Sejak kecil, Maria Stefani Emma Yunara (61) dan saudara-sau­dari­nya diajak orangtuanya aktif menggereja. Cara itulah yang dipakai orangtua mendidik mereka. Bukan dengan kata-kata, tetapi tindakan nyata. “Karena itu, Gereja seakan ‘rumah kedua’-ku yang harus kuperhatikan kebersihan dan keindahannya. Bahagia dan senang rasanya bila gerejaku indah, berseri, dan banyak umat datang ambil bagian dalam berbagai perayaan,” ucapnya.

Perempuan kelahiran Padangpanjang 12 Agustus 1961 ini hobi merangkai bunga, bernyanyi, menari, dan berkebun. Kini, ibu tiga anak (satu perempuan dan dua putera) ini dipercaya sebagai anggota Seksi Hubungan Masyarakat Dewan Pengurus Cabang (DPC) Wanita Katolik RI Cabang St. Paulus, Pekanbaru, Riau.

Pasangan almarhum Adelberthus Budo Seda Wangge ini pun juga aktif ber­orga­nisasi sejak SMP, berpindah-pindah domi­sili dan sekolah mengikuti penem­patan dinas ayahnya sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Rengat, Indragiri Hulu, Riau. Kota-kota yang pernah keluarga tinggali adalah Padangpanjang, Paya­kumbuh, Bangkinang, Rengat, terakhir Padang. Di tempat keluarganya berdomili, Yuyun – panggilan akrab­nya tetap ingin menyum­bang­kan bakat dan hobinya untuk dekorasi Gereja, terutama kini di Paroki St. Paulus Pekanbaru. “Agar Gereja Indah! Itu saja!” ujarnya.

Yuyun menuturkan pengalaman indah masa kecil bersama keluarga aktif menggereja. Ibundanya (RA Bernadine Wisnoengsih) selalu mengajak Yuyun dan saudara-saudarinya (Bonny, Yuli, Nunung) dalam berbagai kegiatan di Gereja; ter­uta­ma Muda Mudi Katolik (Mudika), kini Orang Muda Katolik (OMK) Paroki St. Fransiskus Assisi Padang. “Kami juga didorong masuk di Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia/PMKRI Cabang Padang Kelompok Karyawan Muda Katolik (KKMK) Paroki Katedral Padang.

Tidak hanya berorganisasi, kami diajak dalam pelayanan sebagai petugas liturgi (lektor, kolektan, paduan suara/koor), mendekorasi, dan bebersih gereja. Untuk urusan koor, semua anggota keluarga almarhum Letkol (Purn.) Raden Stefanus Mursudi Harjo pasti terlibat. Bahkan sampai usai sepuh-pun ayahandanya setiap perayaan Jumat Agung menjadi penyanyi passio – kisah Sengsara Tuhan Yesus. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.