Hari Minggu Biasa VIII (27 Februari 2022)
Sir. 27:4-7; Mzm 92:2-3, 13-14, 15-16;
1Kor. 15:54-58; Luk 6:39-43

SEORANG MURID bertanya kepada gurunya, 

“Guru, mengapa Tuhan memberikan kepada manusia dua mata dan dua telinga?” 

“Supaya manusia banyak melihat dan banyak mendengar,” jawab sang guru. 

Si murid bertanya lagi, “Mengapa hanya satu mulut, Guru?”

“Supaya tidak banyak bicara,” jawab sang guru singkat.  

Percakapan singkat antara guru dan muridnya tersebut amat dalam maknanya.  Setiap orang, setiap hari berbicara. Sesama makhluk hidup saling berkomunikasi. Manakah yang lebih banyak keluar dari mulut: perkataan kutipan positif atau negatif?  Berita bohong atau warta kebenaran? Ucapan kebencian atau sapaan kasih? Berkat atau kutuk?

Hubungan dengan sesama dipengaruhi oleh yang keluar dari mulut.  Pepatah bijaksana mengatakan: “Lidahlebih tajam dari pedang!”  Ucapan seseorang memang dapat menyakiti sesamanya,  efek rasa sakitnya lebih dari goresan pedang.

Apa yang diucapkan dan keluar dari mulut kita sebenarnya berasal dari hati. Kita tidak dapat menebak isi hati seseorang, tetapi bisa menduganya dari yang diucapkannya. Untuk itu Yesus mengucapkan: “Karena yang diucapkan, meluap dari hati.” (Luk 6:45). Orang yang berpikir positif, akan selalu mengatakan hal positif.  Berpikir positif akan membiarkan seseorang melakukan segala sesuatu lebih baik daripada pikiran negatif.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini mengarahkan kita untuk selalu berpikir positif kepada Tuhan dan sesama. Penulis Kitab Putra Sirakh mengatakan “jangan memuji sebelum ia berbicara”. Mengapa demikian? Sang penulis memulainya dengan mengatakan bahwa ketika seseorang mengayak sesuatu yang tertingal adalah sampah (ampas)  saja. Artinya hal yang baik akan terpisah dari hal yang tidak baik. Hal yang sama terjadi di dalam diri manusia. Dikatakan bahwa manusia bisa diukur dari bicaranya. Mengapa berbicara menjadi alat ukur kualitas hidup manusia? Karena dengan berbicara orang dapat melihat isi hati orang itu. Maka tepat sekali kutipan ini: “Jangan memuji seseorang sebelum ia berbicara, karena justru itulah batu ujian manusia.” (Sir 27:7).

Bahasa sebagai alat komunikasi menjadi alat ukur diri Dalam Kitab Amsal dikatakan bahwa orang yang baik menunjukkan bahwa bahasa bagaikan sumber hidup (Ams 18:4). Setiap kutipan yang keluar dari mulut memiliki daya transformatif bagi manusia untuk menjadi lebih baik lagi. Tuhan Yesus pernah berkata: “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan, meluapkan dari hati.” (Luk 6:45). Apakah Anda adalah seorang yang berpikir positif?

Tuhan Yesus dalam Injil hari ini memberi tanda-tanda. Orang buta tidak dapat menuntun orang buta karena keduannya akan jatuh ke dalam satu lubang yang sama. Orang-orang yang selalu mengembangkan positif akan melihat segala sesuatu yang membahagiakan, yang memberi optimisme kehidupan. Orang-orang yang berpikir negatif akan bertindak negatif dengan menyebarkan berita hoax dan rasa pesimis menguasai hidupnya. Orang-orang yang berpikir negatif bersikap, selalu melihat selumbar dalam mata saudaranya dan lupa bahwa ada balok di matanya. Pikiran positif yang harus dimiliki adalah mengubah cara pandang terhadap sesama.

Hal lain yang ditegaskan Tuhan Yesus adalah: “tidak ada pohon yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon yang dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.” (Luk 6:43-44). Kemampuan untuk berpikir positif itu seperti pohon. Pohon baik tentu buahnya baik.

“Orang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hati yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan, meluapkan dari hati.” (Luk 6:45). Kata-kata yang keluar dari mulut menggambarkan suasana batin. Hati bersih menghasilkan perilaku baik.  Hati kotor mengotori pikiran dan menghasilkan perilaku kotor. Santo Paulus dalam bacaan kedua mengatakan bahwa Tuhan Allah telah memberi kemenangan kepada kita berkat Yesus Kristus.  Pikiran positif membawa kita ke jalan keselamatan. Pikiran negatif membuka pintu kebinasaan.  ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.