Pengalaman sakit kawazaki yang dialami anak pertamanya pada tahun 2004 menjadi ‘pintu masuk’ kesadaran dan pertobatan Leonardy Martheo (46). Pria kelahiran Padang 27 Juli 1975 ini menjadi lebih peduli dengan Tuhan dan sesamanya. Sebelumnya tidak demikian. Di tengah kesibukkannya mencari nafkah, suami Tjoa Kim Ling (Vera) ini aktif di lingkungan Gereja dan perkumpulan sosial. 

Sebelum kejadian sakit anaknya,  Leo mengaku kurang peduli atas kehadiran dan campur tangan Tuhan dalam hidupnya. Sejak kejadian itu, ayah sepasang anak ini merefleksikan Tuhan telah menegur dirinya lewat orang yang dikasihi.  “Tuhan sayang dan sangat baik pada saya. Tuhan ingin saya berubah, berbalik dan kembali kepada-Nya. Maka Tuhan memakai anak saya untuk menyadarkan saya,” katanya. 

Leo berkisah, saat anaknya sakit itu ia seakan kehabisan akal dan cara, angkat tangan, mambana.  Rasanya berat sekali beban hidup yang harus ditanggungnya.  Alumni SMA Murni Padang (1993) ini mengaku ia  dan istri sangat terpukul dan ketakutan dengan penyakit kawazaki yang diidap anaknya (Cheryl Pricilla Martheo) kala itu. 

Pengalamannya mengurus pengobatan anaknya sungguh luar biasa mendebarkan dan mengkhawatirkan.  Anaknya mesti bolak-balik menjalani pemeriksaan. Diagnosa penyakit yang tepat baru didapatnya  setelah pemeriksaan dokter keempat. Saat itu, anaknya tidak bisa bicara dan sangat lemah, demam hingga 40 derajat Celsius. 

Antibiotik pun tidak mempan dan mesti masuk ICCU RS Mitra Keluarga-Kelapa Gading, Jakarta. Anak mesti mendapat obat immunoglobin dengan dosis sesuai berat barat. Biaya obat mahal. Satu ampul mencapai lima juta Rupiah dan harus memakai empat atau lima ampul. Setelah mendapat lima ampul dalam dua hari, kondisi kesehatan anaknya mulai membaik. Sehat seperti semula, bisa makan dan tertawa.

Di saat-saat berat itulah, wiraswastawan peralatan dan perlengkapan listrik yang menggemari hobi melanglang buana ini merasa beroleh pertolongan Tuhan. Dukungan keluarga besarnya sangat dirasakan. “Puji Tuhan, proses demi proses yang saya lalui dengan menggetarkan hati terlewati. Apalagi nama penyakit ini pun aneh dan baru.  Saya ada janji tersendiri dalam batin untuk melayani Tuhan dan sesama,” ungkapnya. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.