Suatu ketika, oleh pastor paroki, saya diminta mengambil dan mengisi formulir pengajuan bantuan paroki lewat Seksi Sosial Paroki (SSP). Bantuan bea siswa untuk anak kedua saya yang di kelas IX SMP. Saya pun heran, “Pastor, koq tahu kesulitan keluarga kami?! Saya tidak pernah bercerita sebelum­nya.”

Kontak saya dengan pastor ter­kait lowongan kerja di pastoran. Saya tertarik untuk mengisi lowongan tersebut, karena untuk membantu ringanka beban suami (Amator Arosekhi Giawa) yang bekerja seba­gai buruh angkut di daerah Pasar Gadang. Rencana untuk bekerja ini disokong suami, karena penghasilan buruh angkut hanya harian, upah diberikan bila ada pekerjaan. Kalau tidak ada yang dikerjakan, bongkar muat barang praktis tidak ada peng­ha­silan.

Dari pernikahan (2002) di Pa­dang, kami dikaruniai Tuhan dua pasang anak. Sekarang, semuanya bersekolah. Saya mau bekerja setelah anak bungsu masuk TK, tiga tahun silam (November 2019). Sebelum­nya, saya ibu rumah tangga meng­urus suami dan anak-anak. Seiring waktu, kebutuhan rumah tangga bertambah, termasuk biaya pendi­dikan. Tidak mungkin kami seke­luarga hanya mengandalkan peng­hasilan suami, yang kadang bagaikan ‘rezeki harimau’. Sebelum bekerja di pastoran, saya pernah sebagai asisten rumah tangga (ART) pada satu keluarga, namun berhenti sebab saya selalu keletihan/kecapekan setiap pulang kerja. Maklumlah, nyaris seharian saya bekerja nyaris tiada henti.

Entah kebetulan, saya berjumpa dengan seorang ibu yang mengabar­kan adanya lowongan pekerjaan di Pastoran Santa Maria Tirtonadi Padang. Saya nyatakan mau bekerja di pastoran. Setelah berjumpa de­ngan pastor paroki kala itu, Pastor Agus­tinus, saya pun mulai bekerja. Saya senang bekerja di lingkungan pas­toran. Saya merasa pastor perhatian pada keluarga kami, bahkan tentang lingkungan sekolah anak kami pun diperhatikan, agar mendapat pendidikan Katolik yang layak, meski mesti pindah sekolah.

Tentu­lah tidak serta-merta hal tersebut dapat dilakukan, karena mesti mempertimbangkan biaya; misalnya uang pembangunan, dana sekolah bulanan, ongkos transportasi. Se­perti­nya pastor dapat mengerti jalan pikiran kami yang gundah untuk memindahkan anak ke sekolah lainnya. Beliau memberikan solusi, merekomendasikan anak saya ikut dalam program bantuan beasiswa SSP. Saya ikut saja ‘arahannya’ tat­ka­la mengisi formulir dan berurusan dengan SSP. Pada tahun ajaran berikutnya, tambahan dua anak kami juga diikutsertakan dalam program yang sama. Bagi kami sekeluarga, sungguh besar perhatian dan kepedulian dari pastor paroki.

Kalaulah mengandalkan ‘rezeki harimau’ sebagai buruh angkut, bakal mengalami banyak kesulitan, baik untuk keperluan rumah tangga, termasuk pendidikan anak-anak. Kini, mereka dapat bersekolah di tempat yang tepat, lebih terjamin untuk urusan pelajaran agama Katolik. Suasana belajar di sekolah baru pun lebih teratur, tertib, dan disiplin. Pastor paroki ternyata sangat mengerti dengan keadaan kami dan mau memberikan pertolongan. Sebenarnya, masih banyak keluarga lainnya yang punya persoalan mirip dengan keluarga kami. Saya bayangkan, seandainya punya kemampuan ekonomi, ingin sekali rasanya saya membantu keluarga-keluarga tersebut agar keluar dari kesulitannya. (hrd)

Yulia Yarni Halawa
Umat Paroki St. Maria Bunda Yesus Tirtonadi Padang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.