Hari Raya Paskah II (24 April 2022)
Kis. 5:12-16; Mzm. 118: 2-4, 22-24, 25-27a;
Why. 1:9-11a, 12-13, 17-19;
Yoh 20:19-31

ANDA TAHU atau mengenal Uskup Agung Oscar Armulfo Romero dari kota San Salvator. Iman akan misteri penderitaan, korban, dan Paskah membuatnya tidak gentar menghadapi maut. Uskup Agung Romero terkenal karena hidupnya yang penuh pengabdian kepada umat dan masyarakatnya, khususnya kepada masyarakat kecil yang miskin dan tertindas. Uskup Romero tidak segan-segan memperingatkan para penguasa negerinya yang bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat kecil yang tidak berdaya. Tentu saja para penguasa itu tidak senang. Para penguasa berusaha untuk “mengamankan” Uskup Romero.

Pada tanggal 24 Maret 1980, Uskup Romero mati ditembak oleh penembak sewaan. Uskup Romero mati tertembak pada saat sedang merayakan Ekaristi dan mengucapkan kalimat konsekrasi: “Ini tubuh-Ku, yang dikorbankan bagimu, dan ini darah-Ku yang ditumpahkan bagi kamu”. Uskup Romero tahu akan resiko yang dihadapinya dengan perjuangannya untuk kaum kecil di negerinya. Tetapi Uskup Romero juga tahu akan berkat yang akan diberikan Allah untuk segala perjuangannya.

Injil hari ini menampilkan salah satu adegan Thomas yang tidak mempercayai para murid lain. Di suatu tempat dengan pintu-pintunya terkunci rapat, berkumpullah para murid. Dengan penuh rasa takut kepada orang-orang Yahudi, mereka khawatir terimbas akan tragedi penyaliban itu. Tentu saja dari mereka muncul perasaan bersalah bercampur kesedihan dalam diri mereka. Selama ini mereka selalu bersama-sama dengan Yesus, namun ketika Yesus menderita tidak ada Bersama-Nya. Mereka semua menyelamat­kan diri dan meninggalkan Tuhan Yesus dalam penderitaan-Nya.

Di tengah kecamuk perasaan itu, Tuhan Yesus menampakkan diri-Nya, tetapi Thomas tidak percaya. Dalam penampakan-Nya, Tuhan Yesus pun berusaha meyakinkan Thomas. Akhirnya, Thomas menyerah dan percaya. “Ya Tuhanku dan Allahku!” katanya. Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Thomas percaya karena telah melihat, tetapi Tuhan Yesus menyatakan pada kita saat ini: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”.

Dalam hal iman kepada Tuhan, percaya kepada sesuatu yang tidak dilihat bukanlah sama artinya dengan mempercayai yang tidak masuk di akal, tetapi sedang mempercayai kuasa yang mengatasi segala akal dan pikiran. Tuhan Yesus menyatakan berbahagialah saat ini yang mempercayai-Nya walaupun bukan lagi berada pada sejarah ketika Yesus menyatakan diri sebagai manusia.

Walaupun bukanlah saksi sejarah perbuatan Tuhan di dalam Yesus Kristus nyata dalam dunia ini, tetapi kita orang percaya mendapatkan kuasa-Nya dan merasakannya hingga saat ini. Tidak ada yang mustahil bagi orang percaya. Tuhan bekerja dan berkarya hingga saat ini dalam kehidupan manusia. Maka apapun yang boleh terjadi dalam kehidupan, iman akan berbuahkan sukacita dalam kehidupan, yang memampukan untuk berbuat dan berkarya di dalam kuasa Tuhan. Berkarya dalam kuasa Tuhan itulah yang diyakini dan dilakukan Uskup Romero. Uskup ini yakin dalam imannya semua pengurbanannya akan berbuah kemuliaan bagi dirinya. Uskup Romero percaya meski tidak melihat. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.