BUKITTINGGI – Umat bersukacita saat Uskup Padang Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX. melakukan kunjungan pastoral perdananya ke Paroki St. Petrus Claver Bukittinggi. Sukacita umat tampak saat umat menghadiri tiga kali Misa Kudus. Biasanya, Misa Kudus di gereja paroki ini hanya dua kali (Sabtu malam dan Minggu pagi).

Dalam Perayaan Ekaristi pada Sabtu (5/2) malam, Bapa Uskup melantik pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) St. Petrus Claver Bukittinggi periode 2022-2025. Pada kesempatan Misa Kudus ini, Bapa Uskup didampingi Pastor Paroki (P. Jose Enrique Sanchez V., SX) dan Pastor Rekan (P. Antonius Sutatno, SX). Ketika pelantikan, Bapa Uskup memerciki air suci para pengurus yang dilantik dan secara simbolis menyerahkan Surat Keputusan pengangkatan kepada Wakil Ketua DPP, Faralle Sijabat.

Dihubungi terpisah setelah Perayaan Ekaristi, Faralle tidak menampik kepercayaan sebagai DPP merupakan tanggung jawab yang berat sekaligus didasari keyakinan dapat dilaksanakan – sebagaimana pesan homili Bapa Uskup. Faralle berharap terjalin kerja sama intern pengurus DPP dan DPP dengan para ketua rayon serta umat Paroki Bukittinggi. Terkait program kerja utama, mantan anggota DPRD Kota Bukittinggi ini menyatakan, “Pada tahun 2022, program utama kami menjalin hubungan dengan pemerintah daerah. Selama ini hubungan telah ada, namun belum terlihat secara nyata. Tujuannya agar terjalin hubungan erat pemerintah daerah dan DPP. Program selanjutnya adalah mempererat komunikasi antara umat beragama, sehingga silahturahmi dan harmonisasi antar umat beragama bisa berjalan dengan baik di Bukittinggi.”

Acara ramah-tamah DPP dengan Bapa Uskup berlangsung usai Perayaan Ekaristi di salah satu ruang bangunan baru pastoran. Saat santap malam bersama terlihat suasana membaur pengurus DPP baru dilantik. Sembari ditemani parokus, Bapa Uskup memanfaatkan kesempatan ini berkeliling melihat-lihat bangunan pastoran yang akan diresmikan pada kunjungan mendatang.

Pada hari kedua kunjungan pastoral, Minggu (6/2) pagi-siang, Bapa Uskup memimpin Perayaan Ekaristi. Kesempatan Perayaan Ekaristi pertama dengan umat secara umum. Perayaan Ekaristi kedua, pukul sembilan pagi, dikhususkan untuk momen penerimaan Sakramen Krisma. Informasi yang didapat dari salah satu pendamping penerimaan Sakramen Krisma, Sr. M. Marissa Rusae, OSF, jumlah penerima sakramen mencapai 80 orang, pada umumnya pelajar sekolah menengah pertama (SMP) serta beberapa pelajar sekolah menengah atas (SMA). Jumlah cukup banyak karena selama masa takhta uskup lowong (sede vacante) selama dua tahun tidak ada penerimaan Sakramen Krisma.

Dalam homilinya bagi “krismawan-krismawati”, Bapa Uskup mengatakan, “Roh Kudus yang turun bagai lidah-lidah api merupakan sesuatu yang menyala dan mengobarkan, membakar, namun tidak menjadikan seseorang takut dan cemas. Justru, Roh Kudus menjadikan orang lebih berani, sebagaimana Nabi Yesaya yang berani menyatakan dirinya, yakni orang najis bibir disentuh oleh Tuhan. Sama seperti Para Rasul yang mendapat karunia Roh Kudus bisa berbicara dengan aneka bahasa lain, bahasa cinta kasih yang dimengerti semua orang.”

Uskup Vitus menyambung, “Para krismawan-krismawati hari ini pun dipanggil menjadi berani, mampu menunjukkan diri sebagai orang Katolik setelah menerima Sakramen Krisma. Anda harus berani mencari, proaktif mencari kegiatan yang dapat menunjukkan eksistensi sebagai orang Katolik dalam semua kegiatan yang menunjukkan kita tidak takut dengan situasi Pandemi yang kadang menakutkan kita bertemu orang lain. Kita semestinya menampilkan Gereja yang rindu untuk bertemu, bukan Gereja yang mengurung diri di kamar!”

Setelah Perayaan Ekaristi kedua, Bapa Uskup disambut resmi di kompleks persekolahan yang terdapat di belakang gereja dan pastoran. Sembari menuju Aula SD Fransiskus, Bapa Uskup disambut dengan Tarian Tor Tor serta pengalungan bunga oleh perwakilan DPP. Dalam acara ramah-tamah ini, sejumlah mata acara ditampilkan, antara lain aneka sambutan, penampilan hiburan, dan santap siang bersama. Rangkaian ramah-tamah ini berakhir dengan pembagian sertifikat Sakramen Krisma yang ditandatangani langsung Bapa Uskup Vitus Rubianto Solichin.

Tatkala dimintai komentar dan perasaannya, salah satu penerima Sakramen Krisma yang juga pelajar kelas VIII SMP, Lamorin Stevani mengatakan, “Ada dua perasaan setelah menerima sakramen ini: senang dan merasa lebih bertang­gung jawab. Senang, karena ini merupakan penantian selama berbulan-bulan belajar krisma dan akhirnya sah menerimanya. Kami telah belajar dan dibekali, maka harus mampu dipertanggungjawab­kan, bukan hanya secara teori namun diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita jadikan pedoman apalagi jika tanggungjawab itu sudah lenbih besar dari waktu sebelumnya. Kita jadi lebih dewasa!”

Uskup Vitus sepakat dan menggaris bawahi apa yang disampaikan Morin bahwa salah satu contoh konkretnya adalah bertanggung jawab sebagai seorang siswi untuk mencintai tugas untuk belajar. Dewasa itu berarti melakukan dan berbuat sesuatu bukan karena dilihat orang, melainkan membuat sesuatu yang baik karna kita tahu itu baik. “Dengan di krisma harapannya kalian tau tugas kalian ditangan kalian masa di depan,” tambah Uskup Vitus.

Paiman Sijabat, perwakilan orangtua mengaku senang, gembira, dan bersuka cita karena anaknya mendapat kesempatan menerima Krisma. “Puji Tuhan, setelah tertunda beberapa tahun penerimaan Krisma terlaksana. Semoga krismawan-krismawati semakin tumbuh berkem­bang dalam iman dan perbuatan. Kalau kelak suatu ketika berada di luar lingkungan Katolik, mereka bisa tetap berbuat dan berguna bagi sesama, serta mampu menunjukkan buah-buah kasih,” ucapnya.

Saat berada di Bukittinggi Bapa Uskup juga mengadakan pertemuan tertutup dengan keluarga besar Yayasan Prayoga Bukittinggi. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.