CERDIK SEPERTI ULAR, TULUS….

HARI RAYA KENAIKAN TUHAN (26 Mei 2022)
Kis. 1:1-11; Mzm. 47:2-3, 6-7, 8-9; Ef. 1:17-23
atau Ibr 9:24-28, 10:19-23;
Luk. 24:46-53

KENAIKAN TUHAN YESUS ke surga diceritakan dalam Kisah Para Rasul maupun dalam Injil. Kalau Gereja merayakannya bukan sebagai formalitas, tetapi benar-benar meng­hayati realitasnya. Kesempatan ini dipakai untuk merenung­kan misteri yang sebenarnya dirayakan. Setidak­nya Pertama, penginjil sinoptik menceritakan peristiwa ini dengan lokasi yang berbeda. Markus dan Matius menceritakan peristiwa itu terjadi di Galilea (Mrk 16: 7; Mat. 28: 16), sementara Lukas menulis peristiwa itu terjadi di Betania (Luk 24: 50). Tempat bukan pewartaan yang utama. Mereka menggunakan tempat dengan alasan tertentu. Lukas mau mengatakan bahwa Yesus memasuki Yerusalem lewat Betania pada Minggu Palma; kini Ia memasuki Yerusalem Baru juga melalui Betania. Semen­tara Markus dan Matius mengacu pada permu­laan karya di dunia. Ia turun dari surga dan memilih para murid di Galilea, maka Ia pun berangkat ke surga di Galilea.

Pewartaan yang utama adalah peristiwa kenaikan Yesus itu sendiri. Peristiwa ini adalah pelengkapan dari yang dialami Yesus. Ia telah turun ke dunia dan sekarang naik ke surga. Hal ini ditunjukkan oleh Kitab Suci dengan peristiwa terjadi di bukit/gunung. Bahasa Kitab Suci, bukit dan gunung adalah tempat Allah berada (Abraham mempersembahkan anaknya; Musa menerima Loh dari Allah di Gunung; Elia membuktikan Allah-nya di atas gunung; Yesus diproklamasikan oleh Bapa-Nya: Inilah AnakKu yang Kukasihi, dan seterusnya). Di tambah dengan “awan” yang menutupi. Awan adalah simbol kehadiran Allah. Allah menyertai Israel yang keluar dari Mesir dalam awam-awan. Yesus diproklamasikan oleh Bapa-Nya dari balik awan. Maka peristiwa ini adalah ungkapan iman bahwa Yesus yang telah turun dari surga, kini kembali naik ke surga. Kedua, bisa diumpamakan dengan kebanyakan keluarga karir. Misalnya seorang pengusaha selalu memikirkan agar ketika dirinya pensiun, masih ada anaknya yang akan melanjutkan usahanya. Seorang dokter menginginkan anaknya ada yang meneruskan profesinya. Maka kalau Yesus naik ke surga, “Lalu siapa yang akan melanjutkan karya keselamatan yang telah dimulai-Nya?”

Kenaikan Tuhan Yesus ke surga mengingatkan bahwa karya keselamatan Yesus telah diserahkan kepada pengikut-Nya untuk dilanjutkan. “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu”. Kelanjutan karya keselamatan itu diserahkan kepada kita. Hal ini bisa dilakukan dengan mengajarkan orang untuk melakukan yang diperintahkan-Nya: mencintai Allah, sesama seperti diri sendiri; mencintai orang-orang yang memusuhi; men­doakan dan memberkati orang-orang yang menganiaya; mengampuni 70×7 kali. Ketika mengetahui perbuatan baik kita, mereka akan mengenali Allah yang kita imani.

Tugas ini berat. Tuhan Yesus pun sadar akan hal itu. Ia mengumpamakan seperti masuk dan berada di tengah-tengah singa yang siap memangsa. Namun kita dikuatkan bahwa harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Kita juga harus selalu menyadari bahwa Ia selalu menyertai sampai akhir. Ia adalah benar-benar Immanuel, Allah yang selalu menyertai. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.