Banyak perubahan terjadi dalam diri Helena Rustam (56) dan suami serta para ang­gota Wanita Katolik RI Cabang Santa Maria A Fatima Pekanbaru sejak 14 Mei 2021. Saat itu, Helena dilantik sebagai Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Santa Maria A Fatima Pekanbaru periode 2021-2024. Sebelumnya, ia hanya ibu rumah tangga biasa yang mengurus sepasang anak dan suami. Aktivitas kegerejaan pun terbatas sebagai dirigen dan pemazmur.

Sebagai ketua, Kiau, panggilannya bertekad melibatkan dan merangkul sebanyak mungkin anggota Wanita Katolik RI Cabang di empat ranting (Santa Maria, Pasir Putih, Pembatuan, Perhentian Raja). Ia tidak menghendaki terjadi keadaan “bagai air dan minyak” yang tidak bisa dipersatukan, antara cabang dan ranting. Kiau mengakui dirinya termasuk ‘pendatang baru’ di ormas perempuan Katolik ini dan mendapat kepercayaan sebagai ketua. Karena dukungan dari teman-temannya ia tidak kuasa menolak.

Selama ini, istri Romy (55) ini kurang suka menampilkan jati diri dan aktivitasnya. Dulu, ia kerap menolak kalau diajak aktif menggereja dan memasyarakat. “Mungkin lewat cara demikian, Tuhan memanggil saya untuk mengikuti-Nya! Saat ditanya kesediaan, saya menyatakan belum pantas karena pendatang baru. Ternyata, anggota dari ranting-ranting sudah melihat dan menilai kegiatan yang pernah saya ikuti sebelumnya, sebelum bergabung di Wanita Katolik RI. Saya aktif sebagai dirigen dan pemazmur ,” katanya.

Setelah terpilih, Kiau berkoor­dinasi dengan pengurus empat ranting. “Kami dapat berjalan seiring-sejalan, saling peduli dan mendukung. Saya pasti mendukung aneka kegiatan ranting, sejalan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Kalau terjadi kekeliruan atau kesalahan, tanggung jawab terakhir ada pada saya selaku Ketua DPC!” tandasnya.

Ia pun memberikan perhatian pada upaya merekrut anggota berusia muda dalam wadah Wanita Katolik RI setempat yang dianggap lebih kreatif, enerjik, dan dinamis seturut perkembangan zaman. Kini, di banyak ranting koordinasinya terlihat mulai banyak kalangan muda bergabung. Ia pun tampak jadi lebih bersemangat.

Di waktu lalu, warga Lingkungan 14 Paroki St. Maria A Fatima Pekanbaru ini pernah aktif Pagu­yuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kota Pekanbaru dan Ikatan Keluarga Tionghoa Pekanbaru (IKTP). Mantan pelajar SMA Don Bosco Padang (1982-1985) ini mendapatkan dukungan suaminya setelah melihat perkembangan dan kemajuan positif ormas yang dipimpinnya.

Ia mengaku, semula suaminya tidak suka dirinya aktif dan ‘keluyuran’ di luar rumah. Suaminya ingin ia sebagai ibu rumah tangga saja. Sekarang, suaminya lebih terbuka sehingga mendukung Kiau berkegiatan di luar rumah. “Suami saya selau berpesan, agar saya tidak terlalu capek mesti mengingat usia tidak muda lagi,” katanya. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.