Sabtu Suci – Malam: Vigili Paskah (16 April 2022)
Bacaan 1: Kej. 1:1 – 2:2 (Kej. 1:1, 26 – 31a);
Mzm. 104:1 -2qa, 5-6, 10, 12, 13-14, 24, 35c atau Mzm. 33:4-5, 6-7, 12-13, 20-22.
Bacaan 2: Kej. 22:1-18 (22:1-2, 9a, 10-13, 15-18); Mzm. 16:5-8, 9-10, 11;
Bacaan 3: Kel. 14:15 – 15:1; MT Kel. 15:1-2, 3-4,5-6, 17-18;
Bacaan 4: Yes. 54:5-14; Mzm. 30:2,4,5-6, 12a, 13b;
Bacaan 5: Yes. 55:1-11, MT Yes. 12:2-3, 4bcd, 5-6;
Bacaan 6: Bar. 3:9-15, 32 – 4:4; Mzm. 19:8, 9, 10, 11;
Bacaan 7: Yoh. 36:16-17a, 18-28; Mzm. 42:3, 5bcd; 43:3,4
Epistola: Rm. 6:3-11; Mzm. 118:1-2, 16ab-17, 22-23;
Injil: Luk. 24:1-12

HABIS GELAP terbitlah terang. Habis duka ada suka. Di balik duka ada suka. Air mata kesedihan berganti dengan tawa dan suka cita. Di balik sengsara ada kemu­liaan. Inilah misteri Paskah, kebangkitan Tuhan.
Malam hari ini, Tuhan Yesus Kristus beralih dari kematian untuk memasuki kehidupan. Umat Kristiani berkumpul bersama untuk berjaga dalam doa (Latin: vigili, Jawa: tirakat) dengan perayaan agung untuk mengenangkan saat-saat Tuhan bangkit dari kematian.

Dari bacaan-bacaan Kitab Perjanjian Lama dikisahkan tentang pembebasan bangsa Israel dari penjajahan bangsa Mesir. Berkat kuasa Allah mereka pun selamat. Inilah malam pembebasan, seperti ketika bangsa Israel berjaga di malam saat Tuhan akan lewat dan menghukum bangsa Mesir atau saat mereka berjaga-jaga menantikan Tuhan membelah Laut Merah sehingga mereka dapat melewati dasar laut dan memperoleh kebebasan dari perbudakan Mesir.

Malam hari ketika Tuhan lewat (pesach) yang dikenangkan bangsa Israel setiap Tahun melambangkan kebangkitan Kristus (Paskah), menang atas dosa dan kematian. Pada Malam Paskah ini, umat menantikan dan menyongsong Kristus yang akan beralih dari kematian menuju kehidupan. Kematian-Nya menghancurkan dosa dan maut, kebangkitan-Nya memperbarui kehidupan. Kristus cahaya dunia (dilambangkan dengan Lilin Paskah) yang memberikan kegembiraan dan pengharapan akan masa depan bangsa manusia yang penuh kemuliaan karena kebangkitan-Nya.

“Jangan takut! Kamu mencari Yesus dari Nazareth yang tersalib itu? Ia sudah bangkit dan tidak ada di sini.” Inilah pewartaan awal mula mengenai kebangkitan Kristus yang dirayakan pada Malam Paskah ini dan menjadi salah satu bagian terpenting dari iman Kristiani. Dalam syahadat, antara lain kita menyatakan, “Aku percaya akan Yesus Kristus, …. yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus disalibkan, wafat, dan dimakamkan; yang turun ke tempat penantian pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati;…”
Malam ini, kita memperdalam iman akan makna Kristus yang bangkit. Yang hendak diwartakan dengan kisah-kisah kebangkitan Yesus, seperti misalnya dalam bacaan Injil, bukan pertama-tama laporan historis, tetapi pernyataan dan penghayatan iman Gereja.

Dalam iman, para murid mengalami bahwa Yesus yang telah wafat itu hidup, hadir, dan menyertai mereka. Inilah yang tersirat dari kata-kata pemuda yang menjumpai Maria Magdalena dan teman-temannya di makam, “… Ia mendahului kamu ke Galilea. Di sana kamu akan melihat Dia”. Marilah memaknai kebangkitan Yesus dalam terang iman itu pula.Yesus bangkit, berarti Ia kini hidup, hadir dan menyertai kita, sebagaimana janji-Nya sendiri, “… ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:20).

Dengan kebangkitan-Nya, Yesus tidak lagi hadir secara fisikseperti yang dialami para murid sebelum wafat-Nya. Dengan bangki, Ia selalu hadir dan menyertai kita tidak lagi dibatasi ruang dan waktu, tetapi bersifat universal: kapan pun, di mana pun, dan dalam keadaan apa pun. Maka, ditegaskan kepada kita “Jangan takut” karena Tuhan selalu hadir dan menyertai: kapanpun, di mana pun, dan dalam keadaan apa pun.

Kebangkitan Yesus yang bermakna bahwa kini dan selamanya, Ia hidup, hadir dan menyertai kita menegaskan kasih setia Allah yang tiada batasnya. Sejak awal mula, Tuhan Allah menciptakan manusia karena cinta kasih-Nya. Sekarang, kasih setia Allah itu menjadi nyata dalam diri Yesus Kristus. Dengan kebangkitan-Nya, Tuhan tidak hanya memberi bekal bagi perjalanan hidup kita, tetapi selalu hadir dan menyertai.

Dialah cahaya sejati yang menerangi hidup kita sehingga mampu melihat kasih Allah dan mensyukurinya serta mengejawantahkannya dalam hidup sehari-hari. Dialah cahaya sejati yang menerangi sehingga kita mampu meninggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan, yakni: perbuatan dosa untuk lebih melakukan perbuatan terang, yakni kasih, sukacita, damai sejahtera. Dialah cahaya sejati yang selalu menerangi setiap langkah hidup manusia. Oleh karena itu, jangan takut menapaki lorong-lorong kehidupan sebagai orang Katolik yang sejati, untuk selalu peduli dan berbagi kepada sesama karena Tuhan selalu hadir dan menyertai, karena Tuhan telah peduli dan membagikan hidup-Nya demi keselamatan manusia. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.