Salam Belas Kasih, Umat Allah yang terkasih dan para pembaca GEMA yang budiman, ketika saya mulai minggu-minggu pertama sebagai Uskup Padang sambil belajar mengenal dan memahami banyak­nya pekerjaan dan persoal­an yang harus ditangani, ada pertanyaan dari umat yang kesan saya agak terlalu cepat diungkapkan pada saya: “Apa kira-kira prioritas utama Bapa Uskup?” Spontan saya menjawab, barangkali bidang formasi imam karena saya datang dari dunia pembinaan para seminaris Xaverian di Jakarta.

Minat dan Perhatian pada Panggilan Imam

Ternyata, perhatian pada panggilan imam adalah salah satu catatan penting dalam Kesimpulan dan Rekomendasi oleh Tim dari Universitas Indonesia untuk Musyawarah Pastoral (Muspas) II Keuskupan Padang. Muspas tersebut sejatinya dilaksanakan pada pekan ketiga bulan Novem­ber 2019, tetapi batal karena Mgr. Martinus dipanggil menghadap Tuhan pada 19 November 2019. Poin keempat dari kesimpulan tersebut menyatakan bahwa “Di Bidang Liturgi, paling kurang optimal adalah kecenderungan panggilan (minat anak muda) untuk menjadi pastor di kalangan umat Paroki.” Oleh karena itu sebagai rekomendasi, “Perlu ada upaya lebih, dalam bentuk strategi khusus meningkatkan panggilan di wilayah Keuskupan Padang.”

Rumusan akhir pertemuan Imam Keuskupan Padang pada 19-22 November menyebutkan bahwa penyebab minimnya minat pang­gilan itu adalah “kurangnya pro­mosi panggilan, situasi dan kondisi anak muda zaman sekarang (pengaruh pergaulan), perkem­bang­an zaman yang begitu cepat (berpengaruh positif tapi juga negatif terhadap mental orang muda), kurangnya dukungan dari keluarga. Solusi atau upaya yang bisa dibuat, antara lain perlu ada­nya komisi panggilan, perlu dilak­sanakan promosi dan aksi pang­gilan, pastor bisa terlibat menjadi guru di sekolah-sekolah, pastor selalu mengenakan jubah pada acara-acara penting di paroki, melibatkan lebih banyak atau meng­utamakan anak-anak putera dalam tugas misdinar, kesaksian hidup imam di tengah umat khu­susnya di tengah anak muda, perlu adanya kelompok doa untuk pang­gilan, perlu adanya seminari me­nengah di keuskupan, memberikan perhatian kepada keluarga dan anak yang terpanggil, mengadakan tema panggilan… dan seterusnya. Untuk poin ini saja dari hasil survei optimalisasi pelaksanaan Tugas Liturgi yang mencapai 52,6% itu kita masih tidak boleh berpuas diri. Pekerjaan rumah kita rupanya masih amat banyak.

Memang gayung bersambut, se­iring dengan dukungan dan minat yang begitu besar, baik dari para pastor dan frater-frater pra-Unio, maupun dari umat sendiri, rencana pembukaan kembali Seminari Nirmala akan menjadi satu reali­sasi impian kita sejalan dengan rekomendasi Muspas II tadi. Kita berterima kasih kepada Pastor Robledo Sanchez Guadaluppe, SX Kepala Paroki St. Fransiskus Assisi, Padangbaru, beserta Dewan Pastoral Parokinya yang setia me­me­lihara gedung, ruangan, serta lapangan dalam kompleks Semi­nari Keuskupan Padang dulu yang namanya “Seminari Nirmala.” Pastor Nasarius Rumairi, SX da­lam tulisan biografinya yang me­narik tentang Uskup Emeritus, Mgr. Pius Datubara OFM Cap. menulis, “Seminari Nirmala, menghadap ke Jl. Sudirman (seka­rang), ke arah laut, tempat mata­hari terbenam. Nirmala berarti yang bermakna bersih, murni, terbebas dari semua ketidakmur­nian, suci tanpa cacat, tiada keku­rangan. Itulah makna yang ditiup­kan ke dalam kata “nirmala” itu. Di samping gedung Seminari Nir­ma­la ada sebuah lapangan sepak bola juga…” (Horas, hlm. 87).

Tentu bangunan untuk rumah pembinaan saja tidak cukup untuk menjawab PR kita bersama. Soal pertama dan terutama dalam pem­binaan calon imam sesung­guhnya adalah pembinanya yang harus disiapkan sebaik-baiknya. Un­dang­an dari Komisi Seminari KWI bekerjasama dengan Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia (KKI) untuk mengadakan Kursus For­ma­tor tahun 2022 mau kita sambut sebagai satu penyelenggaraan ilahi. Kita berterima kasih kepada RD Prian Saut Doni Dongan Malau yang langsung bersedia ketika diminta untuk memper­siap­kan diri sebagai formator. Kita berterima kasih juga kepada RP Alfonsus Widhiwiryawan, Ketua Komisi Kepemudaan yang baru menggantikan R.D. Riduan Naiba­ho dengan minat dan perhatiannya yang istimewa akan kaum muda dan panggilan.

Seminari Nirmala sebagai Satu Kebanggaan

Seminari Nirmala yang ber­ada di samping belakang Gereja St. Fransiskus Assisi, Padangbaru, sempat menorehkan satu keka­yaan panggilan yang unik dalam sejarah Gereja Keuskupan Pa­dang. Tidak hanya itu, bahkan lebih luas lagi Keuskupan Agung Medan. Barangkali banyak orang yang tidak tahu bahwa Uskup Emeritus Pius Datubara, OFMCap. pernah me­ngen­yam pendidikan di sana.

Beberapa cuplikan peng­akuan beliau yang dituturkan seca­ra jenaka kepada Pastor Nattye, SX itu bisa membantu kita untuk mengenang kembali riwayat Seminari Keuskupan Padang ini. “Selama tinggal dan belajar di Kota Padang (saat itu masih seperti desa besar yang ramai), di Seminari Nirmala, pada tahun 1950-an, situasi serba kekurangan secara menyeluruh di Indonesia. Produksi pangan masih sangat rendah, produksi padi hanya sekali setahun dan kadang-kadang gagal panen juga. Makanan kurang dan ditambah dengan semangat mati raga pula yang menjadi salah satu alasan kurang gizi. Kami anak-anak seminari makan secukupnya tetapi aku masih sering lapar juga. Hampir setiap hari, hidangan makanan untuk kami para semi­naris, lauknya itu hanya dengan daun pucuk ubi saja yang dimasak dengan santan, yang dalam istilah orang Padang atau Minang, ‘Masakan rendang daun singkong’, selalu ada kunyitnya juga.

Selain itu, manfaat yang paling utama adalah untuk mengobati atau menjaga perut, terutama mengatasi perut kembung. Maka, anak-anak seminari sering juga mendapat nama baru yaitu, si kunyang, artinya yang kuning. Wajah anak-anak seminari kekuning-kuningan karena sering makan kunyit dalam makanan. Sedangkan lauk ikan, entak ikan dari sawah atau ikan kering, ikan basah dari laut, hanya dihidangkan sekali seminggu yaitu malam Jumat. Dalam situasi itu ada kesulitan tetapi aku tidak mundur dan pulang. Semuanya bisa diatasi. Semuanya indah saat itu. Mana ada orang Batak yang mundur hanya karena sedikit lapar. Tidak ada itu! Untung aku orang Batak pula.” (Horas, hlm. 94)

“Selama aku tinggal dan belajar di seminari itu, di negeri Urang Minang, semua mata pelajaran dan agenda kegiatan harian tidak menjadi masalah bagiku. Artinya pelajaran itu aku pahami dan kerjakan dengan baik. Seperti yang dikatakan dalam ungkapan yang indah bahasa Latin di seminari, “Age quod agis,” lakukanlah dengan sebaik-baiknya. Segala yang berharga dan bernilai, perlu dilakukan sebaik-baiknya. Aku menyukai acara doa setiap pagi dan malam karena kami sudah terbiasa berdoa di rumah kami bersama ayahku yang katekis itu. Dalam Misa pagi di kapel, aku juga ikut ambil bagian. Aku ikut membaca Kitab Suci, memimpin doa dan mendapat giliran memimpin lagu-lagu selama perayaan Ekaristi Kudus itu. Kadang-kadang aku ingin mengenakan atau mencoba jubah para pastor itu. Tetapi jubah para pastor itu terlalu besar dan panjang, karena jubah itu, ukuran para Pastor Belanda dan Italia. Jubah itu melewati kepalaku karena badanku kecil. Setelah itu aku tertawa dengan teman-temanku. Aku memang membayangkan kalau kelak aku akan menjadi pastor atau imam sedangkan istilah “menjadi uskup” sama sekali tak terbayangkan saat itu.” (Horas, hlm.95)

“Di Seminari Nirmala, kami juga diajari menghargai dan menghormati guru-guru kami. Bahkan kami para seminari itu tidak kalah dalam kreativitas dan membuat peringkat berdasarkan kegemaran mata pelajaran yang diajarkan. Kreativitas kami itu membutuhkan keberanian, sedangkan musuh terburuk bagi kreativitas adalah keraguan diri.

Syukur kepada Tuhan, masih ada orang muda yang ingin tidak sekedar tampil beda, tetapi mereka mengisi panggilan hidupnya dengan pergi bersekolah dan belajar di seminari untuk menjadi imam. Karena keteraturan, keuletan dalam belajar, para seminaris itu pintar-pintar dan cerdas.

Seminari Nirmala selalu juara dalam ujian di Kota Padang saat itu. Meski kami para seminaris sering berlapar-lapar tetapi Tuhan juga memberikan pencerahan kepada kami. Kami boleh lapar tetapi otak kami jalan dengan normal. Aturan cukup ketat. Tentu saja ketat, bagi orang yang berasal dari desa, yang hidup seenaknya. Bahkan kami anak seminari dikira anak panti asuhan, karena gedung Seminari Padang ini adalah bekas panti asuhan. Akhirnya dengan prestasi para seminaris ini, penduduk dan tetangga kami mulai mengakui keunggulan para seminaris. Kami seminaris bukanlah sembarang pelajar di kota Padang, kami adalah calon imam.” (Horas, hlm.97-98)

“Aku belajar di Seminari Nirmala Padang selama 4 tahun. Pengalaman di seminari itu sangat mengesankan karena mayoritas anak seminaris berasal dari Sumatera Utara, orang Batak pula. Aku bangga menjadi bagian dari seminari zaman itu. Tetapi perlu dikatakan bahwa setiap orang itu adalah pangeran pada zamannya. Zaman kami ya, kamilah pangerannya. Namun aku selalu ingat, “I know our dreams will never die.” (Horas, hlm.101). “Telah menjadi dokumen sejarah bahwa Seminari Menengah Nirmala Padang, dipindahkan ke Pematangsiantar, Jl. Lapangan Bola Atas, No. 24, Pematangsiantar yang hampir rampung pada tahun 1955. Alasan utama pemindahan itu adalah para Seminaris hampir semuanya berasal dari Sumatera Utara dan suku Batak pula. Para pastor dan uskup pada masa itu sudah memikirkan dengan matang, yang disertai dengan doa mohon pencerahan dan Roh Kudus… Penyediaan tenaga pengajar dari para pastor lebih bervariasi daripada di Seminari Padang. Namun, aku harus akui bahwa Seminari Nirmala, Padang itu, tetap bagian dari kenangan indah dalam sejarah panggilanku.” (Horas, hlm. 104).

Tantangan bagi Kaum Muda Keuskupan Padang

Jika dengan kondisi minim pada masa itu saja, Seminari Nirmala begitu dibanggakan oleh Opung Pius Datubara, malu kita rasanya kalau membiarkan saat ini warisan sejarah yang indah itu dibiarkan terbengkalai. Saya mengajak banyak anak muda kita di Keuskupan Padang ini yang masih berani untuk “bermimpi” … merelakan diri menjadi pelayan-pelayan Gereja di masa depan. Marilah kita sambut panggilan dari Tuhan untuk bangkit dan keluar dari bayang-bayang kecemasan dan ketidakpastian di masa depan dengan menanggapi undangan-Nya untuk menjadi “penjala manusia”, untuk menjadi roti yang dipecah-pecah bagi orang lain, menjadi garam yang larut dan memberi rasa pada komunitas dan paguyuban dalam masyarakat, menjadi terang yang membawa orang lain memuliakan Allah Bapa ketika melihat kesaksian hidup kita. Tuhan memberkati. *** 

+ Mrg. Vitus Rubianto Solichin

1 Komentar

  1. Terima kasih Mgr. Vitus Rubianto untuk memikirkan dan memberi perhatian pada Formasi Imam dan calon-calonnya. Seminari adalah Jantung Gereja (OT. 5). Dan formatio calon imam yang baik diharapkan menghasilkan imam-imam yang kompeten, rendah hati, suci, dan melayani dengan hati.
    Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.