Romo Agustinus Mujihartono lahir di tengah keluarga katekis. Sebagai imam, Romo Agus tentulah ter­inspirasi oleh sosok, spiritualitas, dan teladan hidup orangtuanya. Ayahnya Antonius Mujimin adalah katekis, tokoh awam – salah satu pioneer Gereja Katolik di Riau – ter­utama Paroki Santa Teresia Air Molek.

Di tengah-tengah keluarga, terutama adik-adiknya sosok Romo Agus tergolong “asing”. Karena sejak kelas V SD, sudah meninggalkan rumah, tinggal di kompleks pastoran Air Molek. Lulus SD, pindah ke Padang masuk ke Seminari Maria Nirmala – bersekolah di SMP Yos Sudarso, lalu melan­jutkan ke SMA Don Bosco Padang. Saat itu, adik-adiknya masih kecil-kecil bahkan ada di antara adiknya belum lahir. Selama enam tahun di Padang, Romo Agus jarang pulang ke rumah, hingga melanjutkan pendidikan calon imam di Pematangsiantar – Sumatera Utara. Perjumpaan secara fisik yang minim inilah yang membuat mereka, “asing” satu sama lain. Bahkan, adiknya Paskalis Nugroho Hadi mengaku tidak tahu kalau memiliki saudara laki-laki lebih tua darinya.

Seiring waktu, sarana komunikasi makin berkembang, komunikasi Romo Agus dengan adik-adiknya semakin terbuka, relasi makin dekat. Di mata adik-adiknya yang dikenalnya setelah sama-sama dewasa, Romo Agus adalah pribadi yang: tegas, berjiwa care, humoris, dan ngenyekan (bahasa Jawa) – berseloroh bernada mengejek yang menunjukkan kedekatan secara personal. Adik-adik dan anak-anak mereka memanggil Romo Agus dengan panggilan familiar Pakde Romo.

Masing-masing adiknya punya peng­alaman mengesankan dengan Romo Agus. Satu-satunya adik perempuan, Emilia Mujiati merasakan ketegasan Romo Agus. “Karena kangen, tanpa memberi tahu dari Muara Bungo saya ke Padang. Sampai di pastoran, saya dimarahi. Pakde Romo segala sesuatu tidak boleh grusa-grusu, mesti terencana. Mungkin Pakde Romo tidak mau terganggu pelayanannya karena kedatangan saya yang tiba-tiba”, katanya.

Adik nomor tiga, Paskalis Nugroho Hadi mengatakan, “Pakde Romo dengan saya suka ngenyekan. Nada bicara­nya membuly, tetapi sesungguhnya itu menunjuk­kan kedekatan secara personal. Pakde Romo tahu, meskipun di-nyek (diejek), saya tidak marah”.
Bagi Paulus Ariyanto Budi Santoso (nomor 4), sosok Romo Agus adalah pribadi yang care, penuh perhatian, dan ramah. Setahu Ari, hal itu dilakukan Romo Agus kepada orang-orang yang dikenal.

Bagi adik bungsunya, Konstantinus Joko Pamungkas sosok saudara sulungnya itu punya sense of humor yang tinggi. “Saya paling terkesan, setiap kali bersama, ter­uta­ma di Pastoran Santa Maria Padang selalu diajak main kartu. Kalau kawan bermain kurang, dipanggilnya siapa saja yang ada. Yang kalah bermain dihukum, misalnya memasak mie instan. Pakde Romo pernah kalah dan konsekuen menja­lani hukuman, kami pun menerta­wakan­nya.” katanya.

Mengalami Jatuh Bangun

Perjalanan panggilan imamat, pendi­dikan di seminari Romo Agus hingga menjadi imam tidak selalu berjalan mulus. Jatuh pun bangun dialaminya. Titik persimpangan dan kebingungan dialaminya saat kelas III SMA. “Kelas III SMA saya berada dalam ambang kebingungan, antara meneruskan panggilan menjadi imam atau memikirkan jalan hidup lain dengan konsekuensi meninggalkan seminari,” tulisnya dalam sebuah refleksi. Romo Agus memilih lanjut menapaki jalan panggilan. Sebagai imam, Romo Agus menyadari siapa dirinya, yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Soal kesehatan Romo Agus menyadari benar adalah salah satu titik kelemahannya. Hal itu diakui Romo Agus dalam refleksi tertulis yang disampaikan kepada Bapa Uskup Mgr. Martinus Dogma Situmorang, OFMCap sesaat sebelum dilantik sebagai lektor dan akolit. “Saya mempunyai kecenderungan kurang memperhatikan kesehatan yang mengakibatkan jatuh sakit,” tulisnya.

Totalitas diri dalam pelayanan inilah sosok Romo Agus. Selama melayani umat Paroki Santa Maria Bunda Yesus Tirtonadi seolah-olah tidak mempedulikan kondisi dirinya sendiri. Meskipun sakit, susah berjalan, tetap mendaki bukit, entah siang dan malam untuk pelayanan apa pun; menguburkan umat meninggal, pelayanan sakramen, pendalaman iman, dan pastoral lainnya. Juga pelayanan untuk umat diaspora – yang terpencar dan terpencil di Kabupaten Pesisir Selatan pun tak diabaikannya.

Di mata rekan-rekan seimamat dan umat, sosok Romo Agus merupakan seorang imam yang sederhana, taat dan memiliki kepedulian dan kasih saying yang mendalam kepada umat yang dilayaninya. Dalam refleksinya, Romo Agus menyatakan karena Tuhan Yesus telah mati untuk dia, makai dia pun terpanggil untuk membagikan hidupnya sampai akhir hayat. Kendatipun dirinya terbaring di RS Yos Sudarso semua urusan paroki masih dilayaninya dengan penuh tanggungjawab. Kalau ada yang butuh tanda tangan surat, umat yang mau kanonik semasih bisa pasti dilayaninya.

Setelah melihat kondisi Romo Agus, Bapa Uskup Mgr. Vitus Rubianto beberapa kali mengunjunginya dan meminta untuk berobat lebih serius dan mengurangi beban tugasnya, dengan penuh kasih sayang yang luar biasa, pelan-pelan membujuknya dan pada akhirnya Romo Agus baru mau menerima untuk menjalani perawatan di rumah sakit. Dengan sedikit “paksa rela” Romo Agus beberapa lama dirawat di RS Yos Sudarso. Karena membutuhkan penanganan lebih serius rencana dirujuk ke RSUP M. Djamil Padang namun ditolaknya. Akhirnya pengobatan dilanjutkan ke RS Santa Maria Pekanbaru.

Ternyata Tuhan berkehendak lain. Tuhan telah melihat perjuangannya, Tuhan lebih memilihnya untuk lebih dekat dengan-Nya, lebih dekat dengan ayahnya yang tidak lama sebelumnya telah dipanggil Tuhan. Tuhan lebih mengasihi dan mencintai Romo Agus. Selamat jalan Romo Agus. Engkau telah bersama Tuhan Yesus. Doakan kami. Kami mohon maaf jika pernah menyakiti hati Romo. Kami akan selalu mendoakanmu. (ws)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.