Romo Kebet mengamati pepohonan  yang tumbuh subur  di halaman pastoran. Perhatian Romo Kebet tertuju pada pohon mangga yang tumbuh lebih besar dibandingkan pepohonan lain. Pohon mangga itu rimbun, sedang berbunga, beberapa putik calon buah terlihat.

Di saat sedang asyik memandangi pohon mangga itu, beberapa orang muda mendatanginya. Romo Kebet mengajak mereka untuk bersama-sama mengamati pohon mangga itu.  Romo Kebet mengajak mereka mengamati pohon itu dari pucuk daun paling atas hingga pokok pohon  paling bawah. Berulang kembali dari bawah hingga ke ujung atas. Demikian hingga berulang kali. 

Romo Kebet lalu menjelaskan bahwa banyak hal menarik yang bisa dipelajari dari pepohonan ini.  Dari batang pohon bagian tubuhnya yang  tidak kelihatan adalah akar.  Meski tidak kelihatan,  sesungguhnya akar terus bekerja. Bahkan bekerja dalam diam. Akar musti gesit mencari sumber makanan dan air,  bahkan menyimpannya.

Akar bekerja siang dan malam, tiada henti,  tanpa mengenal lelah.  Akar  terus menembus celah-celah di dalam tanah, menantang kerasnya bebatuan. Tidak peduli rintangan. Akar rela berteman dengan mikroba-mikroba kecil yang kotor dan menjijikkan.

Dalam diamnya, akar tidak iri hati dan tidak bertanya: “Kapan saya seperti bunga yang dipuji karena warna-warni dan wangi?”  Seperti buah yang manis sehingga membuat bangga ?” Kapan seperti dedaunan hijau menyejukkan?”  “Kapan seperti batang dan dahan yang kokoh sehingga dipuji puja?”

“Pelajaran atau filosifi apa yang bisa kita ambil?” tanya Romo Kebet.  Tak satu pun dari mereka memberikan  jawaban. Lalu Romo Kebet menjelaskan. Tubuh manusia ibarat pohon. Hidup manusia  juga ibarat pohon. Masing-masing bagian memiliki peran dan tanggung jawab. 

Akar selalu menumbuhkan bukan melenyapkan. Akar  membuat pohon kokoh berdiri. Kita bisa belajar dari akar yang selalu memberi, berbagi, dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. Akar tidak kelihatan namun tetap memberikan yang terbaik dan memberi manfaat. Kebanyakan orang sering hanya menilai apa yang terlihat, tetapi lupa atau mengabaikan di baliknya.

Kebanyakan orang hanya melihat akibat, tetapi lupa menganalisa sebabnya.  Kebanyakan orang mengandalkan kekuatan dirinya, lupa bahwa Allah yang tidak kelihatanlah yang memampukan. Karena tiba-tiba gerimis turun, mereka bubar dan pun bergegas lari berteduh di teras pastoran.  (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.