Saya terharu dan bersyukur kepada Tuhan mendengar Bapa Uskup Vitus Rubianto Solichin yang membuka seminari di Keuskupan Padang. Tanpa kebera­daan seminari, kita bakal kesulitan menganimasi anak muda untuk menjadi calon imam. Akan muncul pertanyaan: “Di mana atau tempat seminari bagi calon imam?”  Jawaban atas pertanyaan ini, selama ini selalu menunjuk seminari di luar Keuskupan Padang, terutama di Pematangsiantar atau Sibolga.

Tidak ada ‘bukti fisik’ seminari yang dimaksud untuk diberikan kepada anak muda.  Paling bacaan atau foto (gambar). Padahal, remaja dan kaum muda – rindu melihat dan mendapati bukti fisiknya. Mereka hanya mendapat kisah atau cerita mengenai kehidupan seminari yang abstrak.

Tentu, akan berbeda situasinya bila anak muda/remaja melihat seminari dengan mata kepala sen­diri. Upaya animasi atau promosi panggilan (prompang) pun akan jauh lebih mudah dan konkrit, kare­na mereka dapat melihat, meng­amati, merasakan sendiri perjum­paan dengan para seminaris, mengenali bentuk pembinaannya. Maka, pembukaan kembali semi­nari ini merupakan terobosan yang sangat bagus. Percakapan mengenai panggilan hidup sebagai calon imam menjadi kurang mantap dan berarti bila tidak jelas tempat pendidikannya.

Saya tidak me­mung­kiri adanya pandangan pesi­mis seakan tidak mudah mendorong dan mengajak kaum muda sebagai calon imam di tengah gempuran arus modernisasi dan perubahan tata nilainya. Namun, saya berpan­dangan, dalam konteks panggilan hidup sebagai calon imam dan kelak menjadi imam tidaklah luput dari kerja sama empat elemen, yakni: individu (anak muda) ber­sangkutan, orangtua, guru aga­ma Katolik, dan imam. Sungguh luar biasa hasilnya bila empat elemen ini berpadu dan bekerja sama.

Bila orangtua tidak mendukung cita-cita anaknya masuk seminari dan menjadi imam/pastor kelak, dapat menggagal­kan rencana mulia tersebut. Seandainya telah ada bibit panggilan dalam diri seorang kaum muda, tetapi para imam tidak menyapanya, membahas, berdis­kusi, dan menyokong panggilan hidup tersebut; dapat menurunkan semangat dan keinginan kaum muda itu sebagai calon imam. Begitupun dengan guru agama Katolik kalau tidak memberikan dukungan. Karena anak muda yang tidak puas dengan keterangan orangtuanya akan bertanya pada guru agamanya.

Saya sampaikan empat elemen pendukung ini juga berdasarkan pengalaman anak saya, yang boleh dibilang punya niat dan tekad kuat sebagai calon imam sedari kecil, bahkan sebelum bersekolah. Kini, anak saya sedang dalam Tahun Orientasi Rohani (TOR) dan me­nem­puh pendidikan di Seminari St. Markus-Pematangsiantar, Sumatera Utara.  Sejak kecil setiap kami tanya, “Mau jadi apa kalau besar nantinya?” Jawabannya konsisten, “Menjadi  pastor!” Begitu­pun tatkala ditanya pendam­ping Bina Iman Anak (BIA). Perjumpaannya dengan pastor selalu membekas dan berkesan pada dirinya. 

Kalau pun imam/pastor menye­mai panggilan hidup lewat animasi, tetapi tidak didukung orangtua untuk merawat semaian bibit pang­gilan itu bakal tidak mudah tumbuh dalam sanubari anak muda bersang­kutan. Hanya dianggap sebagai pesan Hari Panggilan semata. Kalau anak bercita-cita menjadi imam, selayaknyalah orangtua mendukung penuh. Jangan patahkan semangat dan cita-citanya.   Saya selalu ingat pesan almarhum Pastor Yosef Carminatti, SX di tiap Minggu Panggilan, “Jangan mendoakan anak orang lain agar menjadi imam/pastor! Tetapi, doakanlah anakmu  sendiri agar menjawab panggilan sebagai pekerja di kebun anggur Tuhan!”

Setelah mendengar rencana pembukaan seminari lewat acara “Ngobrol Bareng” (Ngobar) Channel Youtube Komisi Komsos Keuskupan Padang, November 2021, saya segera menyebarluaskan hal tersebut kepada peserta didik saya dan anak muda yang dikenal. Saya pun memperkenalkan seluk-beluk seminari dan hal-ikhwal kehidupan di seminari.  Saat muncul tanggapan mereka belum punya arah panggilan sebagai calon imam, saya tetap dorong mereka coba terlebih dulu dengan tetap mendoakan rencana mulia tersebut.

Jangan ‘mematahkan’ cita-cita menjadi imam dengan ujaran, “Apa untungnya menjadi imam?” Bukanlah hal baik, sebaiknya mendoakan mereka yang mau menjadi calon imam! Sebagai seorang guru, harus mampu memberi contoh. Tatkala ada anak muda mau menjadi calon imam, guru pun bisa berperan dengan cara memberikan pengertian dan pemahaman pada orangtua agar turut memberi dukungan, sebab adakalanya orangtua meraguka cita-cita anaknya. Guru memberikan wawasan pada orangtua: anak masuk seminari bukanlah suatu hal yang buruk atau jelek!

Saya yakin, untuk merealisasi­kan rencana pembukaan seminari pada Juli 2022, tentu sudah dilaku­kan sejumlah langkah persiapan. Dalam rangka rekrutmen para calon seminaris dapat dilakukan melalui para pastor paroki sekeus­kupan melalui mimbar gereja. Guru agama Katolik pun, para pengurus rayon/lingkung­an/kring dapat menyampaikan hal ini kepada umat di parokinya, terkhusus kalangan remaja Katolik.

Sebuah pertanyaan reflektif: Apa jadinya bila Gereja tanpa ada imam/pastor? Yang pasti, tidak ada yang memimpin Perayaan Ekaristi dan pelayanan sakramen lainnya. Kalau tidak prompang  dan pendi­dikan bagi calon imam, dipastikan dalam jangka waktu tertentu dan seiring waktu pula, tidak ada atau jumlah imam berkurang – semen­tara jumlah umat bakal terus ber­tambah. Siapa yang akan melayani? ***

Adrianus Anto Zalukhu
Umat Paroki St. Maria Bunda Yesus, Padang. 
Orangtua Seminaris TOR  Santo Markus Pematangsiantar, Sumatera utara. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.