Sabtu sore Romo Rebet mengisi waktu luangnya dengan melukis. Sadar akan kemampuan dirinya, lama sekali Romo Kebet menemukan ide perihal apa yang akan dilukisnya. Sete­lah menyiapkan peralatan seadanya, Romo Kebet mulai menggerakkan pensilnya.

Romo Kebet melukis lukisan abstrak. Di saat sedang konsentrasi, datanglah seorang muda dan menyapanya.
“Sedang ngapain, Romo?” sapa pemuda itu.
“Sedang melukislah….,” jawab Romo Kebet. Pemuda meminta izin apakah mengganggu kalau dirinya menanyakan sesuatu.
“Silakan, mau bertanya apa,” pinta Romo Kebet.
”Mo, Tuhan itu nggak adil yaa….?” kata pemuda itu.
“Lohh..mengapa kamu mikirnya demikian?” tanya Romo Tebet dengan yang keheranan sambil menghentikan goresan pensilnya.

Lalu pemuda menceritakan pengalamanya, “Saya pengin sekali melanjutkan kuliah. Namun, ketika ujian masuk, selalu gagal. Padahal saya sudah belajar dengan sungguh sungguh. Saya beli buku panduan ujian dan mempelajari. Tetapi, teman saya, tidak belajar lulus dia. Saya yang sudah berusaha lebih tetapi masih gagal.”

“Ohh… itu masalahnya. Kamu tahu atau pernah dengar nama Pablo Picasso pelukis terkenal yang lukisannya beraliran kubisme atau abstrak. Mungkin tidak semua orang menyukai lukisannya. Orang lebih menyukai lukisan Leonardo Da Vinci yang lukisan indah dan jelas bentuknya.” ujar Romo Kebet.

“Lalu apa hubungannya dengan curhat saya, Mo?” tanya pemuda itu masih bingung.
Lalu Romo Kebet menjelaskan.
Ketika hasil yang didapatkan tidak sesuai harapan, orang cenderung kesal kepada Tuhan. Apalagi ketika melihat orang lebih beruntung, orang cenderung “mengadili” Tuhan itu tidak adil.

Lukisan kubisme karya Picasso itu, bagi orang yang mengerti lebih mahal harganya daripada lukisan Da Vinci. Orang mau yang membeli dengan mahal lukisan itu karena mengerti maknanya, bukan sekedar melihat yang kasat mata. Lukisan yang kata orang jelek, bagi orang lain yang bisa memaknainya bernilai tinggi dan berharga mahal.
“Saya tidak mengerti, Romo!’ sela pemuda itu.

Romo Kebet melanjutkan penjelasannya. Itulah hidup ini. Tuhan adalah Pelukis Ulung. Tuhan telah meng­gam­bar kita dengan makna yang indah, merencanakan indah untuk hidup ini. Ketika gagal, bukan berarti Tuhan tidak sayang atau tidak adil pada kita. Mungkin Tuhan sedang menorehkan warna gelap untuk me­lengkapi lukisan indah yang direncanakan-Nya untuk kita.

Mendengar itu, legalah perasaan pemuda ini. Ia tidak lagi pesimis.
“Mo, kalau lukisannya jadi, untuk saya yaa…” ucap pemuda itu.
“Tidak boleh! Lukisan saya ini mahal dan sangat berharga, meski tidak jelas bentuknya.” Kata Romo Kebet sambil berkelakar. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.