Kapan menyusul? Ditunggu undangannya, ya! Pertanyaan jamak terdengar dalam percakapan saat menghadiri pesta perkawinan. Pertanyaan mengandung maksud menanyakan kepada seseorang saatnya menikah. Apalagi kalau orang itu datang ke pesta perkawinan bersama pacar atau teman yang berlainan jenis.
Pertanyaan tersebut wajar, lumrah-lumrah saja. Sebab pada satu titik waktu saat usia tergolong matang, seseorang akan dihadapkan pada pilihan: menikah atau tetap melajang? Saat di persimpangan pilihan tersebut, manusia punya pilihan bebas untuk memutuskan. Hidup sendirian – melajang – tidak menikah! Atau menikah? Semua pilihan ini ada resikonya masing-masing.

Kalau menikah, memiliki pasangan hidup tentu diharapkan menjadi penyemangat dan membuat hidup lebih bahagia. Namun, untuk sampai ke sana (bahagia) banyak syarat dan ketentuannya. Saling cinta saja, pasti tidaklah cukup. Faktor ekonomi turut menentukan kebahagiaan sebuah perkawinan. Bagaimana keluarga bisa hidup, kalau di antara suami isteri atau kedua-duanya tidak memiliki sumber penghidupan atau pekerjaan apa pun profesinya.

Kini banyak didapati tidak sedikit lelaki atau perempuan lajang yang masih berstatus ‘single‘ (tunggal) – meski mereka telah mapan ekonomi dan pendidikannya. Salah satu alasannya adalah kesibukan menjalankan aktivitas sehari-hari sehingga tidak punya waktu cukup membangun hubungan personal. Di lingkungan Katolik, pria dan perempuan tidak menikah itu hal biasa. Para imam, biarawan-biarawati mereka tidak menikah. Mereka memutuskan dengan pilihan bebas. Di kalangan umat Buddha pun demikian, Para biksu dan biksuni juga selibat, tidak menikah dengan pilihan bebas seperi para imam, biarawan-biarawati Katolik.

Awam Tidak Menikah?

Sekali lagi melajang atau menikah adalah pilihan. Adalah fakta, kebanyakan awam Katolik memilih hidup berkeluarga daripada yang melajang. Jumlah awam yang menikah jauh lebih banyak disbanding yang melajang. Meski demikian ada juga orang yang tidak menikah meski usia matang, ekonomi mapan – semua serba kecukupan. Baik yang menikah atau melajang setiap orang punya jawaban dan alasan masiing-masing.

Kristina Sakoddobat, umat Katolik di Selatpanjang menyatakan, “Jawaban pilihan ini tergantung di posisi mana sedang berada. Melajang bagi yang sedang melajang lebih baik hidupnya. Bebas bepergian, tidak terikat akan suatu tanggung jawab keluarga selain pekerjaan. Nyaman, aman, tenteram. Syaratnya, asal bisa hidup mandiri dan bertanggung jawab atas diri sendiri.”

Joseph Firmansjah berpendapat sama halnya berkeluarga adalah panggilan hidup, melajang juga menjadi panggilan hidup juga. Namun demikian, melajang akan lebih berarti bila melajangnya mengikuti Yesus seperti yang dilakukan para pastor dan suster, bruder, dan biarawan-biarawati. Hidup melajang – selibat seseorang menjadi lebih berarti. Menikah pun juga menjadi lebih berarti, karena berkeluarga juga merupakan panggilan hidup, bukan semata-mata kebutuhan biologis tetapi mengenal pribadi-pribadi yang hidup dalam berumah tangga. Tuhan Yesus hadir di dalam keluarga. Keluarga Kudus sebagai contoh teladan.

Bagi Sutanto Sagalak menikah adalah pilihan hidupnya. Menurut warga Paroki Stella Maris-Betaet, Siberut Barat, Mentawai menikah paling bahagia, karena bahagia itu bernilai relatif dan melajang itu menjadi paling senang. Sementara itu, Stephanus Sakakaddut, katekis Wilayah Sagulubbek, Paroki Siberut, Mentawai menambahkan, “Para lajang, baik lelaki maupun wanita, yang belum menentukan pilihannya menikah atau tidak dapat sungguh matang mengambil keputusan.” Nova Cicilia Siahaan mencontohkan dirinya. Dulunya lajang namun kini bahagia setelah mengambil keputusan menikah.

Warga Paroki St. Fransiskus Assisi-Padang, Maria Elvarini mengungkapkan kebahagiaanya setelah mengambil keputusan untuk menikah. Kebahagiaannya saat ini adalah menikah dengan lelaki yang dicintainya. “Hambatan suka dan duka pasti ada, namun satu per satu dijalani, dilalui dan terlewati. Selalu bersyukur merupakan hal yang membuat kami berdua selalu kuat, walau kadang kebahagiaan itu terasa masih jauh, karena sering terjadinya pertengkaran dipicu oleh banyak hal. Namun, di saat yang sama itulah, kami juga belajar untuk bisa saling melengkapi, menekan egoisme demi kasih dan cinta,” katanya.

Mateus Samalinggai, ayah dua anak yang berdomisili di Tuapeijat, Sipora Utara, Kep. Mentawai berpendapat pilihan hidup melajang juga bisa merupakan pilihan bagus bagi seseorang. Menurut Mateus alasan seseorang melajang, misalnya agar persoalan dan beban hidupnya tidak begitu rumit, bebas menikmati hidup, tidak ada yang mengatur, memarahi, mencemburui, bebas memilih teman, bebas berekspresi. Keuangan bebas menggunakan bahkan bebas membantu siapa saja. “Hanya saja, ada saatnya seorang lajang mengalami kesepian dan butuh perhatian, dukungan keluarga dan teman-sahabat, Melajang boleh saja, asalkan tidak salah teman bergaul,” katanya.

Penyanyi legend asal Mentawai ini mengungkap hal bakal terjadi tatkala seseorang menikah. “Beban dan tanggung jawabnya sangat besar. Hal ekonomi misalnya mesti mampu menafkahi keluarga; dari biaya kesehatan, pendidikan, sandang, pangan, papan, dan pajak. Dalam hal ini, patut disyukuri bila didapat pendamping hidup yang pintar dan mengerti ekonomi keluarga. 

Bila tidak, bakalan kacau dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya egois, mata duitan, pelit, kurang pergaulan, suka membatasi kreativitas pasangan hidupnya, pencemburu, tidak sayang keluarga. Atau, beranggapan keluarganya sajalah yang harus disayang, setiap hari menuntut. Akhirnya, muncul penyesalan dan perselingkuhan. Namun, sebaliknya, kalau mendapat pasangan yang penuh pengertian, menikah menjadikan lajang punya teman curahan hati, berbagi, tidak kesepian, dapat menerima kelebihan dan kekurangan pasangan hidupnya maka tercipta keluarga yang bahagia!” (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.