Salam belas kasih.
Saudari dan saudara umat se-keuskupan Padang dan para pembaca GEMA yang budiman, seperti kita ketahui bersama, pemerin­tah Indonesia melalui Menteri Agama mencanangkan tahun 2022 ini sebagai Tahun Toleransi sebagai satu wujud komitmen yang kuat untuk mem­bangun hidup kebangsaan dalam masyarakat yang majemuk. Hidup bersama dalam satu masyarakat multi-etnis, sekaligus dengan kemajemukan budaya dan pengakuan religiusnya di Sumatera Barat dan Riau ini mengajar kita untuk bertanya diri secara kritis mengenai keyakinan pribadi, menge­nai identitas keberagamaan sejauh mana berakar. Umat Katolik hidup di tengah kaum muslim. Banyak per­tanyaan tentang iman kristen diajukan, khususnya mengenai Yesus, anak Allah, dan mengenai Allah Tritunggal. Tapi sering sekali kita tidak mampu menjawab atau menjelaskannya dengan cara yang memuaskan. Untungnya, iman kristiani tidak diukur pertama-tama dari kemampuan mengartikulasikan rumusan iman yang benar, melainkan dari keutamaan tingkah laku hidup sehari-hari, bukan sekadar pintar berujar, tetapi bijak bertindak!

Pertanyaan Pengetahuan Iman

Perjumpaan dengan saudara-sau­dari yang berbeda pengakuan imannya dapat menjadi satu tantangan, sekaligus kesempatan untuk memur­nikan dan mematangkan kesadaran religius pribadi. Perjumpaan atau dialog antarumat beragama seharusnya membantu umat untuk mengembang­kan doa dan pengalaman mistik mere­ka, begitu pula keterlibatan sosial politik dalam konteks kemajemukan budaya-agama. Seperti dikatakan oleh John S. Dunne dalam bukunya, The Way of All the Earth. Experiments in Truth and Religion (1978), kepriha­tinan kita harus melintas melalui agama-agama lain dan pulang kembali ke tradisi sendiri dengan satu pema­haman baru.

Membekas di kenangan saya persahabatan dengan teman muslim di Jakarta. Mas Umar namanya, seorang ustad muda, bekas aktivis PKS yang cukup radikal itu. Dia sempat menjadi koordinator kampus kemahasiswaan untuk perekrutan kaum muda PKS. Dengan jujur dia pernah mengatakan pada saya tentang cita-cita politiknya. Dia ingin memberikan sumbangan untuk memperluas visi partainya ke arah keterbukaan pada semua kenya­taan sosial religius di Indonesia. Mas Umar sendiri seorang yang terbuka untuk dialog. Kami cepat menjalin persahabatan, bertukar pikiran tentang inisiatif partainya, bertukar penjelasan tentang beberapa konflik Kristen dan Islam dari sudut pandang yang lebih majemuk.

Beberapa kali saya menerimanya menginap di tempat kami, seminari Xaverian di Jakarta. Dia kerasan rupanya, meskipun kami tidak membuat suguhan istimewa, kecuali mendengarkan ceritanya sambil minum teh, membiarkannya hadir dalam kegiatan sehari-hari di komu­ni­tas saya. Lalu, tiap kali dia pamit untuk berdoa di kamarnya. Begitu seterusnya, tiap kali di telepon saya dengar bahwa dia berniat datang kem­bali karena merasa kerasan. Waktu pulang ke kampungnya untuk liburan, saya suka titip salam buat bapaknya yang seorang kyai dari Nahdatul Ulama. Mas Umar bukan hanya menjadi sahabat saya, tapi juga pelan-pelan jadi teman mereka yang tinggal sekomunitas dengan saya. Satu saat dia pernah mengatakan, “Sebelum mengalami hari-hari bersama kalian, saya yakin bahwa hanya orang muslim saja yang selamat. Sekarang sesudah pengalaman ini, saya mulai ragu dalam hal ini…

Sintesis Hidup Kristiani dalam Dunia Kini

Hidup kristen sebagai hidup mengikuti jejak Yesus Kristus mem­punyai dua dimensi yang tak terpisah­kan, mistik dan politik, keduanya saling berkaitan. Mistik, karena menyentuh pengalaman pribadi setiap orang kristen. Politik, karena mendo­rong untuk memajukan solidaritas hidup yang semakin manusiawi, sema­kin adil dan bebas dari setiap bentuk perbudakan. Mistik kristen itu satu hidup mistik triniter yang mengikut­sertakan orang beriman pada misteri hidup Allah yang tak terselami, tetapi dapat dirasakan dalam hidup, dalam hubungan kasih Yesus yang memang­gil Allah, Abba, Bapa, yang mengutus Roh kasih persaudaraan-Nya (1Yoh 4:7-16). Makna politis pengalaman ini adalah kesadaran akan panggilan kita untuk bekerja dalam situasi konkret di dunia ini. Iman trinitaris kita meng­andung satu corak politik karena persatuan dengan hidup ilahi berarti juga persekutuan dengan belas kasih­an-Nya akan dunia yang nyata ini.

Dalam sejarah Gereja Indonesia, pemahaman dan kesaksian kristen banyak berhubungan dengan keter­libatan sosial politik dari Gereja dan hubungan dengan saudari-saudara yang berbeda agama dan keyakinan. Dalam masa kolonial, Gereja kiranya kurang mempermasalahkan soal penjajahan. Oleh karena itu tidak heran bahwa agama kristen sering diidentikkan dengan agama kolonial. Keterlibatan orang-orang kristen Indonesia dalam gerakan kemer­dekaan telah mengubah gambaran Gereja Indonesia itu. Warisan Gereja Kristen Indonesia itu, di hadapan kekuasaan politik yang dominan di masa apa pun seharusnya menjadi tantangan bagi Gereja. Gereja harus senantiasa bertanya apakah posisi mereka cukup jelas berada di pihak yang miskin dan termarjinalisasi. Gereja bersama-sama dengan saudara-saudari yang berkeyakinan lain harus berjuang untuk senantiasa memajukan nilai-nilai Kerajaan Allah dan hak-hak asasi manusiawi.

Integritas Terbuka dalam Masyarakat Multireligius

Cara hidup yang dialogis dan transformatif bukanlah satu sinkre­tisme dalam arti yang negatif, tetapi lebih-lebih merupakan satu simbiosis. Dalam dialog dengan saudara-saudari yang berlainan iman perlu diingat bahwa tradisi dan kebenaran kristiani itu bukan eksklusif, karena semua saling berkaitan, tetapi juga bukan semata-mata inklusif terhadap tradisi-tradisi dan kebenaran religius yang lain. Inklusivisme dapat mengabaikan identitas dari tradisi-tradisi lain dengan sekadar merangkul dan menerimanya secara positif ke dalam tradisi sendiri dan menaruhnya di bawah payung keagamaan yang sama. Jika demikian, inklusivisme hanya merupakan satu bentuk eksklusivisme terselubung, satu kolonialisme paternalistik.

Dengan mengatakan demikian, bukan berarti kita mau menerima satu bentuk relativisme yang mengabaikan segala perbedaan, seolah-seolah semua agama sama saja. Tidak mungkin di­abai­kan kenyataan perwahyuan yang diterima masing-masing pelaku dialog dalam pengalaman iman pribadi mereka. Kita sampai pada keyakinan kristiani dalam keterbukaan ini justru karena Yesus Kristus.

Intisari pengalaman ini bagi orang kristiani tidak lain adalah Yesus Kris­tus, sakramen dan perantara kepada Allah. Orang-orang kristiani memberi kesaksian bahwa perwujudan manu­siawi Allah di dunia terjadi dalam diri Yesus melalui Roh Kudus. Meskipun demikian, tidak berarti orang kristen menolak manifestasi perwahyuan Allah dalam tradisi keagamaan yang lain. Kemampuan kita untuk mema­hami misteri Allah itu terbatas karena Allah selalu lebih besar dari segalanya (Deus sempre maior). Oleh karena itu perjumpaan dengan tradisi-tradisi keagamaan lain justru merupakan konfrontasi yang saling memperkaya. Tradisi-tradisi keagamaan non-kris­tiani bukan hanya sekadar persiap­an untuk sampai ke pewartaan Injil, bukan pula satu penyimpangan dari kabar gembira. Masing-masing tradisi mempunyai maknanya sendiri dalam pengungkapan misteri Allah di dalam sejarah. Jadi dialog dan kerja sama antar umat beragama perlu untuk lebih memahami dan mende­kat­kan diri pada misteri Allah yang satu.

Dengan demikian, harus jelas dibedakan pluralisme indiferen dengan pluralisme yang dialogis. Yang pertama tidak punya integritas, sementara yang kedua terbuka untuk berdialog dan semakin teguh dalam kepribadian justru karena keterbukaan itu. Sikap yang dibutuhkan dalam kemajemukan religius semacam ini adalah mengakui dan menerima keutuhan dan makna yang unik dari masing-masing agama. Sikap ini menyadarkan bahwa semua pihak dapat belajar dari yang lain untuk saling memperkaya. Integritas yang terbuka memandang serius pengakuan iman dan ungkapan keagamaan pribadi sedemikian halnya iman dan keagamaan dari yang lain, dan dengan demikian menawarkan kemungkinan terbaik untuk dialog dan hubungan timbal balik yang saling memperkaya. Sebagaimana pernah dikatakan Prof. Abdul Munir Mulkhan, Guru Besar IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dalam satu tulisannya di harian Kompas: “Menjadi orang religius (beragama) zaman sekarang berarti menjadi orang yang inter-religius.

Belajar dari saudara-saudari beriman lain dengan demikian, membantu kita untuk memperdalam pemahaman iman sendiri. Refleksi dan perumusan iman kita harus berfungsi bukan hanya sebagai intellectus fidei (pengetahuan iman), tetapi juga sebagai intellectus amoris (pemahaman kasih) yang terwujud dalam aksi (politik) dan dalam kontemplasi (mistik). Doa bersama pemeluk agama lain untuk perdamaian menjadi satu perwujudan dari aksi tersebut.

Mgr. Vitus Rubianto Solichin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.