(Refleksi Atas Pesan Paus untuk Hari Komsos 2022)

Tajuk “Mendengarkan Dengan Telinga Hati” digaungkan Paus Fransiskus pada Hari Komunikasi Sedunia ke-56. Dalam era digital dan kondisi pandemi seperti sekarang ini, tentu saja tema ini sarat makna dan pesan yang sangat mendalam. Dalam pesannya, Bapa Suci mengungkapkan kenyataan bahwa kita sedang kehilangan kemampuan mendengar­kan orang-orang di sekitar kita, baik dalam hubungan yang biasa sehari-hari maupun ketika memperdebatkan isu-isu terpenting dalam kehidupan masyarakat. Contoh konkret yang seringkali kita jumpai adalah keluarga. Ketika setiap anggota keluarga memiliki kecenderungan hanya ingin didengarkan tanpa mau mendengarkan, maka hal ini akan menimbulkan dampak negatif. Di masa pandemi ini, isu kesehatan mental menjadi topik yang mulai muncul ke permukaan dan menjadi fenomena “puncak gunung es”.

Ada kisah seorang remaja bernama Juni. Ia anak tunggal yang lahir di keluarga yang tidak harmonis. Ayahnya seorang Katolik dan ibunya non Katolik. Terlihat kesedihan di raut wajahnya saat ditanya tentang keyakinan ayahnya. Juni selalu ragu menga­ta­kannya. Mengapa? Karena ayahnya jarang ke gereja dan sudah pernah menikah sebelum menikah dengan ibunya yang saat ini. Juni selalu berpikir bahwa tidak mungkin seorang Katolik bersikap seperti itu. Sikap yang jauh dari teladan Yesus. Ayahnya juga sering memarahi ibunya, akibatnya ibunya pun melampiaskan kekesalannya padanya. Juni adalah katarsis ibunya. Selain bersama ayah dan ibunya, Juni juga tinggal dengan bibi dan anak bibi bernama Mala yang berbeda 5 tahun usia darinya. Bibi dan Mala juga non Katolik. Relasi Juni dan Mala juga tidak terlalu baik. Mala sering sibuk dengan gadgetnya yang seakan memiliki dunianya sendiri.
Menjadi tantangan bagi Juni untuk ber­tahan dan bertumbuh dalam imannya sebagai orang Katolik. Juni bercerita jika pengetahuannya tentang iman Katolik banyak didapatkannya melalui partisi­pasinya dalam kegiatan OMK dan keikut­sertaan menjadi pendamping BIR-Misdinar di parokinya. Melalui momen itulah ia berelasi dan mengenal iman Katolik. Ia rindu jika ayahnya yang memberikan kate­kese untuknya, namun hal itu tidak pernah didapatkannya. Ia tidak pernah bercerita persoalan keluarga dan dirinya pada teman-temannya.

Ketika duduk di bangku SMP, Juni sering terkena panic attack. Pada saat serangan panik itu datang, tak jarang ia menyakiti diri sendiri entah dengan cara menggigit bibirnya sendiri, menjambak rambutnya, bahkan menyayat tangannya dengan benda tajam. Tidak satupun orang di rumahnya tahu dengan kondisinya karena tidak pernah bercerita. Ia berusaha untuk menyembunyikan semua itu. Suasana tidak harmonis pada keluarganya secara tidak langsung telah menjadikannya seorang yang pendiam. Baginya menceritakan persoalan dirinya hanya akan menambah persoalan di keluarganya sehingga sulit baginya menemukan seorang pendengar karena setiap anggota keluarganya masih belum selesai dengan urusan di dalam diri mereka masing-masing.
Sebuah pemikiran Bapa Suci bahwa manusia cenderung lari dari relasi, berpaling dan “menutup telinga” sehingga tidak perlu mendengar. Penolakan untuk mendengarkan sering berakhir dengan serangan terhadap yang lain, seperti terjadi pada para pendengar Diakon Stefanus yang “sambil menutup telinga menyerbu dia” (lih. Kis. 7: 57). Mungkin itu juga yang dirasakan Juni ketika bercerita pada ibunya. Pada saat Juni bercerita, ibunya seringkali merespon dengan omelan. Sebenarnya keinginan Juni hanya ingin bercerita dan didengarkan. Si ibu justru mengatakan supaya Juni tidak cengeng dan tidak mengeluh seakan melupakan bahwa Juni juga manusia yang memiliki sisi kera­puhan. Seorang anak yang ingin kasih sayang dari orangtua.
Semua orang bertelinga, tetapi sering mereka yang memiliki pendengaran sempurna tidak dapat mendengar­kan orang lain. Dalam kenyataan, ada orang yang tuli secara batiniah; keadaan ini lebih buruk dari tuli secara fisik. Mendengarkan sesungguhnya, bukan hanya berhubungan dengan indera pendengaran, tetapi keseluruhan manusia. Hati menjadi tempat mendengarkan yang sebenarnya. Raja Salomo, meski masih sangat muda, membuktikan dirinya bijaksana karena meminta Tuhan memberinya “hati yang mendengarkan” (lih. 1Raj. 3: 9).
Hal itu ­juga berdampak pada rasa ketidakpercayaan diri Juni ketika di sekolah. Ia cenderung pasif karena ada rasa trauma ketika berbicara takut salah dan takut dimarahi. Meski Juni anak pintar dan rajin, tetapi pasif untuk urusan mengemu­kakan pendapat ataupun beradu argumen karena sudah terdoktrin dalam dirinya bahwa perdebatan adalah pertarungan ego mau didengarkan, tanpa mau mendengar­kan. Juni jenuh dengan konflik di keluar­ganya dan memilih tidak ingin menambah persoalan lain.

Pendengar yang Mendengarkan

Tak ada tempat bagi Juni untuk bercerita. Kalaupun itu ada, sulit baginya untuk menceritakan persoalan, karena baginya persoalan keluarga tidak boleh sembarang cerita. Ia menjadi orang yang begitu protektif pada diri sendiri. Namun uniknya adalah Juni seringkali menjadi tempat cerita bagi teman-temannya. Pengalaman kekecewaan dan kesulitan hidupnya menjadikannya peka dan mampu mendengarkan. Ia seperti memahami perasaan orang lain ketika keadaan tidak baik-baik saja dan dalam kekecewaan namun tidak ada telinga untuk mendengarkan. Baginya ketika orang menceritakan setiap persoalan tidak perlu diberikan solusi. Terkadang cukup dengan meluangkan waktu untuk betul-betul men­dengarkan dan menggunakan hati untuk bisa berempati pada orang tersebut sehing­ga orang yang bercerita padanya merasa bahwa ia berharga dan tidak sendirian.
Seringkali dunia maya menjadi tempat pelarian Juni untuk mencari pendengar yang memahami dirinya. Dengan perkembangan teknologi, ia menggunakan postcard (aplikasi kartu post elektronik) dalam bercerita. Aplikasi yang penggunanya jauh lebih ramah dan sopan daripada aplikasi lainnya. Baginya, dengan cara seperti itu privasinya lebih aman dan bisa bercerita dengan tenang. Meskipun cerita yang disampaikan dalam tulisan, namun ia senang ketika mengetahui penerimanya menggunakan telinga hati ketika membaca tulisannya. Ia tidak merasa dihakimi dan dinasihati ketika menceritakan yang menjadi kegelisahannya setiap hari. Begitulah caranya menemukan pendengar yang mendengarkan dengan telinga hati yang sulit dijumpainya pada dunia nyatanya.
Pada saat pandemi, semua kegiatan belajar dilakukan di rumah dan secara online. Juni tinggal bersama ibu, bibi dan saudara sepupunya. Ayahnya sesekali datang ke rumah untuk sekedar urusan pekerjaan. Namun, tidak jarang terjadi perselisihan antara ibu dengan ayahnya setiap kali datang. Ketika Juni memasuki bangku perkuliahan ibunya menikah lagi. Ayah tirinya guru SLB sehingga mampu memahami situasi Juni. Ayah tirinya mencoba membangun komunikasi dengan Juni guna menjadi telinga hati Juni. Pada saat itulah ayah tirinya tahu bahwa mental Juni sedang tidak sehat. Seperti kata pesan Paus Fransiskus bahwa mendengarkan selalu butuh keutamaan kesabaran, bersama dengan kemampuan untuk membiarkan diri sendiri dikejutkan oleh kebenaran, bahkan jika hanya sebagian dari kebenaran pada orang yang sedang kita dengarkan. Ada sedikit kelegaan dalam diri Juni ketika kesesakan di hatinya sudah ada yang mendengarkan.

Dalam Kerapuhan, Iman Bertumbuh

Dalam lingkungan keluarga yang berbeda keyakinan, Juni berusaha tetap teguh dalam imannya. Dalam setiap kesesakan dan kerapuhannya, justru ia menemukan pertumbuhan relasi pada Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria. Tidak jarang ketika kekalutan itu datang, ia berdoa rosario. Dalam pengalaman imannya ia menemukan jika berdialog dengan Tuhan membuatnya merasakan ketenangan. Juni sempat merasa putus asa karena gagal terus saat tes masuk ke perguruan tinggi. Ayah tirinya kembali menjadi berkat Tuhan baginya karena dalam kegagalan tersebut ayahnya tetap terus mendukung dan menjadi pendengar yang baik baginya, hingga akhirnya Juni diterima di universitas Katolik di Jawa Tengah. Seperti hal yang diungkapkan Sri Paus bahwa kita belajar mendengarkan tidak hanya berarti menangkap suara, tetapi pada dasarnya terhubung dengan relasi dialogis antara Allah dan umat manusia.
Dari proses kehidupan yang dijalaninya, Juni percaya rencana Tuhan pasti indah. Awalnya ia ingin mengambil jurusan Pendidikan Luar Biasa namun gagal, dalam percobaan kesekian kalinya Ia diterima di jurusan psikologi. Juni memiliki cita-cita sederhana, yaitu bisa menolong anak-anak yang juga mengalami posisi sulit seperti dirinya. Ia tidak ingin hanya menjadi pendengar, namun juga masuk ke dalam hati mereka.
Kita kembali diingatkan pada pesan Paus Fransiskus pada Hari Komunikasi Sedunia ke-56 bahwa tugas yang tidak kalah paling pentingnya dalam kegiatan pastoral adalah “kerasulan telinga” – mendengarkan sebelum berbicara, seperti nasihat Rasul Yakobus: “Biarlah setiap orang cepat mendengar, lambat berbicara” (Yakobus 1: 19). Memberi sedikit waktu kita secara bebas untuk mendengarkan orang lain adalah tindakan pertama dari amal kasih. Seperti pesan Paus Fransiskus bahwa Tuhanlah yang berinisiatif, Ia berbicara kepada kita, dan kita menjawab dengan mendengarkan-Nya. Pada akhirnya, pendengaran ini pun berasal dari rahmat-Nya.
Belajar mendengarkan dimulai dari Gereja kecil yaitu keluarga. Mendengarkan sebagai syarat komunikasi yang baik ketika seorang ayah sebagai seorang kepala keluarga bisa mendengarkan dengan sepenuh hati suara istri dan anak-anaknya. Seringkali rasa ego justru menjadi pendorong terkuat seorang dalam bertindak. Ego bisa menjadi positif ketika seseorang mengetahui cara mengendalikannya, namun jika takaran ego itu terlalu besar, bisa berdampak buruk bahkan pada suatu kasus yang bukan hanya merugikan diri sendiri, namun juga meru­gikan orang-orang sekitar yang seharusnya menjadi tempat saling berbagi cinta kasih Tuhan. ***

(Budi Prasetyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.