya selesai pertemuan, sehingga sintesis awal pun sudah kami selesaikan.

Kami pun kini, fokus menyelenggarakan pertemuan-pertemuan sinode. Hingga malam Jumat (3/12), kami telah menyelenggarakan perternuan sinode dengan umat tiga stasi dan tujuh kring. Jarak antarstasi yang jauh dan sempitnya waktu menjadi kendala tersendiri. Sebagai nara hubung, saya tidak bisa bekerja sendirian. Anggota tim berbagi tugas. Di tengah kesibukan kerja, kami sepakat menjadwalkan pertemuan sinode setiap hari Minggu di stasi stasi yang jauh, usai ibadat sabda (Misa) agar partisipasi umat maksimal. Untuk Senin-Jumat (malam), kami agendakan pertemuan dengan umat kring di Wilayah Pusat Kota dan kelom pok-kelompok kategorial. Pertemuan sinode terbuka bagi seluruh umat, tanpa batasan ke lompok, kring, stasi. Kami juga menyediakan media sharing tertulis – secara manual dan online (Google Form) untuk umat yang mengalami kesulitan menghadiri pertemuan. Kami mengadakan lomba cipta lagu, membuat poster, dan bercerita tentang pengalaman menggereja sebagai media sosialisasi dan menggaungkan sinode di kalangan umat.

Menjangkau yang Terpinggirkan

Sesuai pesan Bapa Suci Paus Fransiskus, umat yang terpinggirkan, miskin, disabilitas, dan kelompok marginal kami perhatikan. Kami mengagendakan kunjungan pada saudara saudara di dalam penjara perempuan, penjara anak, dan penjara umum awal Januari 2022 sekaligus merayakan Natal kecil-kecilan. Kami ajak mereka bersinode. Selama ini, kami sering ikut melayani ibadah di dalam penjara semoga mendapat kemudahan akses untuk bersinode bersama saudara-saudara yang selama ini tidak diabaikan dan dilupakan. Kami libatkan juga pengurus kring dan tim pastoral stasi (TPS) untuk menemui umat yang “minggir” dan “terpinggirkan” dari pintu ke pintu (door to door). Kami merencanakan. pertemuan dengan kelompok buruh.

Selengkapnya, kami menetapkan sasaran dalam sinode ini, yakni: 17 Stasi, 21 Kring Wilayah Pusat, Kelompok Kategorial plus (misalnya: Kelompok Kerahiman Ilahi, Legio Maria, Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK), Orang Muda Katolik, Kelompok Prodiakon, Kelompok Misdinar. Selain itu, kami ajak organisasi kemasyarakatan (ormas) Katolik yang ada, yakni Wanita Katolik RI, PMKRI, Pemuda Katolik bersinode. Begitupun organisasi berbasiskan kesukuan; misalnya Karo Katolik, FLOBAMORA, Among Mitro

(Jawa), PSMTI (Tionghoa), dan Nias, Kelompok profesi pun tidak luput dari perhatian kami misalnya guru, TNI-Polisi, dokter, perawat. Sinode yang berarti jalan bersama ini membutuhkan kerja bersama dan partisipasi banyak pihak. Sebab itu, sebagai nara hubung, saya tidak sendirian dalam membentuk tim ini. Bersama pastor paroki, kami bentuk tim terdiri para aktivis yang berkomitmen tinggi, memilih personil dari unsur Dewan Pastoral Paroki (DPP), koordinator Komsos Paroki, aktivis berlatar belakang guru dan aparatur sipil negara/ASN. Kami membentuk tim penggerak sinode tingkat stasi, terutama stasi besar. Tujuannya untuk menjangkau seluas mungkin partisipasi umat. Dalam pendalaman sinode ada 10 pertanyaan. Secara umum, semua pertanyaan dapat dibagikan. Tetapi tidak dalam satu pertemuan atau satu kelompok saja. Kami membaginya sesuai dengan permasalahan yang kontekstual yang terjadi pada kelompok umat. Sebelum pertemuan, kami berdiskusi terlebih dulu untuk menentukan tugas dan tema pertanyaan yang diajukan selama pertemuan. Minimal empat tema pertanyaan kami ajukan dalam setiap pertemuan. Pada akhimya, dari 10 pertanyaan akan kami dapatkan sintesisnya dari kelompok umat yang berbeda. Untuk sharing pengalaman, pada pertemuan perdana sinode (28/11), saya merefleksikan begitu banyak permasalahan terungkap dari dampak pandemi ini. Mulai dari perjumpaan yang minim sehingga meningkat kan keacuhan umat dalam partisipasi. Pada awalnya kami mengacu pada daftar pertanyaan sesuai pedoman dari nara hubung keuskupan, namun selanjutnya kami tambahkan pertanyaan-pertanyaan lebih kontekstual.

Awalnya, umat tampak ogah-ogahan mengikuti pertemuan sinode, tetapi kini kami justru menghentikan umat yang mau membagikan pengalaman rohaninya. Sangat tinggi antusiasme umat untuk bercerita sehingga tim kewalahan mengatur waktunya. Kami tahu pertemuan prasinode Februari diundur, sehingga kami pun mendapat tambahan waktu untuk mengumpulkan bahan lebih banyak lagi dari sharing umat. Kami tidak mempublikasikan hal ini, agar target sintesis awal di akhir Januari 2022 tercapai sehingga ada waktu lebih banyak untuk melakukan pertemuan sinode babak kedua – setelah Januari – dengan demikian mendapatkan sintesis yang lebih akurat dari bahan data yang lebih maksimal.

Adakah kemungkinan ‘bersinode’ dengan umat beragama lain maupun tidak beragama? Kami akan menjangkaunya melalui pertemuan dengan kelompok kesukuan. Masih ada pen jajakan pertemuan dengan barisan serbaguna (banser) NU dan pengurus masjid sebelah gereja kami. Namun, kami belum mendapat kepastian kesediaan mereka, sehingga kami belum menjadwalkannya. Semoga mereka pun menyambut ajakan kami untuk bersinode. Tentu saja model bersinodenya berbeda. Kalau proses ini berhasil, kami ingin mendapatkan tanggapan mereka tentang Gereja. Harapan mereka sehingga kita dapat melakukan seperti harapan itu untuk lebih mempererat tali silaturahmi. (hrd)

 

Sebastianus Happy Subagio
Narahubung & Koordinator Tim Penggerak
Sinode Paroki Santo Paulus, Pekanbaru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.