Ketika suatu hari terdapat diskusi hangat antara seorang suami dengan istrinya. Pada momen itu sang suami menunjukkan perasaan bahwa sikap tersinggung. Istrinya kemudian berkata, “Sekarang koq mudah tersinggung ya? Itu gejala getting old, lho!” Sang suami kemudian terdiam sejenak.

Cepat tersinggung, marah, kecewa dengan perlakuan orang yang dirasakan kurang menghormati, mau dihargai, tidak mudah lagi bercanda, semua perkara menjadi sangat serius, ini ternyata adalah gejala getting old. Apa yang dimaksud getting Old? Ternyata satu istilah untuk mengungkapkan seseorang bertambah tua. Karena setiap orang pasti bertambah tua, maka getting old adalah keniscayaan.
Hanya saja, banyak orang getting old tetapi tanpa growing up. Apa maksudnya?

Growing up adalah menjadi dewasa, semakin matang mengelola emosi, siap hidup sendiri, banyak kesibukan yang produktif dengan waktu yang dimiliki, bertanggung jawab atas tindakannya.

Getting old sangat berbeda dengan growing up. Setiap orang tanpa berbuat apa-apa pasti akan getting old! Tetapi untuk growing up, seseorang harus berbuat sesuatu atau mempersiapkan diri. Growing up – menjadi dewasa – perlu pengelolaan emosi, perlu persiapan yang sangat serius, mengurus banyak hal.

Growing up berseberangan dengan kekanak-kanakan; misalnya mudah lari dari tanggung jawab, tidak mau berkomitmen, hanya mau yang manis-manis. Growing up menanggapi penderitaan dengan tenang, mengejar greatness, kebesaran jiwa bukan kenyamanan semata- mata, berani berkorban. Sekali lagi ini perlu persiapan.

Getting Old membiarkan waktu berlalu, menyesali masa kini, glorifikasi masa lalu (dulu saya begini, dulu saya begitu). Gejala getting old berbentuk menggurui, meremehkan orang, mudah tersinggung. Lantas, bagaimana ‘menanggapi’ agar tidak getting old namun growing up? Ya, mesti berbenah!

Nasihat growing up bukan semata-mata untuk anak kecil maupun remaja, tapi untuk segala usia! Banyak orang yang sudah dewasa meskipun usianya masih muda. Ayo bangun diri (grow up) menjadi dewasa! Jangan hanya getting old – menjadi tua. Sungguh tragis bila menjadi tua tanpa menjadi dewasa.

Tetapi, sayangnya kebanyakan manusia tidak bisa mengambil pelajaran apa pun dari (pengalaman) kehidupan orang yang sudah tua di sekitarnya. Proses penuaan pada manusia sesungguhnya merupakan sebuah tanda pengingat bagi setiap orang: betapa pun berkuasanya manusia, betapa pun tampan dan cantiknya manusia, akhirnya manusia terbentur pada usia dan keterbatasan sendiri.

Kulit kencang yang dulu dirawat, perlahan mengeriput, tenaga kuat dan super yang dimilikinya pun semakin mengendur, bahkan untuk berjalan pun terkadang mesti perlahan. Mata indah yang dulu terlihat tajam, perlahan meredup, rambut indah yang menjadi mahkota kepala pun tak hitam lagi. Adalah suatu hal yang pasti bakal terjadi: jika umur semakin tua akan serba berkurang dalam berbagai hal; misalnya kurang pendengaran, penglihatan, makan yang dibatasi, kurang tidur, dan sebagainya. Namun, yang terpenting jangan sampai terjadi semakin tua semakin tidak tahu diri. Artinya, semakin tua justru semakin jauh dari Tuhan Yang Maha Esa dan mengikuti hawa nafsu yang menyesatkan.

Selayaknyalah, semakin tua semakin tahu hal yang harus dipersiapkan untuk kehidupan mendatang (akhirat). Setiap tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, dan detik usia kita bertambah dan jalan hidup semakin berkurang. Itu berarti, kematian itu semakin dekat. Itulah keadilan Tuhan. Datangnya waktu pensiun kerja bisa ditunda walau dengan berat hati meminta atau karena memang benar dibutuhkan.

Panjang umur adalah sebuah harapan yang sangat didambakan hampir setiap orang di muka bumi ini. Tidak setiap panjang umur menjadi berkah. Namun, setiap hidup penuh keberkahan dan kebaikan, besar kemungkinan mengalami panjang umur. Sebaik-baiknya panjang umur adalah yang diiringi dengan keberkahan dan kemuliaan akhlak. (ist)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.