Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) – bagian dari Seksi Sosial Paroki (SSP) – Dewan Pastoral Paroki St. Fransiskus Assisi Padang, Tak Mudah Maru’ao (63) menjelaskan, di parokinya selain ada bantuan sosial karitatif, berupa paket sosial saat Natal dan Paska, DPP membantu warga yang mengalami kesulitan secara ekonomi, dengan memberikan bantuan modal usaha tanpa bunga dengan angsuran tiap bulan. Semacam dana bergulir (revolving fund).

Maru’ao menjelaskan Seksi PSE adalah satu dari tiga bidang SSP. Juga ada bidang pendi­dikan dan kesehatan. Di bidang pendi­dikan, lanjutnya, DPP memberikan bantuan kepada anak-anak yang tidak mampu, bantuan uang masuk murid baru, uang sekolah – dengan syarat dan ketentuan diberlakukan. Di bidang kesehatan, belum terlalu jauh bergerak ke umat. Masih dalam rencana membantu mereka untuk mendapatkan kartu miskin dari pemerintah.

Berkaitan dana bergulir, prodiakon paroki ini menjelaskan besarnya maksimal lima juta Ru­piah, namun realisasinya selama ini mulai dua jutaan Rupiah. “Telah puluhan umat paroki ini yang ‘memanfaatkan’ dana bergulir tersebut. Sejak digulirkan tahun 2015, semasa Pastor Paroki P. Guido Paolucci, SX, angka pasto saya tidak hafal. Syaratnya, umat yang sudah mem­punyai usaha kecil dan mau lebih berkembang, mesti direkomendasikan ketua rayon. Namun, tidak semua pengajuan dipenuhi/disetujui,” ungkap Maru’ao lagi.

Sejak diminta pastor paroki (P. Guido) untuk menangani dana bergulir ini sejak enam tahun terakhir, Maru’ao menyatakan sejumlah umat yang berdomisili di Pusat Paroki, Stasi St. Am­brosius-Tabing dan Stasi Kristus Bangkit-Pasarusang banyak memanfaatkan dana bergulir ini. Maru’ao teringat awal program ini dicetuskan P. Guido. “Ada Dana Sosial di paroki namun tidak dimanfaatkan maksimal.

Sementara banyak umat miskin yang dilihatnya tatkala mengantar Komuni Suci ke rumah-rumah umat. Pastor beranggapan lebih baik umat diajak punya usaha sendiri/mandiri dengan bantuan modal dari paroki. Beliau berprinsip untuk apa banyak dana di paroki namun tidak dipakai untuk membantu umat yang miskin, terutama mereka yang mempunyai semangat untuk berjuang dan mengangkat tingkat kehidupannya. Selanjutnya, kami minta ketua rayon mensosialisasikan rencana ini. Kalau ada, diajukan ke Seksi PSE. Setelah dinilai kelayakannya, barulah bantuan dicairkan. Seksi PSE langsung melihat tempat kegiatan mereka di lapangan,” kenangnya.

Selama enam tahun terakhir program dana bergulir ini, lanjut Maru’ao, pihaknya hanya memanfaatkan dana pengem­balian dari yang telah disalurkan sebelumnya. “Tidak dianggarkan lagi dari paroki, tetapi berasal dari perputaran dana pengembalian dari umat. Hanya saja, disayangkan, terutama saat Pandemi Covid-19, hanya sebagian kecil umat yang mengembalikan dana atau mengansurnya. Dalam situasi seperti ini, kami ingatkan lagi penerima manfaat untuk mengangsur dan minta bantuan ketua rayon untuk mengingatkan warganya yang telah menerima pinjaman supaya memenuhi kewajibannya. Data mereka ada, karena kita menggunakan Surat Perjanjian, dibatasi maksimal untuk dua tahun angsuran. Ada tanggapan, umumnya minta penjadwalan ulang,” ucap Maru’ao mengakhiri. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.