Hari Raya Paskah III (1 Mei 2022)
Kis. 5:27b-32, 40b-41; Mzm. 30:2,4,5,6,11, 12a, 13b;
Why. 5:11-14;
Yoh 21:1-19 (panjang) atau Yoh 21:1-14 (singkat)

SENGSARA DAN WAFAT Tuhan Yesus pastilah mendatangkan prokontra di kalangan masyarakat Yahudi saat itu. Bagi para penguasa politis, sosok Yesus adalah ancaman yang mesti disingkirkan bagaimana pun cara. Bagi mereka, Yesus adalah pecundang. Oleh sebab itu, mereka dengan berbagai cara, tipu muslihat, menutup mata hati untuk menyingkirkan Yesus. Sebaliknya, bagi masyarakat dan semua orang yang telah menerima kebaikan Yesus akan menganggapnya sebagai sosok pahlawan. Kehadiran seorang tokoh yang dipandang sebagai penyelamat atau penolong akan selalu dipandang dari dua sisi, yaitu: pahlawan dan pecundang.

Di zaman kolonial, bagi pemerintah Hindia Belanda sosok seperti Pangeran Diponegoro, Hasanudin, Patimura dan semua tokoh pergerakan kemerdekaan RI dianggap sebagai pecundang. Sebaliknya, bagi rakyat Indonesia mereka adalah pahlawan.

Para rasul dan murid Yesus mungkin saja masih mempunyai pola pemikiran seperti orang-orang Yahudi bahwa Yesus nantinya adalah tokoh poilitik yang akan menjadi pembebas yang akan menggantikan tokoh yang sedang berkuasa. Oleh sebab itu, mereka mengalami kekecewaan ketika tokoh yang diharapkan itu “kalah”. Bahkan “kekalahannya” sangat tragis karena mati disalibkan. Murid-murid Tuhan Yesus, selama mengikuti jejak-Nya selalu bersama-sama, mengetahui ajaran-Nya, melihat dan merasakan mukjizat-Nya. Namun ketika Yesus menanggung sengsara dan tersalib semua pengenalan mereka akan Tuhan Yesus hilang.

Banyak juga di antara orang Kristen saat ini yang selalu dekat dengan Firman Tuhan, berdoa, dan beribadah. Namun ketika kesusahan datang dalam hidupnya, semua pengenalan akan Firman Tuhan itu hilang. Hal ini sama seperti murid-murid Yesus yang tidak mengerti bahwa kematian Tuhan Yesus adalah jalan untuk kehidupan. Mereka merasa Tuhan tidak lagi berpihak kepada mereka.

Sikap yang tepat adalah dalam keadaan apa pun baik susah, terlebih senang tindakan yang tepat untuk meresponnya adalah menyatakan “inilah perbuatan Tuhan”. Kita mengenal Tuhan ketika Tuhan bertindak dalam hidup kita. Dalam keadaan apa pun. Hari ini, dari bacaan Injil kita mendengar Tuhan Yesus kembali menyapa para murid-Nya. Dikisahkan bahwa Petrus sebelum mengikut Yesus adalah seorang pencari ikan atau nelayan. Simon Petrus memutuskan untuk menangkap ikan bersama temannya yang lain. Biasanya waktu yang tepat untuk menangkap ikan adalah pada malam hari.

Pagi harinya, tiba-tiba Yesus muncul, menampakkan diri kepada mereka dan meminta ikan. Tetapi mereka tidak punya ikan tangkapan. Lalu Yesus menyuruh mereka menebarkan jala di sebelah kanan perahu. Mereka taat sekalipun sudah semalaman tidak mendapatkan ikan. Mereka menebarkan jala sesuai yang diperintahkan, dan hasilnya ternyata luar biasa. Seorang dari mereka yaitu Yohanes tiba-tiba sadar dan berteriak “itu Tuhan”. Setelah Tuhan Yesus bertindak barulah mereka mengenali Yesus.

Ketika para murid merasa gagal, hilang harapan dan putus asa, Yesus datang dengan cara yang luar biasa untuk menemui mereka. Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan yang memperhatikan kehidupan mereka dan memenuhi kebutuhan mereka. Tuhan Yesus ingin murid-murid-Nya tahu bahwa Ia memelihara dan memerhatikan mereka. Yesus menyediakan api unggun untuk mereka. Melalui peristiwa ini, Yesus mengajarkan juga bahwa Dialah sumber tempat manusia bergantung. Bergantung pada-Nya dalam setiap situasi dan keadaan adalah penting, karena Dialah yang berkuasa atas segala sesuatunya. Tuhan berkuasa atas seluruh kehidupan kita. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.