Akhir-akhir ini, muncul istilah ‘self-healing‘. Healing berasal dari kata ‘heal‘ atau sembuh, berarti dalam proses penyembuhan atau sedang mengupayakan penyembuhan. Namun, sejalan waktu, terjadi perubahan makna ‘healing‘. Seharusnya, berarti penyembuhan dari sakit maupun beban mental, kini bermakna sebagai hiburan belaka, menghibur diri supaya sembuh, biasanya setelah bekerja berat dan seusai ujian. Sejatinya, ‘healing‘ berarti penyembuhan, bukan sebatas menghibur diri.

Di waktu lampau, ‘healing‘ merupakan istilah dalam dunia medis, sekarang menjadi istilah sehari-hari. Saya ingin sampaikan dalam dunia psikologi ada istilah “self healing” – yang beranjak dari keyakinan/kepercayaan setiap insan manusia punya kemampuan dan kekuatan menyembuhkan diri sendiri. Saat kita terluka misalnya, ada jaring-jaring fibrinogen dan sel darah putih untuk menyembuhkan luka. Begitu juga tatkala kita menghadapi goncangan mental atau masalah. Ada keyakinan kita bisa dan punya kemampuan menyelesaikan dan menyembuhkannya. Hal inilah yang mesti ditanamkan dalam diri setiap individu.

Kita bisa menyadari diri sedang terkena suatu masalah dan selanjutnya merefleksikannya pada diri sendiri. Dengan cara apa? Kita sendiri juga yang mengetahuinya! Kita mesti menghadapi masalah tersebut. Tetapi, kita harus memupuk kesiapan diri sendiri terlebih dulu untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah tersebut. Kita bisa sejenak menarik diri dan mengambil waktu memikirkan solusi yang diambil, asal tidak terus-menerus menarik diri sehingga masalahnya pun tidak teratasi. Kita bedakan dua hal berbeda: ‘self healing‘ dengan lari dari masalah.

Keberhasilan ‘self-healing‘? Dikembalikan pada pribadi setiap individu. Biasanya, tidak berhasil dilakukan bila ‘healing‘ dimaknai sebagai hiburan belaka. Seseorang yang mendefinisikan ‘healing‘ sebagai liburan, bahkan sebagai ‘self-reward‘ dengan membeli busana mahal, makanan mewah, dan sebagainya; sehingga lupa dengan tujuan awal yaitu menyembuhkan diri sendiri. Self-healing berarti menyembuhkan diri sendiri dengan cara menghadapi dan menyelesaikan masalah. Kegagalan ‘self-healing‘ disebabkan karena dianggap seperti ‘self-reward‘ dan menganggap sebagai hiburan semata. Parahnya, bila seseorang lari dari masalah. Niat semula ‘self-healing‘ dengan menarik diri sejenak dan keluar dari rutinitas, tetapi malah keterusan menarik diri. Masalah pun tidak terselesaikan.

Saat ‘self-healing’ gagal dilakukan, berarti masalah tidak terselesaikan. Individu bersangkutan menjadi pribadi yang abai dengan masalah sendiri dan sangat tergantung pada orang lain. Bahkan, bisa jadi, yang bersangkutan menjadi individu yang tidak dapat dipercaya dalam kehidupan sehari-hari. Begitupun dalam dunia pekerjaan, contohnya kerap tidak dapat menyelesaikan beban kerja selesai pada waktunya. Juga, terjadi seseorang gonta-ganti pekerjaan dalam waktu singkat. Begitupun dampaknya dalam hidup berumah tangga. Masalah keluarga tidak terselesaikan, sehingga suasana atau atmosfer dalam keluarga tidak nyaman bagi anggota keluarga lainnya.

Bagaimana ‘self-healing‘ dilakukan? Ada banyak cara, tergantung pada tiap individu. Namun, disarankan dengan cara positif. Ada cara negatif, misalnya merokok, minum minuman keras, dan sebagainya – yang kerap dianggap dapat mendatangkan ide penyelesaian masalah. Cara positif misalnya berolah raga, meditasi untuk menenangkan diri, berbicara dengan diri sendiri (self-talk) untuk menguatkan diri dan menyelesaikan masalah. ‘Self-talk‘ dapat menjadi ide awal untuk temukan solusi. Cara lain, dengan curahan hati (curhat) pada orang lain; termasuk ajakan hiburan dan liburan – asal tidak keterusan. Orang lain dapat menjadi sumber ide, inspirasi saat menyelesaikan masalahnya.

Saat liburan tersebut bisa mengobrol dengan teman atau anggota keluarga lainnya maupun brainstorming dengan orang lain. Upaya lain misalnya: membaca buku atau aktivitas menulis, melakukan hobi. Hasilnya, perasaan kita menjadi lebih enak, tenang, nyaman, bahagia (happy). Kita pun bisa menyelesaikan masalah. Setiap orang bisa melakukan ‘self-healing‘, menyembuhkan lukanya sendiri. Bantuan psikolog mengandaikan hubungan dua arah. Kami, psikolog, tidak bisa menerapi, berkomunikasi, berkonsultasi dengan orang yang tidak siap. Percuma bila klien tidak mau membuka dirinya, tidak mau mengungkapkan hal-hal yang diminta, tidak berpikiran terbuka; bahkan lebih parah lagi tidak punya keinginan untuk sembuh. ***

Diasuh oleh: Theresia Indriani Santoso, S.Psi., M.Si
(Psikolog, Pendiri SMART PSY Consulting Padang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.