Pengalaman saya sekitar lima tahun “menemani”  oma-opa  di Panti Jompo Wisma Cinta Kasih  (WCK)  Padang dapat  disimpulkan mereka membutuhkan  sapaan dan perhatian.  Panti Jompo ini adalah milik Keuskupan Padang, pengelolaanya diserahkan kepada para Suster Kongregasi SCMM.  Penghuni WCK saat ini  sebanyak 43 orang. Di WCK terdapat 17 lansia laki-laki dan 26 lansia perempuan. Umumnya, telah berusia di atas 65 tahun. Dominan berumur 70-80 tahun.  Petugas WCK saat ini  9 perawat, 1 tata usaha (1), penanggung jawab umum (1), masing-masing 2 orang untuk petugas dapur, kamar cuci, dan kebun, dan cleaning service dari perusahaan outsourcing (1).

Sejauh pengalaman dan pengamatan saya, para opa-oma merasa sangat senang dan gembira bila ada kunjungan anak-cucu maupun tamu yang tidak dikenali. Biasanya, para tamu mengajak mereka bernyanyi, berpantun, dan sebagainya. Bagi oma-opa, hal ini menjadi hiburan dan mendatangkan kebahagiaan tersendiri. 

Kepedulian dan perhatian dari berbagai pihak tersebut merupakan ‘tanda kasih’ tulus. Kedatangan atau kunjungan mereka menjadi penghiburan tersendiri, di tengah kesepian para lansia ini. Mereka sangat gembira juga di kalan menerima makanan atau bingkisan. Pada setiap ada kunjungan tamu, terlihat wajah gembira dan ceria dari oma-opa. 

Sebagai Pelaksana Harian,  WCK mene­rima dan menyambut dengan suka cita pihak-pihak yang memberikan perhatian kepada lansia. Sejumlah pihak tersebut datang untuk melayani dan memberi kegembiraan bagi oma-opa dan para pera­wat/pen­dampingnya. Bila oma-opa bahagia, kami pun ikut berbahagia juga. Sebagai pendamping,  perawat mestilah sabar menghadapi oma-opa dengan berbagai sikapnya. Biasanya, kami menarik nafas terlebih dulu atau minum air dingin agar bisa tetap sabar kalau ada yang “rewel”. Karena faktor usia, mereka pikun, sehingga mungkin tanpa sadar melontarkan kata-kata semaunya – tidak peduli baik atau jelek. Begitupun kalau sedang tidak enak perasaan, ada juga yang meronta, berteriak-teriak, ngamuk, suka melemparkan barang. Namun, kalau semua itu dihadapi dengan sabar dan senyum, mereka juga mau dibujuk, bahkan dirayu bila sedang ngambek. Kondisi seperti itu sudah menjadi  “makanan harian” petugas WCK.  

Terkait perhatian keluarga dari para opa-oma sikapnya bermacam-macam. Ada anggota keluar­ganya (anak-cucu) dan saudara-saudarinya  yang care – peduli dengan rutin berkunjung. Ada pula yang sebaliknya, seperti lepas tanggung jawab. Berulang kami kami telepon pun tidak datang. Menghadapi hal demikian, kami berusaha untuk positif thingking saja, mungkin karena domisili mereka jauh dari WCK. Atau bisa juga, karena keadaan ekonomi keluarga yang kurang mampu sehingga tidak bisa datang. 

Saya pribadi merasakan, para op-oma ini berharap bisa berkomunikasi dengan anak cucunya. Meski terkadang tidak nyambung dalam percakapan, oma-opa sungguh merindukan/kangen mendengar suara anak-anaknya. Dengan mendengar suara anak dan cucunya saja  terobati kerinduan mereka. 

Terkadang, saya melihat ada opa-oma yang menangis sendirian.  Saat ditanya alasannya mau bicara dengan anak atau cucunya. Kami usahakan, hanya saja kadang tidak terhubung saat kontak telepon dilakukan. Kalaupun terhubung, terkadang anak atau cucu merasa tidak nyambung dalam percakapan dengan opa atau omanya. Kami berharap, walaupun tidak nyambung, dengarkan saja cerita dari mereka. Dalam percakapan, saya sering mendengar  pada umumnya opa-oma ini mendoakan anak-cucu atau kerabatnya berada dalam keadaan sehat dan bisa bekerja dengan baik serta nasihat lainnya. Anak-cucu hendaknya memahami kondisi opa-omanya  yang mulai banyak lupa dan pikun.  Sebagai anak-cucu dan kerabat hendaknya mampu bersabar saat menghadapi orang yang berusia lanjut, tua bahkan pikun. Akan sangat menyedihkan bila opa-oma ini mendapatkan  bentakan dari anak-cucunya. Kalau terjadi hal demikian,  mereka akan menangis. 

Kami melayani para lansia ini tidak sendirian. Setiap hari Kamis, ada Misa Kudus dari pastor Paroki St. Fransiskus Assisi Padang. Setelah itu dilanjutkan Bersama-sama bernyanyi-nyanyi lagu rohani. Kegiatan rohani harian di WCK, setiap sore, jam 5, ada Doa Rosario maupun Doa Koronka. Sebelum pandemi, kelompok Doa Koronka hadir dua kali seminggu di WCK. Begitupun pada hari Minggu, saya yang memimpin. 

Kalau ada orang atau kelompok/organisasi  berkunjung ke WCK umumnya mengajak para lansia bergembira dengan bernyanyi atau game-game ringan. Bisa dipastikan kalua ada kunjungan opa-oma akan senang sekali. Hal itu tampak dari wajah mereka. Pandemi Covid-19 membuat segalanya berubah. Sebelumnya, siapa saja bebas berkunjung ke WCK. Kami tidak membatasi kunjungan, kecuali saat/jam mandi atau tidur.   Kelompok/organisasi di Padang yang rutin mengunungi penghuni WCK, misalnya Wanita Katolik RI, lingkungan/rayon,  Komunitas Sant Egidio (KSE) Padang (saat Natal). Ada juga pribadi atau perorangan yang berkunjung.  ***

Sr. Ivana Pangalila, SCMM
Pelaksana Harian Panti Jompo Wisma Cinta Kasih (WCK) Padang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.