PEKANBARU – Organisasi Massa (Ormas) dan Lembaga Katolik di Pekanbaru meng­adakan “konsolidasi” dihadiri Bapa Uskup Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX, Rabu (2/2).
Pertemuan bertema “Peranan Ormas dan Lembaga Katolik di Tengah Masyarakat” yang dilaksanakan di Aula Ex. TK St. Maria Pekanbaru ini mengung­kapkan sejumlah fakta soal keberadaan dan peran Ormas dan Lembaga Katolik. Pertemuan ini juga dihadiri para klerus, yaitu: Parokus dan Pastor Rekan Paroki St. Maria A Fatima Pekanbaru (Pastor Emilius Sakoikoi, SX dan Pastor Bonar Sinabariba, Pr.) dan Parokus St. Paulus Labuhbaru (Pastor Yulius Tangke Badaso, SX).

Peserta dari kalangan ormas Katolik masing-masing dengan perwakilan 10 orang, yaitu: Wanita Katolik RI, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Pekanbaru, VOX POINT DPD RIAU, Pemuda Katolik. Dari unsur lembaga Katolik hadir perwakilan dari Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik Daerah (LP3KD) Riau, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Riau dan Pekanbaru, Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Katolik Kementerian Agama Provinsi Riau, Seksi (Tim) Kerasulan Awam (Kerawam) Dewan Pastoral Paroki (DPP) St. Maria a Fatima dan St. Paulus Labuh­baru. Karena masih masa pandemi kegiatan secara offline, peserta wajib menaati protokol kesehatan. Acara ini disiarkan secara live streaming melalui chanel youtube Warta Komsos Pekanbaru.

Pada bagian awal pertemuan ini, sebagai pengantar Pastor Emil yang juga Ketua Komisi Kerawam Keuskupan Padang menyampaikan bahwa pihaknya menggagas pertemuan ini dan berharap Bapa Uskup menyirami para aktivis ini dengan spiritua­litas awam.

Menurut Imam Diosesan Padang ini ormas-ormas dan lembaga Katolik di wilayah Pekanbaru bergerak cukup dinamis dan maju bahkan tidak menutup kemungkinan akan muncul lagi kelompok atau ormas baru. Semuanya itu mesti di dalam semangat kerasulan awam, sebab orang yang hadir di sini yang bergabung dan aktif di dalam ormas atau lembaga Katolik adalah orang yang terpanggil bergerak di tengah kehidupan masyarakat untuk menghadir­kan Gereja; menghadirkan kerajaan Allah di dalam dan melalui tugas panggilannya masing-masing.

Selama masa pandemi Covid-19 lanjut Pastor Emil, ormas dan lembaga Katolik di Pekanbaru benar-benar telah bergerak bersama mewu­judkan sikap berbela rasa dengan masyarakat. Meski begitu, belumlah cukup pada waktu ini saja. “Kita masih akan terus maju ke depan untuk bersatu dan bersama menghadapi tahun-tahun politik. Kita mesti bergerak di sana. Kehadiran tokoh Katolik sebagai wakil rakyat harus dipikirkan bersama. Bagaimana tips-tips dan strateginya harus dipikirkan bersama. Inilah salah satu tujuan konsolidasi ini. Kita solid di dalam dengan satu tujuan untuk pembaharuan masyarakat. Kita buktikan bahwa umat Katolik mencintai negaranya, terlibat di dalam bernegara, tetapi juga kuat di dalam imannya. Inilah semangat 100% Katolik tapi 100% Indonesia.” tegasnya.

Organisasi Perlu Reorientasi

Dalam pemaparan materinya, Bapa Uskup tidak menekankan pada spiritualitas yang terlampau biblis atau dogmatis, melainkan lebih menekankan kepada roleplay, yaitu peranan utama ormas dan lembaga Katolik di tengah Gereja dan masyarkat. Menurut Mgr. Vitus setiap organisasi dan lembaga mengalami masa muda dan tua, sehingga setiap generasi harus terus menyusun kembali, mengubah dan kadang-kadang mesti mendefinisikan ulang keberadaan organisasinya dengan visi dan misinya yang up to date. Kenyataan dunia zaman seka­rang, tantangan dan situasi teknologi modern yang berbeda dari zaman dulu, setiap organi­sasi dituntut tampil tergantung dari zamannya.

Mgr. Vitus menambahkan keberadaan ormas dan lembaga Katolik menjadi baris terdepan dalam masyarakat. Para fungsio­naris dan anggotanya adalah garam dan terang dunia. Melalui wadah organisasi atau lembaga ini keberadaan umat Katolik bisa kelihatan di kancah kehidupan dan pergulatan warga masyarakat. Dengan moto “Pro Ecclesia et Patria” yang berarti satu komitmen yang tidak bisa dipisahkan bagi Gereja dan bangsa. Sebagai garam dan terang dunia juga harus sadar akan eksitensinya, walaupun itu tidaklah mudah. “Selalulah memberi warna dan makna. Walau kecil namun tetaplah dapat dirasakan, bahkan mungkin tidak kelihatan.” katanya.

Sebagai organisasi dan Lembaga yang menyandang nama Katolik, lanjut Bapa Uskup peran pertama ketika masuk dalam kehidupan masyarakat adalah memperkenalkan keanekaragaman kekristenan yang di dalamnya ada agama Katolik Roma. Gereja Katolik Romo berpusat di Roma dan tersebar di mana-mana, namun tetap kelihatan sebagai satu kesatuan yang utuh karena adanya hierarki. Ketertiban dan keteraturan tatanan di dalam Gereja yang dianggap tatanan suci ini juga harus kelihatan dalam ormas Katolik. Hierarki Gereja harus dijunjung, hargai, dan dihormati. Gereja Katolik Roma mempunyai konsili, sinode, konferensi para uskup, komisi, lembaga yang menjadi sebuah keunikan sekaligus kebanggaan yang harus diperkenalkan dan dibawa oleh ormas-ormas Katolik.

Lebih lanjut, Mgr. Vitus menegaskan bahwa kekatolikan tidak terletak pada kehebatan organisasinya. Organisasi adalah sarana untuk mendukung kekatolikan Gereja. Oleh sebab itu, kerangka dasar organisasi adalah untuk menunjang solidaritas dan rasa persudaraan seiman yang semakin universal. Yang terpenting juga orang-orang yang ada di dalamnya, maka konsolidasi harus terus diusahakan dan diperjuangkan. Iman akan Yesus Kristus harus tampak dan menjadi pendorong, motivator serta dasar kekatolikan.

Sebagai ormas dan lembaga Katolik harus sadar akan identitasnya, harus menjadi pewarta Kerajaan Allah melalui sikap-sikap dan tindakan di dalam kehidupan nyata dengan berlandaskan kasih. Seyogyanya pula harus memberikan keteladanan, menolak less do more dan lebih banyak tindakan daripada bicara. Belajar dari Konsili Vatikan II untuk menunjukkan bagaimana iman dinyatakan bahwa iman Katolik tidak buta, meraba tetapi tindakan nyata. Untuk mewujudkan iman Katolik itu harus menyadari sifat diri sebagai makhluk sosial, maka harus bertemu dengan orang lain, harus berkumpul dan menyatakan dirinya. “Kita mesti menunjukkan iman yang konkrit dengan “just do it”. Orang Katolik mesti terbuka untuk bekerjasama dengan yang orang lain membela kebenaran, keadilan, dan mewujudkan kesejahteraan bersama,” tegas Mgr. Vitus mengakhiri pemaparan materinya.

Ajang konsolidasi ini menjadi kesempatan bagi perwakilan ormas dan lembaga Katolik berbagai pengalaman sekaligus menungkapkan berbagai persoalan yang dihadapi. Ketua Pemuda Katolik Komda Riau, Lorensius Purba menyampaikan persoalan dan keluhan- keluhannya yang hampir dihadapi oleh semua organisasi. Lorensius menyebut saat ini telah terbentuk 6 komisariat cabang, dari 12 kota dan kabupaten di provinsi Riau. Terkait proses pengembangan ormas Pemuda Katolik di daerah atau paroki, tambah Lorensius adanya tidak satu pemahaman antara pastor paroki tentang keberadaan ormas Katolik. “Ada juga pastor yang kurang merima keberadaan ormas Katolik, padahal untuk pengembangan organiasi membutuhkan dukungan nyata dari hirarki Gereja yaitu Pastor.” katanya.

Menanggapi hal itu, Bapa Uskup mengatakan bahwa benar dukungan dari para pastor bisa bermacam-macam, karena terkait juga dengan pemahaman politis. Mesti diakui tidak semua pastor sadar akan hal ini, tidak semua pastor juga tertarik dengan masalah politik, sama seperti tidak semua umat tertarik dengan masalah politik. “Justru itulah tugas kita sekalian.” tegas Mgr. Vitus.

Tokoh awam Pekanbaru, Pandapotan Sitanggang berharap siraman rohani yang diberikan Bapa Uskup dapat menjadi bekal dan penyemangat para fungsionaris ormas dan lembaga Katolik. Pengakuan, pengungkapan, dan perwujudan iman ini harus betul-betul dilaksanakan dalam kehidupan sehari- sehari. Tahun ini pemerintah RI menetapkan sebagai Tahun Toleransi. Umat Katolik harus ambil bagian dengan semangat moderasi beragama. Maknailah cinta dari Yesus Kristus dalam menjalankan tugas- tugas di tengah kehidupan bermasyarakat. “Tantangan yang paling dekat ke depan, ormas Katolik harus menjadi pengawas dalam kebenaran, kejujuran, transparansi terutama pada saat Pemilu, supaya betul- betul terbebas dari radikalisme, fanatisme suku, agama, ras dan anti-anti yang lain.” katanya.

Apalagi ditahun ini pemerintah telah menetapkan tahun toleransi, maka kita ormas- ormas Katolik harus ambil bagian dengan semangat moderasi beragama. Keterlibatan kita dalam ormas merupakan tugas perutusan kita masing- masing yang harus dimaknai dengan cinta dari Yesus Kristus, karena dengan cinta kita bisa melihat perdamaian sehingga terciptalah kerukanan antar umat beragama ditengah kehidupan berbangsa dan bernegara. (Gita)  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.