Asam lambung adalah zat asam yang terdiri dari kalium klorida, natrium klorida, dan asam klorida. Asam yang diproduksi organ lambung sebanyak 3 – 4 liter per harinya ini berfungsi mencerna makanan dan enzim pencernaan untuk memecah protein. Asam lambung bersifat korosif sehingga dapat membunuh bakteri dan berisiko merusak lapisan pelindung lambung. Untungnya, lambung atau perut manusia dilengkapi lendir yang menutupi dinding perut.

Normalnya, pH asam lambung berkisar antara 1 – 3. Bila lambung menghasilkan jumlah asam yang terlalu banyak, gangguan lambung pun terjadi. Pasalnya, menyebabkan aliran balik asam lambung atau asam lambung yang naik ke kerongkongan. Aliran balik asam ini adalah bagian normal dari pergerakan sistem pencernaan. Itu sebabnya, kondisi yang juga disebut refluks asam lambung ini tidak dapat dikatakan sebagai penyakit, melainkan sebuah gejala.

Asam lambung naik bukanlah penyakit, tetapi gejala dari penyakit tertentu. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja, terutama orang yang mengalami gangguan pencernaan yang berkaitan dengan lambung.

Tanda dan gejala asam lambung naik, seperti: perut terasa tidak nyaman terutama saat kosong, mual dan muntah, sensasi terbakar pada dada, perut kembung, nafsu makan menurun, maag, berat badan turun tiba-tiba, dan diare.

Penyebab utama asam lambung naik yaitu produksi hormon gastrin yang berlebihan. Gastrin merupakan hormon yang diproduksi oleh sel ‘G’ pada lapisan lambung dan usus kecil bagian atas. Hormon ini berfungsi merangsang lambung untuk mengeluarkan asam lambung. Produksi gastrin yang berlebihan juga dapat dipicu oleh beberapa kondisi, antara lain:

  • Sindrom Zollinger-Ellison, yaitu penyakit langka yang menyebabkan tumor pada pankreas dan usus kecil atau disebut gastrinomas.
  • Infeksi Helicobacter pylori (H. pylori) – je­nis bakteri yang menyerang lapisan yang melindungi lambung. Bakteri ini juga merangsang lambung untuk menghasilkan lebih banyak asam pada beberapa orang belum diketahui apa penyebab pastinya.
  • Penyakit ginjal kronis – lebih mungkin mengalami asam lambung naik. Hal ini mungkin berkaitan dengan ginjal yang tidak berfungsi dengan baik tidak dapat membersihkan hormon gastrin sehingga memicu peningkatan kadar gastrin yang menghasilkan lebih banyak asam lambung.

Salah satu cara mendiagnosis asam lam­bung naik atau tidak dengan menjalani peme­rik­saan untuk mengukur jumlah asam di lam­bung. Pemeriksaan ini untuk melihat tingkat keasaman pada lambung. Prosedur ini dilaku­kan setelah pasien tidak makan selama bebe­rapa jam, sehingga cairan saja yang tersisa di perut. Selain itu, hormon gastrin juga mung­kin disuntikkan ke dalam tubuh untuk menguji kemampuan sel pada perut ketika melepaskan asam. Setelah itu, isi cairan lambung akan dikeluarkan dan dianalisis di laboratorium.

Volume normal cairan lambung adalah 20 – 100 mL dengan pH asam 1,5 – 3,5. Bila lebih dari itu, kemungkin seseorang meng­alami penyakit tertentu, seperti GERD atau sindrom Zollinger-Ellison. Untuk mengatasi asam lambung naik bisa dengan obat dan perubahan gaya hidup. Berikut ini beberapa cara antara lain:

  1. Antasida – salah satu obat yang banyak digunakan untuk menurunkan asam lam­bung. Obat-obatan yang dijual bebas di apotek ini biasanya mengandung sime­tikon, yaitu senyawa yang membantu mengeluarkan gas berlebih dalam tubuh.
  2. Obat H2 receptor blockers untuk meng­hambat sekresi asam lambung agar jumlahnya tidak banyak. Beberapa obat H2 blockers yang dipakai untuk mengatasi refluks asam lambung, meliputi: cimeti­di­ne, ranitidine, famotidine, atau nizatidine.
  3. Proton pump inhibitor (PPI) jauh lebih kuat mengatasi asam lambung. Jenis pro­ton pump inhibitor yang sering digunakan antara lain: lansoprazole, esomeprazole, rabeprazole, atau pantoprazole.
Pencegahan dan Pengobatan

Selain obat dan perawatan dokter, asam lambung naik bisa diatasi dengan pengobatan sendiri, antara lain:

  1. Makan lebih teratur. Disarankan tidak makan dua jam sebelum tidur karena bisa memicu asam naik ke tenggorokan saat tidur.
  2. Hindari makanan tertentu yang memicu asam lambung naik, yakni: coklat, soda, makanan yang digoreng, alkohol, daging dan susu berlemak tinggi, kafein, buah citrus, bawang bombay, dan tomat.
  3. Perhatikan porsi makan. Makan dalam porsi besar dapat memicu refluks. Agar tidak kelaparan, makanlah lebih sering, tetapi porsinya kecil.
  4. Kunyah sampai lumat sehingga membantu enzim pencernaan mengolah makanan.
  5. Berhenti merokok karena nikotin dari tembakau melemaskan otot sfingter esofagus bagian bawah, sehingga memungkinkan asam lambung kembali naik ke kerongkongan.
  6. Pilih makanan yang baik untuk asam lambung, antara lain: pisang, oatmeal, sayuran hijau, putih telur, jahe, daging tanpa lemak, dan lidah buaya.

(Sumber: Hallo sehat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.