Hari Prapaskah II (13 Maret 2022)
Kej. 15:5-12, 17-18, Mzm. 27:1, 7-8, 9abc, 13-14;
Flp. 3:17-4:1 (panjang) atau Flp. 3:20-4:1 (singkat);
Luk 9:28b-36

SECARA MANUSIAWI Abraham punya alasan untuk bimbang ketika Tuhan berkata,  “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar…  (Kej. 12:2),  ….coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya… demikianlah nanti keturunanmu.”   (Kej. 15:5). Mengapa demikian?

Karena hal  itu terjadi saat Abraham tidak lagi muda dan Sara isterinya yang juga sudah tua tentu telah mengalami menopause. Secara ilmu kedokteran tidak ada kemungkinan memiliki keturunan.  Sara pun tertawa ketika mendengar janji Tuhan tentang hal itu, tetapi pada akhirnya mereka melihat janji Tuhan tersebut digenapi.  “Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa orang tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya.”   (Kej.  21:2).

Penantian yang dijalani Abraham,  bukanlah penantian yang singkat, tetapi amat sangat lama. Bukan saja membosankan, tetapi juga bisa membuatnya frustasi, karena janji itu tak kunjungan dating bisa menjadikannya kehilangan harapan.  Sebenarnya Abraham punya alasan untuk berhenti berharap, namun ia tetap memegang teguh janji dan percaya Allah sanggup melakukan segala perkara dan tidak ada rencana-Nya yang gagal,  termasuk dalam hal memberi keturunan.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan  Tuhan  Yesus yang menampakkan kemuliaan-Nya di atas gunung. Peristiwa itu mengundang decak kagum ketiga murid, yaitu: Petrus, Yohanes, dan Yakobus yang menyertai-Nya.  Peristiwa itu sekaligus mendatangkan pengharapan besar di dalam diri ketiga murid itu. Pengharapan itu adalah mulia atau mukti  bersama Tuhan Yesus. Apalagi mereka merasa dan faktanya adalah murid yang dekat dengan Tuhan Yesus.

Dikisahkan,  Petrus dan murid lainnya sedang tertidur. Ketika terbangun, mereka melihat Yesus dan kedua orang itu dalam kemuliaan-Nya. Petrus mengungkapkan rasa bahagianya kepada Yesus. Oleh karena itu, ia berinisiatif untuk mendirikan tiga kemah untuk mereka. Tak lama kemudian, awan menaungi mereka. Ketakutan pun datang menghampiri. Lalu, terdengarlah suara, “Inilah Anak-Ku yang Ku pilih dengarkanlah Dia.  Ketika suara itu terdengar, tampaklah Yesus sudah tinggal sendiri.

Mungkin, kita juga sama seperti Petrus yang ingin berhenti dan mendirikan kemah kala melihat kemuliaan Allah. Kita ingin tinggal diam dan menikmatinya saja. Padahal, pandangan seperti ini keliru. Untuk bisa melihat kemuliaan Yesus, kita harus terus bekerja melayani-Nya. Kemuliaan itu dinyatakan bagi orang yang hidup di dalam-Nya. Ketika melihat kemuliaan dan merasakan kemuliaan Tuhan, buanglah hasrat “mendirikan” kemah di sana. Pekerjaan sudah menunggu untuk diselesaikan. Tinggalkanlah zona nyaman, tidak bisa berdiam diri, apalagi bermalas-malasan. Kita harus mencair seperti garam dan bersinar di tengah kekelaman sehingga Yesus semakin dimuliakan.

Kemuliaan adalah buah dari kesetiaan dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawab. Akan tetapi, jangan lupa, di tengah kesetiaan dan kerja keras itu terkadang tekanan kerap datang silih berganti. Tentu saja, hal ini bisa menyeret kita pada rasa bosan dan sumpek. Dalam tugas pelayanan-Nya, Yesus serta para murid mungkin pernah mengalami perasaan serupa. Oleh sebab itu, jangan pernah berhenti berharap dan setia seperti Abraham dan Sara. Jangan pernah berhenti berbuat, sebab kemuliaan tidak akan datang sendirinya, tetapi mesti diperjuangkan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.