Keberadaan seminari di Keuskupan Padang merupakan kerinduan semua pihak – terutama kalangan umat dan para imam. Dahulu, ada Seminari Menengah Maria Nirmala Padang. Seminari ini menerima orang muda (lelaki) lulusan SMP. Keberadaan seminari ini bukan sekedar kerinduan semata, tetapi memang menjadi kebutuhan.

Staf penyunting GEMA merangkum komentar, pendapat, tanggapan umat yang disampaikan melaluyi media sosial  (facebook) dan perbincangan. Secara umum, umat menyatakan dukungan, kegembiraan, harapan, dan doa-doa atas pembukaan (kembali) seminari ini. “Semoga pembukaan seminari di Keuskupan Padang dapat berlangsung lancar. Mari kita doakan agar semakin banyak kaum muda terpanggil menjadi imam,” ungkap Elfenni Bangun dari Pekanbaru.

Markus Bahal Marbun menyatakan pembukaan seminari ini sangat baik dan strategis bagi panggilan anak-anak muda di Keuskupan Padang. Sejumlah keuskupan di Regio Sumatera telah mempunyai seminari, maka layak kalau Keuskupan Padang pun demikian. Karena memang menjadi kebutuhan.

Ungkapan senada disampaikan warga Paroki Katedral St. Teresia dari Kanak-kanak Yesus-Padang, Ramli Jafar.  “Pembukaan seminari merupakan sebuah karya pendidikan untuk para calon imam yang sangat baik. Saya sangat setuju bila seminari dibuka di Keuskupan Padang.” Katanya. Harapan dan doa disampaikan Nova Cilcilia Siahaan.  “Setuju sekali dengan pembukaan (kembali) seminari. Semoga Tuhan merestui upaya ini dan semakin tumbuh panggilan hidup membiara dan penggembalaan umat di kalangan remaja di keuskupan ini.” Katanya.

Menurut umat Paroki Keluarga Kudus, Pasaman Barat, Wardoyo Doyo Ningrat pembukaan seminari ini tepat sekali.  Menurutnya, tempat pembinaan bibit panggilan di kalangan kaum muda Katolik sangatlah dibutuhkan. Dengan adanya seminari di kelas Retorika di Padang menurut Renalto Haliman jelas mempermudah, karena calon seminaris tidak perlu bersusah payah ke tempat lain, di luar keuskupan yang lebih jauh lokasinya.

Ermita Dahliana selain sangat setuju dengan kehadiran seminari ini juga berharap semakin banyak imam yang melayani umat. Gereja jelas kekurangan tenaga imam. “Semoga semakin banyak kaum muda yang terpanggil menjawabi panggilan Tuhan sebagai gembala umat-Nya,” ujarnya. Menurut Aryo Darmono dengan adanya seminari di Padang akan lebih memudahkan perekrutan calon imam dari Sumatera Barat dan Riau. “Saya yakin, sebenarnya banyak anak-remaja yang berniat dan tumbuh keinginan sebagai calon imam.”

Mantan Dirdios KKI Keuskupan Padang, RD Pardomuan Benedictus Manulang juga memberikan dukungan penuh atas keberadaan seminari ini. “Idealnya, satu keuskupan mempunyai satu seminari yang nantinya dapat mempermudah proses menuju jenjang selanjutnya,” katanya. Ferdi Purba lebih jauh berharap kalau bisa di Padang juga Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STF) sehingga calon imam tidak harus ke Pematangsiantar atau ke Jawa lagi untuk belajar. “Selain lebih hemat dan ekonomis, para seminaris atau frater lebih mudah dan tahu situasi keuskupan-umat-wilayah keuskupannya sendiri.” Katanya.

Umat Paroki St. Maria A Fatima Pekanbaru, Marjaban Sinaga menyatakan pembukaan (kembali) seminari ini menjadi sejarah baru di Keuskupan Padang. Seminari sangatlah  penting sebagai usaha memfasilitasi panggilan generasi muda Katolik untuk menjadi imam.” Kepala SMP Maria Padang, Magdalena Elfrida Hutagalung menambahkan dengan adanya seminari, orang muda akan semakin mudah mengenal hal-ikhwal seminari dan kehidupannya dari dekat. Semoga kelak, dari dalam dirinya muncul keinginan menjadi imam.”

Nun jauh di pantai barat Pulau Siberut, Kepala Desa Simatalu, Kecamatan Siberut Barat, Kepulauan Mentawai, Stefanus Siribere menanggapi kabar pembukaan seminari, “Kehadiran seminari tentu akan membantu generasi muda Katolik lebih yakin dan mantap untuk masuk seminari. Tidak ada lagi keragu-raguan karena mesti menempuh pendidikan seminari di tempat yang jauh.”

Wakil Kepala SMA Don Bosco Padang, Sherli Sri Rejeki ikut berpendapat, “Saya mendukung sepenuhnya kehadiran seminari. Semoga dengan pembukaan kembali seminari, walau tidak ada jaminan pasti menghasilkan calon-calon tahbisan baru, namun setidaknya merupakan langkah pertama menuju arah hidup sebagai calon imam. Semoga Tuhan memberi kemudahan dalam langkah-langkah yang ditempuh sebelum pembukaan maupun saat seminari operasional.”

Seminari Bukan Jaminan

Analisis kritis disampaikan OMK asal Paroki Payakumbuh, Kevin Audrino Budiman. Kevin menyatakan setuju saja, namun pesannya  pembukaan seminari ini tidak menjadi tujuan akhir, melain­kan sebuah proses dalam ‘menjala’ para penjala manusia. “Membangun dan membuka seminari tidak serta-merta menjadikan jumlah panggilan otomatis bertambah! Sejarah mencatat, Seminari Maria Nirmala ditutup waktu silam karena sepinya peminat dan benih panggilan.” katanya.

Kevin menyebutkan, survey Center for Applied Research in the Apostolate (CARA) menemukan 7 dari 10 pria yang ditahbiskan pada tahun 2020 menghabiskan masa kecilnya di sekitar altar sebagai misdinar. “Sementara saat ini panti imam makin didominasi putri altar (yang tidak akan mungkin ditahbiskan menjadi imam). Konsekuensi logis dari kenyataan ini, para pria muda di waktu mendatang semakin jarang berinteraksi dengan altar dan semakin tidak tertarik dengan panggilan, karena memang benihnya tidak ditabur, diairi,  dan disiangi. Di sisi lain, promosi panggilan semakin tidak pernah tampak, selain dalam “wujud” kolekte aksi panggilan sekali setahun,” tandasnya.

Menurut Kevin, para pastor (imam) di paroki adalah wujud promosi panggilan paling nyata! Namun, sejauh pengamatannya saat ini amat jarang ditemui pastor yang mau menampilkan identitas keimamannya, misalnya dengan setia menggunakan jubah atau roman collar, apalagi mengenakan jubah. “Bila sesuatu yang kelihatan saja lalai menggalakkannya, apalagi sesuatu yang tidak kelihatan. Belum lagi, selama ini, sepengetahuan saya tidak ada komisi panggilan di Keuskupan Padang,” ungkapnya.

Pentingnya sosok atau figur seorang imam juga diamini Paulus Gindra Joni Osman. Warga Paroki St. Maria Bunda Yesus-Padang yang juga mantan seminaris Maria Nirmala Padang (1980-1982) mengakui ketertarikan pada figur seorang imam ikut turut mendorongnya ‘bergabung’ ke seminari setamat SMP Maria Padang. “Semasa saya, ada 30-an seminaris. Rektornya  P. Frans Halim. Sebagai seminaris, kami menjalani semua jadwal kegiatan, mulai bangun hingga tidur. Ditanamkan sikap disiplin menjalani rangkaian jadwal harian. Setiap sore, ada renungan harian setelah membaca Kitab Suci dan ditempelkan di majalah dinding (mading) seminari. Sejalan waktu, jumlah peminat masuk seminari berkurang hingga akhirnya ditutup,” kenang Paulus.

Mendengar kabar pembukaan kembali seminari, Paulus pun menyambut baik. Menurutnya seminari memang diperlukan, tetapi harus siap dengan kemungkinan masih sedikitnya peminat. Bisa jadi karena baru mulai maupun pengaruh perkembangan zaman dengan berbagai tawaran nilai yang menggoda kalangan muda. Upaya promosi panggilan calon imam paling efektif adalah teladan hidup yang ditampilkan para imam (pastor) itu sendiri, serta kedekatan relasinya dengan anak-anak, remaja, dan kaum muda. Itu merupakan daya tarik tersendiri. Selain itu tentu membutuhkan dukungan dan dorongan orangtua. Di masa kini, saya melihat kurangnya dukungan orangtua agar anaknya menjadi imam,” tukas Paulus mengakhiri. 

Paian Gultom
Peran Penting Orangtua

Bibit panggilan menjadi imam dan biarawati tidak bisa serta merta tumbuh sendiri. Tetapi bisa diusahakan, salah satunya oleh para orangtua di dalam keluarga. Menurut pandangan umat Kring St. Elisabet, Paroki St. Paulus Pekan­baru, Paian Gultom,  orangtua memegang peranan penting dalam proses panggilan. Sedari usia dini, orangtua bisa memperkenalkan kehidupan seorang imam dan suster kepada anak-anaknya.  “Doa, harapan, dan cita-cita saya dan istri mohon kemurahan Tuhan berkenan memakai putera dan puteri untuk dipakai menjadi pelayan-Nya. Semoga Tuhan menjaga dan meme­lihara serta berkenan terwujudnya janji tersebut.” katanya.

Ayah sepasang anak dari pernikahan dengan Roida Siringoringo ini menambahkan pihaknya membiasakan anak-anaknya berdoa sebelum makan dan tidur. Mereka juga memperkenalkan dan membiasakan anak-anaknya mengenal dan menyanyikan lagu-lagu rohani. Kepada anak-anaknya, Paian juga menyampaikan bahwa orangtua bahagia dan bangga bila ada anaknya menjadi pelayan Tuhan; sebagai  pastor atau suster. “Meskipun yang kami tempuh ini terlihat kecil, remeh, saya yakin akan menumbuhkan bibit-bibit panggilan dalam diri mereka. Kami siap dan rela. Terserah kepada Tuhan sembari berharap anak-anaknya kami menjawab panggilan-Nya,” katanya

Wiyanton, S.Pd.

Mantan seminaris yang kini menjadi guru SD Yos Sudarso Selatpanjang, Riau, Wiyanton, S.Pd. (32) mengungkapkan pendapatnya bahwa seminari adalah jantung keuskupan untuk mempersiapkan dan ‘mencetak’ generasi muda Katolik menuju imamat suci. Kehadiran seminari menjadi suatu roh yang menggerakkan iman umat untuk mempersembahkan terbaik anak-cucu lelaki untuk menjadi ‘mempelai Gereja’. Wiyanton pernah menjadi seminaris tahun pertama di Seminari St. Petrus- Aek Tolang, Sibolga dikarenakan di Keuskupan Padang tidak memiliki seminari menengah. “Saya dan teman-teman Praunio Padang harus ‘menumpang’ di seminari menengah di keuskupan lain. Maka, kehadiran seminari di Keuskupan Padang tentulah menambah semangat orang muda yang tertarik masuk seminari.”  katanya. 

Wiyanton yakin umat Keuskupan Padang mendukungnya.  Oleh sebab itu, para pastor di paroki perlu mensosialiasikan ke stasi-stasi, minimal memperkenalkan hal-ikhwal seminari dan proses studinya. Bisa juga, sesekali ada aksi panggilan untuk pengenalan calon imam Keuskupan Padang. Dengan promosi ini agar generasi muda tertarik menjadi imam. Kalau kini minim aksi panggilan, bisa jadi karena ketiadaan seminari menengah setara SMA. Promosi panggilan juga bisa melalui dunia maya (medsos) yang sangat bisa mempengaruhi orang-orang muda.

Sepengetahuannya,  ada akun Facebook Praunio Padang yang dikelola oleh para frater Keuskupan Padang. Melalui media ini, harus sering update kegiatan atau atau membuat konten kesaksian yang menarik agar semakin dikenal.  Namun, ujar Wiyanto mengakhiri, “Daya tarik yang kuat  adalah kedekatan batin para religus dengan orang muda/remaja. Perjum­paan, perbincangan, pergaulan, dan kedekatan para pastor dan religious (suster dan bruder) dengan anak-anak, remaja, dan orang muda dalam kesempatan kunjungan dan pelayanan ke stasi-stasi akan menjadi promosi ampuh”. 

Sebagai mantan seminaris di Seminari Maria Nirmala (1980-1984), setelah merantau dan kini pulang kampung menjadi warga Paroki Keluarga Kudus Pasaman Barat, Yohanes Golong Sukar­diana mendo­rong para orangtua – yang mem­punyai anak lelaki mendukung anaknya masuk seminari.

Karena Padang tidak ada asrama (putra) un­tuk siswa dan mahasiswa, Golong berharap,se­lain menghidupkan semi­nari, Keuskupan Padang mendirikan semacam “Pesantren Katolik” untuk membantu generasi muda memperoleh pendi­dik­an formal, pendi­dik­an iman Katolik, untuk menciptakan kader Katolik yang berkarakter bagi Gereja maupun negara. Mungkin berat bila keuskupan mendiri­kan bangunan seperti pesan­tren Nadhalatul Ulama (NU) di Jawa. Bisa model lain, dengan memaksimalkan asrama siswa dan mahasiswa milik keuskupan. “‘Pesantren Katolik’ yang saya maksud adalah memperbanyak asrama, dengan menerima murid, dari daerah setempat maupun luar daerah tinggal di asrama.

Upaya ini sangat membantu keuskupan dalam rangka penanaman nilai-nilai Kristiani kepada mereka. Maka, dapat dibuat asrama siswa atau mahasiswa Katolik dalam satu kompleks – seperti kost-kostan – namun ada fasilitas pertemuan, doa, olah raga, dan sebagainya. Para penghuni kompleks bebas memilih sekolah atau berkuliah di perguruan tinggi mana pun. Memang, bakal ada masalah seputar manajemen dan pendanaan. Tapi, menurut saya, pasti ada solusi,” tandas Golong. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.