Kehidupan anak kost terkadang diidentikan kondisi “serba keku­rangan”. Akan tetapi, bagi seba­gian orang, kondisi itu memicu sebuah “proses kreatif”. Inilah yang dialami Anania Hia, S. Hum (33). Di tahun terakhir kuliah­nya di Jurusan Sastra, Universitas Bung Hatta-Padang, gadis asal Sigapokna Kec. Siberut Barat, Kep. Mentawai ini berupaya mencari uang saku sendiri. “Saat itu, kiriman uang dari kampung sering telat, karena masalah transportasi dan tiada sarana transfer uang melalui bank di ibu kecamat­an,” katanya mengenang.

Iseng-iseng Ana membuat kerajinan flannel. Kebetulan teman kuliah dan di Legio Maria berminat. Akan tetapi, sulung enam bersaudara dari pasangan Hadira Hia (60) dan Kalta Salamanang (57) ini tidak melan­jutkan bisnis itu, beralih ke bisnis kuliner. Pada akhir 2018, Ana memulai bisnis kuliner membuat donat, sekarang membuat roti dan brownies. Tahun 2019, ia fokus di bisnisnya. “Saya menikmati (enjoy) di bidang ini. Saya merasa hobi ini menjadi sandaran kehidup­an kini dan mendatang.” tambah gadis 20 September 1989 ini.

Setahun bisnisnya berjalan pandemi datang. Bisnis Ana pun terimbas. Sebelum pandemi, karena melihat prospeknya bagus, Ana menyewa tempat namun terpaksa ditutup. Kini, bisnis kulinernya dilaksanakan dari rumah saja melalui online dan reseller. Semuanya dikerjakan sendiri, belum punya karyawan. Bisnisnya tak luput promosi online dan teman pelanggannya yang masih terkonsentrasi di Kota Padang. Rencana pengembangan usahanya ada, namun terkendala modal.

Di tengah kesibukan menjalankan usaha­nya, sejak 2018, Ana aktif dalam Paduan Suara OMK Magnificat Paroki Katedral Padang seba­gai menempati posisi suara alto. Tahun 2014, waktu masih kuliah, Ana bergabung di Legio Maria Presidium Ratu Surgawi Paroki Katedral Padang. Waktu kuliah agama Katolik, setiap mahasiswa wajib memilih dan mengikuti kegiatan di Gereja. Ia memilih Legio Maria. Merunut ke masa kanak-kanak dan remaja­nya, saat di kelas I-V SDN 16 Sigapokna belum ada kelompok BIA dan BIR di kampung. Saat kelas V-VI SD Fransiskus Ana tinggal di asrama Pastoran Sikabaluan, saat SMP di di asrama Pastoran Siberut. Setamat SMP Yos Sudarso 2 Siberut (2005), Ana meanjutkan ke SMA Katolik Xaverius Padang tamat 2008. “Kami wajib mengikuti kegiatan di asrama. Ketika pulang kampung (libur), wajib aktif dalam kegiatan Gereja,” kenangnya. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.