Melajang dan menikah adalah sebuah pilihan! Bahkan, bisa menjadi tujuan hidup. Terkait tujuan, semua manusia di bumi ini pasti sepakat tujuan hidup adalah menikah dan memiliki keturunan. Sehingga akan berkembang banyak. Namun, di perjalanan hidup seseorang, tujuan ini ternyata bisa berubah dengan berbagai pengaruh situasi dan kondisi yang tidak sejalan apa pun itu. Sehingga, pada akhirnya, sebuah tujuan bisa berubah menjadi pilihan.

Kalau pertanyaan muncul, pilihan saya dengan menjawab menikah. Saya awali dengan tujuan hidup saya yang kebetulan selaras dan sejalan waktu menjadi pilihan untuk menikah. Untuk menjawab pilihan saya dan akhirnya memilih menikah. Saya telah menjalani dengan hidup melajang terlebih dulu sewaktu belum menikah. Ternyata, melajang bagi saya pribadi belum mencapai tujuan hidup saya.

Lajang identik kebebasan berbuat dan memilih apa pun, serta menganggap dirinya tidak memikul beban berat. Dalam kaca mata saya pribadi, sebenarnya beban melajang lebih besar ketimbang menikah! Segalanya menjadi tanggungan sendiri. Bahkan, tidur pun sendiri. Sedih ditanggung sendiri. Bahagia dirasa sendiri. Komentar saya tidak membahas seseorang yang memilih hidup selibat dan terpanggil menjawab panggilan Tuhan, sebagai imam dan biarawan-biarawati.

Bagaimana kalau menikah? Pilihan menikah adalah tujuan hidup. Tentu situasinya berbanding terbalik dengan situasi melajang. Menikah bisa dimaknai menderita bersama, bahagia bersama, dan bertujuan bersama yakni meneruskan hidup bersama dan menciptakan generasi bersama juga. ***

Ponilala Maharaja
Warga Paroki St. Petrus – Tuapeijat, Kepulauan Mentawai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.