Kamis Putih – Perjamuan Terakhir (14 April 2022)
Kel. 12:1-8, 11-14; Mzm. 116:12-13, 15-16c, 17-18;
1Kor. 11:23-26; Yoh 13:1-15

KEBIASAAN makan bersama menjadi tradisi dalam setiap suku bangsa atau kelompok. Kebiasaan makan bersama dilakukan tidak hanya saat bahagia. Di dalam komunitas masyarakat adat tertentu mengadakan acara makan bersama di saat duka (kematian). Salah satu makna dari kebiasaan makan bersama tanda bukti cinta dan kebersamaan dalam satu komunitas masyarakat atau kelompok.

Dalam konteks kematian, acara makan bersama selain tanda cinta antara orang yang meninggal dan ditinggalkan juga tanda kebersamaan. Antara yang meninggal dan keluarganya tetap ada ikatan. Dalam makan bersama biasanya selalu ada kata-kata (petuah) dan tindakan (simbolik).

Kata-kata dan tindakan Yesus pada saat perayaan Perjamuan Akhir penuh simbolik dan memiliki makna mendalam. Yesus membuktikan cinta kepada dan kebersa­maan dengan para murid-Nya dengan makan bersama. Dengan tindakan itu Yesus juga membuktikan akan selalu ber­sama para murid-Nya. Perjamuan Ter­akhir menghadirkan makna yang sangat men­dalam bagi segenap umat Katolik di selu­ruh dunia.

Pada momentum Perjamuan Terakhir itulah, Yesus mengucapkan kata-kata dan tindakan-tindakan simbolis untuk menghadirkan Sakramen Ekaristi Kudus dan Sakramen Imamat, yang selanjutnya dirayakan untuk mengenang sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus serentak sebagai momentum berahmat untuk mempersatukan umat Allah, sebagai Gere­ja.

Yesus sebagai Imam Agung merayakan Perjamuan Terakhir bersama para murid, yang kelak dirayakan terus-menerus untuk mengenang Kritus dan sebagai ungkapan pernyataan iman dan kesetiaan para murid dalam melaksakan amanat-Nya. Pengalaman merayakan Kamis Putih yang berbeda di setiap tempat mudah-mudahan meningkatkan kerinduan umat yang mendalam terhadap perjumpaan dengan Yesus secara batiniah.

Perayaan Perjamuan Terakhir semoga membangkitkan semangat kerinduan untuk merayakan Ekaristi Kudus. Tuhan memahami semua pergumulan dan kerinduan kita saat-saat ini. Tuhan Yesus menghendaki atau ingin untuk makan bersama para murid-Nya. Semoga kita pun selalu rindu untuk makan bersama Tuhan, di dalam dan melalui Perayaan Ekaristi. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.