Pembukaan kembali seminari di Padang pasti membutuhkan banyak energi. Juga penuh tantangan, karena banyak hal yang harus direncanakan, dipertimbangkan, dan dijalankan. Seminari (menengah) memang tepat menjadi tempat penempaan remaja Katolik untuk lebih terbuka dan peka terhadap panggilan Tuhan. Suburnya panggilan adalah akibat (hasil) nantinya, tujuan utamanya adalah mendidik para remaja dengan disiplin kehidupan yang pasti lebih terarah dan teratur, namun tetap fleksibel terhadap kreativitas. Seminari ini diharapkan dapat mendidik anak-anak dan remaja menjadi lebih manusiawi dan menghayati ajaran Katolik yang universal. Para seminaris pun mampu menjadi garam dan terang di tengah masyarakat. 

Pembukaan seminari ini tidak lepas dari partisipasi umat terutama di Keuskupan Padang, lewat ide, saran, bantuan materi/pendanaan. Umat yang terpanggil juga dapat menjadi relawan. Perihal relawan ini, saya usulkan kepada pihak berwenang, agar membuka kesempatan para seminaris mendapatkan sharing pengalaman dan ‘pembinaan tambahan” yang langsung dan riil dalam kehidupan — semacam program live-in di rumah umat yang berbeda paroki asal. Para seminaris juga mendapat kesempatan memimpin diri sendiri dan teman dalam aneka kegiatan ekstrakurikuler dan meminimalkan peranan pendamping. Bobot pembinaan untuk seminaris ditambah agar mereka lebih mengasah kemampuan kepemimpinan (leadership)-nya.

Sementara itu, dari kalangan para imam diharapkan ada perhatian khusus menjaring para peminat untuk masuk ke seminar ini. Diakui, berkembang pendapat yang menyatakan ‘jawaban’ atas panggilan dari kaum muda di Keuskupan Padang sangat minim dan kering. Untuk mengangkat dan mendongkrak kemauan kaum muda menjadi gembala umat tidak luput dari hal utama, yakni kehidupan para pastor yang selalu diteladani. Sosok atau pribadi dapat menjadi daya tarik maupun daya tolak utama! Supaya menjadi daya tarik, para imam harus menjadi teladan umat, khususnya di kalangan muda.

Selain itu, upaya animasi lewat program dan SY aksi panggilan Seksi Panggilan Dewan Pastoral Paroki (DPP) mesti terus digalakkan. Kami melakukan animasi berupa kunjungan dan pertemuan dengan orang muda di stasi, tujuannya menggiatkan kesadaran akan pentingnya panggilan bagi remaja dan kaum muda. Kami pun memperkenalkan beberapa tarekat atau kongregasi religius. Hasilnya? Ada dua remaja putera masuk Tunas Xaverian. Satu masih bertahan, satu lagi keluar dan berkuliah di tempat lain. Tidak masalah! Setidaknya, ada upaya animasi di kalangan kaum muda. Hasilnya tidak bisa instan! Syukur bila kelak dapat disalurkan ke seminari (keuskupan) dan ingin menjadi calon imam diosesan. ***

Maria Magdalena Huiniati
Seksi Panggilan Dewan Pastoral Paroki St. Paulus, Pekanbaru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.