Sebagai pegiat kegiatan lintas agama saya senang tahun 2022 dicanangkan sebagai Tahun Toleransi. Mengapa? Karena isu toleransi menjadi fokus bersama sepanjang tahun ini di negara kita. Di bakik itu ada harapan toleransi antarumat beragama semakin lebih baik.

Semangat dan sikap toleransi harus tetap tumbuh kapan pun dan di mana pun, karena Indonesia adalah negara multi kultural. Dengan terus menjaga nilai-nilai toleransi, rasa damai dan aman akan selalu ada serta berkembang dari generasi ke generasi selanjutnya. Namun, saya akui masih ada pihak-pihak yang bertindak dapat mengancam semangat toleransi – yang sebenarnya dimiliki dalam setiap insan umat beragama, karena pada hakikatnya setiap agama mengajarkan kebaikan. Mungkin, salah satu penyebabnya karena tiadanya dialog antarkita yang berbeda keyakinan. Sebaiknya, perlu upaya merangkul pihak-pihak yang masih tertutup matanya atas keberagaman. Merangkul dan jalan bersama pasti lebih baik.

Apakah ada motif politis untuk memanfaatkan sentimen agama guna mencapai tujuan yang terselubung? Saya kurang tahu persis. Tetapi, yang jelas, agama apa pun tidak pantas dijadikan ajang dan tameng politik. Memang dalam praktik, diakui, banyak kalangan dan pihak yang menyalahgunakannya. Maka, untuk teman-teman generasi muda, masa depan ada di tangan kita. Mari berjuang dengan cara-cara elegan. Jangan menggunakan segala cara dan akal untuk mencapai tujuan. Mulai dari diri sendiri hilangkan perilaku antitoleransi. Jika kita tidak bertindak dan hanya menerima pasrah ‘alur permainan’ sekarang, maka semangat toleransi, kerukunan, kerja sama tetap mengalami kendala.

Politisasi agama tidak akan pernah hilang dan dilakukan generasi mendatang. Perlu perjuangan berat dan konsisten di tengah arus yang dapat merusak tatanan hidup bersama dengan penganut agama lain. Saya merasakan masih banyak orang belum bisa menerima perbedaan, penyebabnya bisa sikap dasar pribadi, kurang “piknik”, dan terprovokasi tokoh tertentu serta termakan pemberitaan hoax.

Dalam praktik sehari-hari, hidup bertoleransi dengan teman berbeda keyakinan dapat diterapkan dengan saling memahami. Bila tidak, sulit tercipta toleransi dan kerukunan. Manusia adalah insan yang rumit. Kita tidak harus melulu berbicara soal agama untuk saling toleransi, namun bisa lewat hobi dan lainnya yang disukai – karena adanya kesamaan. Tentu saja, hal ini butuh perjumpaan setiap individu yang berbeda latar belakangnya, termasuk beda agama. Hal tersebut saya dapatkan dalam wadah Pemuda Lintas Agama (Pelita). Dalam dan melalui wadah ini, saya belajar memahami teman yang berbeda agama, suku, budaya, dan bahasanya. Ternyata, untuk bertoleransi sebenarnya tidak ribet, tidak repot/sulit dan dapat ‘ditularkan’. Jujur bersama teman di Pelita, saya mendapat banyak pengalaman. Tahun 2021 lalu adalah tahun pertama Lebaran Idul Adha bersama kawan-kawan yang agama di Pelita. Kami berkumpul dan merayakannya bersama. Untuk ‘menularkan virus toleransi’ kepada sesama kaum muda bisa lewat ajakan dan aktivitas bersama di Pelita.

Saya bergabung di Pelita berawal dari rasa penasaran terhadap teman-teman yang berbeda agama. Namun, seiring waktu, saya merasakan nilai-nilai kebersamaan, saling memahami, dan bertoleransi semakin bertambah. Sejak SD, saya mempunyai sahabat yang berbeda agama namun telah meninggal. Kampung tempat lahir saya di wilayah Sumatera Barat (maaf tidak bisa sebutkan spesifik lokasinya). Orangtua saya tidak menyoal dan menanggapi biasa pertemanan kami meski beda agama. Teman-teman di kampung, biasa ada yang suka, ada juga yang tidak suka. Atas semua itu, saya lakukan yang diyakini benar.

Saat kuliah di Padang, saya heran karena ada teman seiman yang memandang saya negatif. Mungkin karena kawan di kampung hidup dalam lingkup nyaris seragama, sama, homogen, dan jarang melihat kegiatan lintas agama. Tentu, bagi mereka, hal aneh dan sulit diterima. Mereka melihat seakan saya telah berpindah agama, karena berkegiatan di rumah ibadah lain. Atau mereka khawatir, saya terpengaruh bujuk rayu sehingga iman luntur, akhirnya murtad. Tidak! Faktanya, saya tetap. Saya tetap pada iman yang dipercaya sedari kecil. Kalau muncul prasangka yang bukan-bukan dari mereka, saya berusaha memaklumi. Bisa jadi mereka menerima informasi yang salah. Atau mereka menduga-duga sehingga negative thingking. Saya pun selalu memberikan penjelasan untuk menepis prasangka tersebut. Namun, sampai batas tertentu, saya tidak mau menanggapi lagi prasangka/dugaan mereka. Saya masih tetap salat dan ke masjid. Bagi saya, toleransi butuh sikap terbuka dari setiap orang untuk belajar memahami perbedaan. Prinsipnya, tidak kenal tidak sayang, seterusnya tidak sayang tidak cinta. Saling kenal memunculkan sikap saling menghargai perbedaan, karena hidup manusia sungguh berwarna. (hrd)

Aditya Oza Pratama
Anggota Wadah Pemuda Lintas Agama (PELITA),
pegiat atau aktivis kegiatan lintas agama di Padang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.