Suatu sore di hari Selasa – kala senja menjelang kota Padang diguyur hujan lebat. Eman – sebut saja namanya begitu, mondar-mandir di kawasan Jalan Imam Bonjol Padang. Kala hujan semakin deras, basah kuyub badannya. Eman menepi, berteduh di emperan pertokoan. Air hujan menerpa badan dan membasahi sehelai baju yang melekat di badannya. Basah kuyub badan Eman. Eman menepi dan duduk di emperan toko, mendekap lututnya karena kedinginan, sementara tas kumal teronggok di sampingnya. Ia tidak peduli sampah berserakan di sekitarnya. Eman ingin pulang, tetapi tidak tahu ke mana. Karena ia seorang tuna wisma (homeless). 

Di saat Eman menggigil kedinginan, beberapa orang menghampirinya. Mereka tidak peduli hujan. Ada yang berpayung, ada pula yang bermantel untuk berlindung dari air hujan.  Sejenak Eman terkejut melihat kedatangan mereka!  Eman tidak beranjak, tetap dalam posisi duduknya. Sekelompok orang itu makin mendekatinya, menyapa, dan mengajaknya berbicara. 

Di tengah mereka asyik berbincang dengan Eman, satu dari antara mereka – yang berusia muda menghilang,  pergi menembus derasnya hujan dan temaramnya senja. Tidak menunggu lama, anak muda itu kembali membawa kain sarung dan menyerahkannya kepada Eman. Dengan segala bujuk rayu, Eman mau menerima kain sarung itu lalu mengenakannya.  Setelah Eman tenang, sekelompok orang itu menyerahkan sebungkus nasi yang mereka bawa. Untuk menghangatkan  badan, mereka pun membelikan minuman hangat. Dengan santai mereka menemani Eman makan.  Setelah semua merasa lebih nyaman,  mereka bergegas meninggalkan Eman yang tidak lagi kedinginan.

Memberi Bukan Karena Mampu

Sepenggal kisah di atas adalah pengalaman anggota Komunitas Sant Egidio (KSE) Padang  saat menjalankan misi kemanusiaan menjadi sahabat siapa pun, terutama yang terpinggirkan, seperti Eman. Sejak 14 November 2021, anggota KSE Padang,   setiap Selasa sore, sekitar pukul 17.30 WIB, sekitar satu jam berjalan dan menyisir  kawasan Jalan Imam Bonjol Padang.  Anggota KSE yang tidak mencapai sepuluh orang ini menjumpai para pemu­lung, tuna wisma, Orang Dalam Gangguan Jiwa (ODGJ), penyandang disabilitas (cacad) yang tidur di emperan toko dan balkon lapangan Imam Bonjol. 

Setelah berjumpa mereka mengajak mengobrol. Setelah terjadi komunikasi, mereka memberikan sebungkus nasi yang telah dipersiapkan.  Anggota KSE menyebut kegiatan ini  pelayanan “Sahabat Jalanan”.  Beberapa orang yang mereka layani, sudah mengenali anggota KSE, bahkan  mengetahui jadwal kunjungan rutin itu.  Anggota KSE ini tidak peduli cuaca; entah panas atau hujan pun tetap ke lapangan. Jika hujan mereka berpayung maupun bermantel.

Usai pertama kali (14/11/2021) turun ke jalan, mereka berkumpul di ‘markas’ (Rumah Komunitas)  di belakang Gedung Bergamin. Mereka mengevaluasi sekaligus merefleksikan yang telah dilakukan. Setelah itu, mereka menikmati nasi bungkus yang sama – yang  diberikan kepada para “Sahabat Jalanan” itu.   Hingga kini, saat ke lapangan, mereka menyiapkan belasan nasi bungkus. Di antara para “Sahabat Jalanan” itu, ada satu keluarga yang mereka beri buah-buahan. 

Sejak dua tahun terakhir anggota KSE juga memiliki agenda rutin. Pada momen Natal, mereka berbagi kasih dengan para orang lanjut usia (lansia)  yang tinggal di Wisma Cinta Kasih (WCK) Padang.   Mereka datang menghibur para lansia itu dengan berbagai games dan aneka kegiatan  ringan yang sesuai untuk para lansia. Di akhir kunjungan, mereka mengajak seluruh komunitas panti jompo itu makan siang bersama. 

Melalui pelayanan ini, anggota KSE ingin bersahabat dengan sesama yang kurang mampu dan membutuhkan pertolongan. Mereka menyebut pihak-pihak yang dilayani “Sahabat”  karena  dalam pelayanan tidak memposisikannya sebagai objek, tetapi subjek.  Mereka menyatakan bahwa mereka memberi bukan karena mampu,  tetapi karena orang-orang itu membutuhkan.   Anggota KSE ini sadar bagi sebagian orang menganggap model pelayanan ini aneh dan berisiko. Karena orang yang dilayani tidak jelas, tidak mereka kenal. Mungkin ada yang beranggapan sebuah kesia-siaan. Belum lagi dengan berbagai macam kekhawatiran dan anggapan kalau menolong sesama di luar komunitas, kemungkinan ditolak atau tidak diterima.  Atau menimbulkan tafsir yang macem-macem, ada misi terselubunglah. Namun anggota KSE tidak peduli anggapan atau kata orang. Dengan komitmen kuat mereka juga tidak memikirkan kekhawa­tiran itu. Karena yakin akan Firman Tuhan, “… sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (bdk. Mateus 25:40).  Mereka menyebut cara yang ditempuh seperti itulah untuk menghadirkan Tuhan yang berbelas kasih itu kepada sesama. Selain berpijak pada firman Tuhan, anggota KSE juga meneladani semangat atau spiri­tua­litas  Santo Fransiskus Assisi.  Salah satu­nya, cuaca alam bagaimana pun keada­an­nya adalah sahabat, bukan penghalang. ***

Dikisahkan oleh Prisca Nuriati
Satu dari tiga Koordinator Komunitas Sant Egidio (KSE) Regio Sumatera,
berdomisili di Padang. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *