Hari Raya Santo Yusuf Suami Perawan Maria (19 Maret 2022)
Sam 7:4-5a, 12-14a;16; Mzm. 105:16-17, 18-19, 20-21
Rm. 4:13, 16-18, 22; Mat 1:16. 18-21
atau Luk 2:41-51a

ANDA PERNAH mengalami atau mendengar kabar tentang orangtua yang kehilangan anaknya. Anda bisa membayangkan betapa cemas dan paniknya orangtua yang kehilangan anaknya. Orangtua akan menempuh berbagai cara supaya anaknya ditemukan kembali dengan selamat. Kita bayangkan, kondisi seperti inilah yang dialami Santo Yusuf dan Santa Maria. Mereka sangat mengkhawatirkan Yesus anaknya yang terpisah atau hilang dari antara mereka sehingga sekuat tenaga mencari-Nya.

Perasaan Santo Yusuf dan Santa Maria tentu sangat senang dan lega saat menemukan Yesus di Bait Allah. Karena dalam kecemasan, mereka terus mencari dan berusaha menemukan Puteranya. Namun, saat mereka menemukan, respon Yesus justru kurang mengenakkan. “Mengapa kamu mencari Aku…?” Sebagai orangtua, Santo Yusuf dan Santa Maria tetap sabar.

Hari ini Gereja merayakan Santo Yusuf. Dua kali setahun Gereja merayakan Santo Yusuf. Tanggal 19 Maret ini dan 1 Mei, Santo Yusuf Pelindung Para Pekerja. Empat penginjil tidak banyak menulis tentang Santo Yusuf. Terkait dengan sosok Santo Yusuf, tulisan dalam Injil terkait sosok ini banyak dikisahkan peristiwa-peristiwa mendadak yang harus ditanggapinya segera. Namun dari sinilah secara tersurat dan tersirat sosok Santo Yusuf dapat dikenali.

Pertama, Allah sendiri menjadi Tuhan atas hidup berkeluarganya yang diberitahukan oleh malaikat dalam mimpinya. Sesuatu yang tak dapat terbayang oleh manusia. Santo Yusuf menerima semua ini dengan penuh iman, patuh pada kehendak Allah.
Kedua, sebagai pengungsi saat kelahiran Yesus. Santo Yusuf tidak memiliki barang-barang yang sangat dibutuhkan oleh keluarga muda, dengan segala kesederhanaan bahkan kekurangan, Santo Yusuf terus berjuang melakukan yang terbaik untuk keluarganya. (Luk 2:7).

Ketiga, dalam malam yang gelap Santo Yusuf harus membawa pergi Maria dan Bayi Yesus dari usaha pembunuhan dari pemerintah yang ditujukan kepada Bayi Yesus, yang diangap ancaman pada kekuasaan Herodes. Paling sedikit tiga kali Santo Yusuf harus menata dan membuka kembali barang bawaannya. Informasi yang diterimanya mendadak sehingga dalam waktu singkat mesti mengambil keputusan dan tindakan.

Keempat, Santo Yusuf dan Maria tiga hari mencari Kanak-kanak Yesus yang menghilang di Bait Suci. Sewaktu mereka menemukan Yesus, Santo Yusuf mendengar perkataan Yesus: “Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada dalam rumah Bapa-Ku?” (Luk 2:49). Kira-kira bagaimana rasa perasaan Yusuf sewaktu mengasuh Yesus yang masih kecil itu? Sudah susah payah mencari, perjalanan pun tidak tanggung-tanggung jauhnya. Tetapi setelah ketemu, justru ungkapan yang secara manusiawi membuat kesal bahkan marah.

Dari pengalaman ini, kita bisa belajar dari sosok pribadi Santu Yusuf.
Kesederhanaan Santo Yusuf terpancar dalam kehidupannya. Santo Yusuf dan Bunda Maria mempersembahkan Yesus di Bait Allah, mereka mempersembahkan dua ekor anak burung merpati sebagai korban yang merupakan suatu pengecualian yang diperuntukkan bagi keluarga-keluarga yang tidak mampu mempersembahkan kurban anak domba seperti yang diwajibkan.

Santo Yusuf seorang pekerja keras. Yesus dan Bunda Maria hidup dari nafkah Yusuf yang berprofesi sebagai tukang kayu. Santo Yusuf menjalani dengan penuh rasa syukur karena tahu bahwa yang dihidupinya bukanlah keluarga biasa melainkan terdapat Anak Tuhan yang dititipkan untuk menebus dosa manusia. Untuk itulah kita menyebut keluarga Yusuf, Maria, dan Yesus adalah keluarga kudus.

Santo Yusuf sangat melindungi dan memelihara Keluarga Kudus. Santo Yusuf merupakan sosok yang pekerja keras dan berusaha menyediakan segala kebutuhan yang diperlukan oleh keluarganya. Ia mendapat makanan dari hasil kerja kerasnya dan tidak memikirkan kebutuhan dirinya sendiri, melainkan mengusahakan diri untuk mampu memenuhi kebutuhan yang terbaik bagi keluarganya.

Untuk tugas menjaga Kanak-kanak Yesus, Allah telah memilih orang yang teruji dalam mendengarkan dan mematuhi. Santo Yusuf adalah orang yang sungguh beriman. Kita banyak belajar dari Santo Yusuf untuk kehidupan seraya terus memohon agar Allah memampukan melakukannya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.