Hari Minggu Palma (10 April 2022)
MENGENANG SENGSARA TUHAN
Yes. 50:4-7; Mzm. 22:8-9:17-18A, 19-20, 23-24; Flp 2:6-11;
Luk 22:14-23:56 (Panjang) atau Luk 23:1-49 (Singkat)

MANUSIA BISA berubah pikiran dan perilakunya kapan saja. Orang baik, bisa menjadi penjahat. Orang jahat bisa menjadi baik. Hal seperti itulah yang terjadi pada penduduk di Yerusalem. Ketika Yesus memasuki kota Yerusalem, mereka menyambut-Nya sebagai Raja. Tetapi tidak lama kemudian, orang-orang yang sama berteriak-teriak menuntut hukuman mati atas diri Yesus. “Salibkan­lah Dia, Salibkanlah Dia! Jangan Dia melainkan Barabas! Biarkanlah darahnya turun ke atas kami dan ke atas anak-anak kami”.

Sidang pengadilan Sanhedrin mem­bawa Yesus ke hadapan Pilatus, gubernur Romawi di Yerusalem. Saat itu, Sidang Sanhedrin belum diperkenankan menja­tuhkan hukuman mati. Oleh karena itu, mereka meminta pemerintah Romawi untuk memutuskannya. Mereka men­dakwa Yesus dari ranah agama sampai politik. Pertama, menurut mereka, ajaran Yesus sesat dan menyesatkan. Kedua, mereka menuduh bahwa Yesus melakukan provokasi untuk melawan kaisar supaya tidak membayar pajak. Ketiga, Yesus telah berani menyebut diri sebagai raja.

Di depan Pilatus, mereka memfitnah Yesus tanpa bukti yang jelas. Namun, Pilatus tidak begitu saja mau meneri­manya. Sebab dalam pandangannya, Yesus terlihat sangat sederhana dan tidak menunjukkan ciri-ciri seorang pemberontak. Pilatus pun berkata, “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada orang ini, ” Artinya, pernyataan ini kebalikan dari dakwaan Sidang Sanhedrin.

Meskipun demikian, Pilatus tidak melepaskan Yesus karena berbagai tarikan kepentingan politik. Akhirnya, jalan aman baginya adalah melemparkan masalah ini kepada orang lain, yakni Herodes. Sebab secara hukum, Yesus masih berada di Yudea, wilayah kekuasaan Herodes. Pilatus pun cuci tangan. Cari aman demi jabatanya.

Apakah saudara pernah difitnah? Bagaimana rasanya? Pasti menyakitkan. Fitnah memang lebih kejam daripada pembunuhan. Walau faktanya demikian, namun masih saja ada orang yang tega memfitnah. Suka atau tidak suka, ranah agama selalu menjadi isu yang sangat sensitif jika dikaitkan dengan masalah politik.

Dari kisah dan renungan ini, mau tak mau ingatan banyak orang akan tertuju pada sosok mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok. Betapa sakitnya Ahok. Menurut banyak orang, kasus Ahok ini tidak luput dari intrik-intrik politik, segala cara digunakan untuk menjeratnya sampai mendekam di penjara. Terjadilah demikian! Bagi pendukungnya, tentu saja Ahok ditempatkan sebagai orang yang zolimi. Bagi penentangnya Ahok ditempatkan sebagai pecundang yang layak dimusnahkan. Dengan dipenjarakannya Ahok, bagi mereka seakan-akan sudah selesai segalanya. “Tuhan tidak tidur!” kata Ahok. Benar! Kini orang-orang yang dulu menzoliminya dengan segala fitnah dan tipu daya, menuai dari yang apa yang ditanamnya sendiri.

Sejarah menunjukkan, apabila agama bermain di pentas politik, agama akan digunakan sebagai alat politik. Idealnya, agama harus menjadi suluh pencerah dalam aktivitas politik praktis. Agama semestinya bisa membersihkan politik yang selama ini terkesan kotor. Agama bisa turut ambil bagian dalam mewujudkan kesejahteraan bersama. Dengan begitu, agama bukan lagi wadah untuk saling memfitnah dan menghina sesama. Menghindari fitnah memang tidak mudah, tetapi mari menghindar untuk tidak memfitnah. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.