Dari Kunjungan Uskup ke Paroki Santo Petrus Rasul Kotabatak

KOTABATAK – Bapa Uskup Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX melakukan kunjungan pastoral ke Paroki Santo Petrus Rasul Kotabbatak, 20 – 23 Januari 2022. 

“Hari ini diberkati gereja berupa bangunan, namun Gereja utama adalah umat Allah. Seberapa luas pun batasan bangunan yang diresmikan hari ini, sesungguhnya tidak akan pernah cukup untuk menampung umat Allah. Contohnya, hari ini, dapat dilihat banyak umat yang duduk di luar gereja. Gereja ini masih terlihat sempit. Maka patut disyukuri, umat Allah semakin berkembang dari waktu ke waktu,” ucap Mgr. Vitus saat pemberkatan dan peresmian gereja Stasi St. Fransiskus Assisi-Indahkiat, Kamis (20/1).

Dalam pemberkatan yang berlangsung dalam Perayaan Ekaristi ini Bapa Uskup didampingi Pastor Paroki P. FX Tri Priyo Widarto, SCJ. Umat sangat antusias mengikuti perayaan ini hingga di luar gedung gereja baru. Tiga puluh menit sebelum Perayaan Ekaristi dimulai, Bapa Uskup bercengkrama dan berkenalan dengan umat. Misa Kudus yang dimulai tepat tengah hari, didahului arakan-arakan dari rumah seorang umat, Ranto Gultom, yang berjarak 50 meter dari gereja.

Perarakan berlangsung khidmat. Di gapura komplek gereja, Ketua Stasi Indahkiat,  Jusri Manullang  mengalungkan karangan bunga kepada Bapa Uskup. Selanjutnya, Bapa Uskup memberkati gereja dengan mereciki air suci sekeliling bangunan gereja dan menggunting  pita di pintu. Setelah Bapa Uskup membuka pintu dan memasuki gereja, umat berarak masuk ke dalam ruangan. Setelah semua umat masuk dan bersiap mengikuti Misa Kudus, Bapa Uskup memberkati salib, altar, dan mimbar. 

Jelang akhir perayaan, pada bagian pengumuman, Jusri mengisahkan sejarah keberadaan dan pendirian bangunan gereja.  Menurut Jusri stasi  diawali tahun 2000. Umat perdana sebanyak enam keluarga Katolik. Mereka mendirikan gereja di atas tanah sumbangan keluarga Marpaung di Jalur Panjang. Saat itu, wilayah ini bagian Paroki St. Paulus Pekanbaru. Tahun 2015, umat dan pengurus stasi meminta perpindahan lokasi gereja. Bangunan gereja saat itu hampir roboh dan lingkungan sekitar pun kurang kondusif.  Setahun kemudian (2016), pembangunan baru gereja dimulai. “Banyak  orang berhati baik dan tulus untuk memuluskan pembangunan gereja ini. Banyak donator yang berbaik hati, sehingga bangunan gereja selesai. Kini, terdapat 14 keluarga Katolik. Saya yakin  akan semakin berkembang,” ungkapnya.

Selain ketua stasi, pada kesempatan beberapa pihak juga menyampaikan sambutan, yakni: ketua panitia pembangunan, tim pemborong/donatur, Kepala Susteran FCJM, Pastor Paroki St. Paulus Pekanbaru, dan tuan rumah Pastor Paroki St. Petrus Rasul-Kotabatak. Bapa Uskup Vitus mendapat kesempatan terakhir menyampaikan sambutannya. 

Hal menarik disampaikan yang disampaikan P. Priyo selaku pastor paroki adalah tugas umat stasi belum dan tidak akan pernah selesai.  Pembangunan gereja sudah selesai, tetapi stasi belum memiliki aula untuk menunjang berbagai kegiatan umat. “Maka masih ada pekerjaan rumah yang harus dipikirkan lagi. Saya melihat lahan kiri bangunan gereja sangat tepat untukpendirian aula. Ternyata, pemilik tanahnya adalah Susteran FCJM,” ucap P. Priyo bercanda.

Usai perayaan di dalam gereja,  dilanjutkan ramah tamah diawali dengan santap siang bersama. Pada kesempatan hiburan, Bapa Uskup, para pastor dan suster menari tor-tor dengan penuh semangat dan suka cita hingga menjelang senja. Selanjutnya, rombongan Bapa Uskup menuju Susteran FCJM yang terdapat di stasi ini untuk santap malam sebelum kembali ke pusat paroki. Sebelum ke stasi Indahkiat, Bapa Uskup berkunjung ke Perguruan Swasta Assisi-Kotabatak yang berada sebelah kiri gereja paroki. 

Usai perayaan di dalam gereja,  dilanjutkan ramah tamah diawali dengan santap siang bersama. Pada kesempatan hiburan, Bapa Uskup, para pastor dan suster menari tor-tor dengan penuh semangat dan suka cita hingga menjelang senja. Selanjutnya, rombongan Bapa Uskup menuju Susteran FCJM yang terdapat di stasi ini untuk santap malam sebelum kembali ke pusat paroki. Sebelum ke stasi Indahkiat, Bapa Uskup berkunjung ke Perguruan Swasta Assisi-Kotabatak yang berada sebelah kiri gereja paroki. 

Kunjungi Stasi Terjauh

Dari kedua,  Jumat (21/1) kegiatan Bapa Uskup diawali dengan perjalanan jauh,  sekitar dua jam menuju stasi terjauh di paroki ini Stasi St. Yohanes-Mandau 48. Dalam perjalanan, Bapa Uskup dan rombongan melewati beberapa gereja di stasi yang sedang dalam proses pembangunan. Rombongan Bapa Uskup singgah sejenak, 10-15-an menit untuk berdoa di gereja. Pertama kali, rombongan singgak di gereja Katolik Stasi St. Laurensius-Sukaramai, kemudian di gereja Katolik Stasi St. Theresia Avilla-Danau Lancang. Perhentian ketiga di gereja Katolik Stasi St. Yosep-Mandau 40. Di Stasi Mandau 40, bangunan gereja telah siap diberkati dan diresmikan penggunaannya. Seharusnya gereja stasi masuk daftar pemberkatan gereja oleh Bapa Uskup, karena di Stasi Mandau 48, juga berlangsung penggalangan dana, maka Stasi Mandau 40 mengalah. Gereja baru akan diberkati dan diresmikan pada kunjungan Bapa Uskup berikutnya. 

Setibanya  di Stasi Mandau 48, Bapa Uskup disambut oleh umat. Prosesi perarakan dimulai dari rumah salah satu umat terdekat dengan gereja. Perarakan diiringi tarian tor-tor yang dibawakan Orang Muda Katolik (OMK) Stasi St. Agustinus-Kasikan. Pemberkatan gereja stasi ini berlangsung dalam Perayaan Ekaristi. Bapa Uskup didampingi lima imam (Paroki Kotabatak dua orang, Paroki St. Ignatius dari Loyola Pasirpengaraian dua orang, dan satu imam dari Paroki St. Maria A Fatima Pekanbaru); serta seorang diakon.  Usai Misa Kudus, dilanjutkan santap siang bersama dan acara hiburan – termasuk kegiatan lelang untuk menggalang dana. Bapa Uskup Vitus setia mengikuti acara hingga sore hari lalu kembali ke pusat paroki. 

Setelah mengunjungi dua stasi, hari ketiga Sabtu (22/1) kegiatan Bapa Uskup di pusat stasi untuk membekali para Prodiakon, Dewan Pastoral Paroki (DPP), pengurus Gereja dan lingkungan, dan pelantikan Dewan Pengurus Cabang  (DPC) Wanita Katolik RI Cabang Kotabatak. Pembekalan berlangsung di Aula Paroki. Pada kesempatan ini, Bapa Uskup memberikan beberapa materi bertajuk “Pelayanan Sebagai Panggilan dan Visi Misi Uskup (Keuskupan Padang)”.   Di hadapan peserta pembelakan, Bapa Uskup menegaskan,  “Menjadi pengurus, pertama-tama bukanlah menjadi orang penting dan mengatur banyak hal, melainkan menjadi pelayan umat.”  Usai pemaparan materi, berlangsung dialog. 

Materi bertajuk “Spiritualitas Pelayanan” disampaikan P. Edy Prasetyo, SCJ. Materi ketiga seputar sinode disampaikan P. Joko Windiatmoko, SCJ. Materi terakhir “Pedoman Pastoral Paroki, Tugas Prodiakon dan Sistim Administrasi Paroki” disampaikan Pastor Paroki Kotabatak. Usai pemaparan terakhir ini, peserta mengadakan gladi bersih untuk pelantikan esok harinya, Minggu (23/1). Di sela-sela waktu, Bapa Uskup menyempatkan diri ‘bertandang’ ke Biara Susteran FCJM bersama Parokus dan P. Edy sekaligus santap malam bersama. 

Puncak kunjungan perdana pastoral Bapa Uskup berlangsung di gereja pusat paroki, Minggu (23/1) pagi. Umat dari berbagai stasi mengikuti Perayaan Ekaristi yang dipimpin Bapa Uskup beserta sejumlah imam. Dalam kesempatan ini berlangsung pelantikan Prodiakon, DPP, Pengurus Lingkungan, dan DPC Wanita Katolik RI Cabang Kotabatak.

Pada salah satu bagian sambutannya, Bapa Uskup menyatakan, “Selama tiga hari berada di paroki ini telah bolak-balik melewati gereja paroki, namun belum diperkenankan pastor paroki memasukinya sekedar melihat bagian dalam gereja ini. Parokus menyatakan supaya ada kejutan! Inilah pertama kali saya masuk dan melihat ‘isi’ bangunan gereja ini.”

Bapa Uskup menyambung, “Ternyata, setelah masuk, saya merasa tidak asing dengan semua yang ada. Salib di atas sana adalah peninggalan Xaverius. Pembuat patungnya ‘tulang’ (sebutan hubungan keluarga dalam adat Batak, berarti paman) saya.”  Pada kesempatan ini Mgr. Vitus sekaligus berpamitan untuk kembali ke Padang untuk memimpin sejumlah pertemuan. 

Usai Misa Kudus, panitia menyediakan waktu kepada umat berfoto bersama Bapa Uskup dan Pastor, dilanjutkan makan siang bersama. Pada kesempatan sama, Parokus P. Priyo mengungkap, “Jika Mgr. Vitus yang berbelas kasih menyebarkan ‘virus berbela rasa’ karena penulisan Vitus dan virus hanya berbeda ‘r’-nya saja, maka P. Edy meninggalkan ‘virus suka cita’.” Ternyata, acara kebersamaan ini sekaligus perpisahan resmi dengan P. Edy Prasetyo, SCJ sebagai pastor rekan Paroki Kotabatak. P. Edy mendapat penugasan berkarya di tempat baru. (Magdalena Nurlia Manullang & Lusia Silaban/hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.