BATUSANGKAR – Ketua Komisi Kepemudaan (Komkep) Keuskupan Padang Pastor Alfonsus Widhi Wiryawan, SX. bersama tim mendampingi rekoleksi Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santo Petrus Rasul Padang Panjang. Rekoleksi bertema: “Mencintai Gereja yang Seutuhnya” ini dilaksanakan Sabtu (22/1) dan Minggu (23/1). Peserta rekoleksi sebanyak 31 OMK berasal dari pusat paroki, stasi Batusangkar dan beberapa OMK perantau.

Dalam suasana santai, rekoleksi diawali dengan makan malam. Kerjasama dan solidaritas umat stasi terlihat ketika para orang tua menyediakan konsumsi selama acara ini. Ketua Stasi St. Paulus Batusangkar, Yohanes Situmorang atau biasa disapa Pak Vero dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan pertemuan perdana bagi OMK sejak masa pandemi Covid-19. Pak Vero berharap kegiatan ini menghasilkan rancangan–rancangan baru untuk kemajuan OMK di masa depan. Di harapkannya OMK di stasinya tidak ketinggalan dengan teman-teman OMK di wilayah lainnya. “Kiranya segala pembelajaran yang didapatkan dalam rekoleksi ini menjadi bekal dan pengalaman ke depan. Saya ingatkan juga agar OMK senantiasa membaur dalam setiap kegiatan sehingga tercipta persaudaraan sebagai saudara seiman,” katanya.

Pembina OMK Stasi St. Petrus Rasul Padang Panjang, Uli Sihotang menyatakan kegembiraannya atas kehadiran Tim Komkep Keuskupan Padang. Menurut Uli, kehadiran Tim Komkep di stasi ini sudah menjadi cita-citanya sejak lama dan baru terwujud hari ini (23/1). “Stasi kami ini kecil. Walaupun kecil gereja dan jumlah umatnya, sebagai Gereja kami ini besar. Jadi jangan dipandang secara fisiknya. Kepada OMK, saya berharap segala pikiran yang membuat stres ditinggalkan dulu. Sekarang bersenang-senang dulu mengenal Yesus dengan lebih dekat menjadi Gereja yang seutuhnya,” katanya.

Pastor Alfons mengawali rekoleksi ini dengan brainstorming. Setiap peserta diberi tugas menjawab pertanyaan, antara lain: Mengapa bangga menjadi Katolik? Mengapa bertahan menjadi Katolik? Apa kesulitan yang dialami sebagai orang Katolik? Peserta menjawab pertanyaan itu di dalam kelompok, kemudian perwakilan kelompok membacakan hasil diskusi kelompoknya kepada seluruh peserta. Terlihat para peserta begitu antusias menyimak materi yang diberikan. Pertanyaan dasar yang membawa peserta pada perefleksian yang mendalam dan juga menjadi pondasi untuk tetap setia mempertahankan iman katoliknya.

Sebagai peneguhan, Pastor Alfons menampilkan beberapa video tentang yang menegaskan bahwa Gereja Katolik yang benar. Sebagai Gereja yang benar, menurut Imam Misionaris Xaverian ini Gereja Katolik satu-satunya Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus, menyusun Alkitab bagi dunia, memiliki semua sakramen yang didirikan Kristus, garis kepemimpinannya dapat ditelusuri hingga Yesus dan para rasul-Nya, bersifat universal dengan kesatuan pengajaran dan iman.

Menyusun Proker

Hari kedua, Minggu (23/1) usai ibadat pagi, kegiatan diawali dengan dinamika kelompok atau games “Kata Uncle Jo”. Games ini selain melatih kekompakan juga untuk melatih konsentrasi peserta. Seluruh peserta serius menyimak instruksi yang diberikan agar bertahan sampai akhir permainan. Fokus kegiatan hari kedua rekoleksi menyusun Program Kerja (Proker) OMK setahun ke depan. Peserta dibagi 2 kelompok (OMK Stasi Batusangkar dan OMK Padang Panjang). Proker yang dibuat mesti mengandung unsur: tujuan, sasaran prioritas, inisiatif kegiatan, indikator pencapaian, anggaran, waktu pelaksanaan dan penanggung jawab.

Diskusi kelompok menyusun Proker ini menjelang pukul 10.30 WIB dihentikan. Seluruh peserta rekoleksi merayakan ekaristi bersama umat di Korem 032/Wirabraja Kodim 0307 Tanah Datar. P. Alfons memimpin perayaan ekaristi ini didampingi Pastor Rekan Paroki St. Petrus Claver Bukittinggi dan Paroki St. Petrus Rasul Padang Panjang, P. Antonius Sutatno, SX. Perayaan Ekaristi ini disiarkan langsung di kanal youtube Komisi Komsos K. Padang. Terlihat ruangan aula penuh dengan umat dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Adanya koor orang muda juga menambah suasana sukacita dalam misa ini.

Berbicara tentang orang muda, dalam homilinya, P. Alfons menyatakan bahwa banyak stigma negatif yang muncul saat orang muda berkumpul. Ada kecenderungan di kalangan orang muda yang merasa malu, rendah diri (minder), merasa tidak mampu, dan hal negatif lainnya. Seharusnya orang muda berkonsentrasi pada berkat, rahmat, kekuatan yang diberikan Tuhan. “Kalau tumpuan kita itu adalah kerapuhan, maka tidak akan berkembang dan akan semakin menjauh dari Tuhan. Kalau berkonsentrasi pada berkat dan rahmat akan mengarahkan pada perkembangan yang positif karena kita mau mengembangkan talenta yang diberikan Tuhan,” katanya.

Perihal stigma negatif, P. Alfons mengingatkan bahwa untuk mengubah stigma itu kata kuncinya adalah berani berkorban. Keberanian untuk bekerja keras dan menerima kerapuhan orang lain. Hal ini kecil dan sederhana namun membutuhkan pengorbanan. “Mari kita sama-sama memohon berkat Tuhan untuk berkomitmen, mempunyai kesungguhan, kerelaan untuk berkurban demi komunitas. Karena tidak mungkin sebuah keberhasilan tanpa pengorbanan,” tambahnya.

Terkait keberadaan Gereja dijelaskannya bahwa Gereja adalah keluarga dan tempat berbagi pengalaman kita. Gereja merupakan tempat berkonfrontasi dengan orang lain melalui pengalaman dalam mengikuti Tuhan. Ketika seseorang mengalami kesulitan, berani menyampaikan kesulitannya. Itulah sebabnya, lanjut P. Alfons, Komkep membuat tim perantau. Tujuannya agar para perantau khususnya orang muda memiliki tempat bercerita ketika mereka mengalami kesulitan. “Harapannya di antara tim yang terbentuk, ada narahubung. Tugasnya menjadi penghubung antara komunitas di stasi, paroki, keuskupan atau dengan paroki-paroki yang. Kita akan bersama-sama bergerak membangun Gereja dan membangun komunitas,” imbuhnya.

Usai Perayaan Ekaristi, peserta kembali ke aula stasi untuk makan siang dan melanjutkan diskusi kelompok menyusun Proker. Setiap perwakilan OMK Batusangkar, OMK Padang Panjang, dan Kelompok Perantauan mempresentasikan Proker setahun ke depan. OMK Batusangkar menyampaikan rencana kegiatan pendalaman iman 2 x seminggu, rosario bersama pada bulan maria, gotong royong 1 kali sebulan. OMK Padangpanjang mewacanakan kegiatan, Paskah bersama, kunjungan OMK antarparoki, mengadakan pelatihan petugas liturgi. OMK juga memaparkan rencana kegaitan seperti perantau mengikuti organisasi dan kepanitiaan, bakti sosial, dan “nongkrong bareng”.

Saat penutupan rekoleksi ini, Pak Vero berharap OMK benar-benar berkomitmen melaksanakan Proker yang disusunnya dan Komkep tahun depan bisa kembali ke Batusangkar untuk mengevaluasi kegiatan dan Proker OMK. Sementara itu P. Tatno menambahkan sebagai anak muda, harus semangat membangun Gereja. “Semoga usaha kita bersama sungguh-sungguh berguna bagi perkembangan OMK di manapun berada”, katanya.

Sebelum bubar dan foto bersama, OMK menyerahkan kenang-kenangan untuk Pastor Alfons. Kenang-kenangan yang terbungkus kertas kado itu langsung di-unboxing saat itu juga. Sebuah potret diri Pastor Alfons yang sedang duduk santai memandangi gadgetnya yang telah terbingkai indah dalam bentuk sketsa karya Lio. Setelah itu Pastor Tatno menutup kegiatan dengan doa dan foto bersama OMK Paroki St. Petrus Rasul, OMK Stasi St. Paulus Batusangkar, Tim Komkep Keuskupan Padang, dan Dewan Stasi Batusangkar sebelum peserta “sayonara” pulang ke tempat masing-masing. (bud) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.