KASIH YANG TAK BERKESUDAHAN

Hari Minggu Paskah V (15 Mei 2022)
Kis. 14:21b – 27; Mzm. 145:8-9, 10-11, 12-13ab; Why. 21:1-5a;
Yoh. 13:31-33a, 34-35

INJIL HARI INI mengisahkan tentang Tuhan Yesus memberikan perintah baru untuk kita laksanakan. Kutipan kisah ini sering kita dengar, yaitu: perintah baru untuk saling mengasihi. “Apanya yang baru? Bukankah sejak zaman dulu sabda Allah mengajarkan kepada manusia untuk mengasihi sesamanya?” Pertanyaan ini dijawab oleh St. Agustinus, demikian: “Kini Ia (Yesus] mengajar mereka…: ‘Sebuah perintah baru Kuberikan kepadamu, agar kamu saling mengasihi.’ Tapi bukankah hukum lama telah berkata, ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’ (Im 19:19)?” Cinta kasih memang melakukan demikian, tetapi yang dimaksud di sini adalah kasih yang Tuhan bedakan dengan kasih jasmani. ‘Kasihilah sesamamu, seperti Aku telah mengasihi kamu.’ Tidak dengan kasih yang dengannya manusia mengasihi satu sama lain, tetapi dengan kasih anak-anak Allah yang Mahatinggi dan bersumber dari pada-Nya, yang menjadi saudara-saudara bagi Putra-Nya yang Tunggal. Maka, mengasihi satu sama lain dengan kasih yang dengannya Kristus telah mengasihi dan kasih ini akan memimpin mereka kepada pemenuhan kerinduan mereka…. Ini adalah kasih yang Tuhan bedakan dari semua kasih manusiawi, ketika Ia menambahkan, ‘seperti Aku telah mengasihi kamu’. Dengan mengasihi kita, Kristus mengasihi Allah Bapa di dalam kita… sehingga Kristus berada di dalam kita. Karena itu, marilah mengasihi satu sama lain, supaya oleh kasih itu, kita membuat sesama menjadi tempat kediaman Allah” (St. Augustine, Catena Aurea, John 13:33-35).

Kesatuan inilah yang baru. Kasih itu (Kristus) sendiri, yang kita sampaikan kepada sesama. Sebelum menjadi murid Kristus, kita mengasihi dengan kasih yang bersifat manusiawi. Setelah menjadi murid Kristus dan hidup di dalam Dia, Kristus hidup di dalam diri kita dengan kasih yang bersifat ilahi. Salib adalah bukti kasih Kristus yang tiada tara. Kasih-Nya yang Ilahi ini tidak menghitung untung rugi, tulus dan terus setia memberi, walau itu menuntut pengorbanan. Kasih ini mengusahakan agar sesama dapat menerima rahmat keselamatan. Bunda Teresa pernah mengajarkan tentang kasih yang seperti ini. “Aku harus mau memberi apa pun yang diperlukan untuk berbuat baik kepada sesama. Ini mensyaratkan bahwa aku mau memberi sampai terasa sakit. Sebab kalau tidak demikian, tak ada kasih sejati di dalam diriku…. Aku telah menemukan suatu paradoks, yaitu kalau kamu mengasihi sampai terasa sakit, maka tak akan ada lagi rasa sakit, hanya bertambahnya cinta kasih.”

Tuhan Yesus telah mengasihi kita sehabis-habisnya sampai merasakan sakit sedemikian hebat di kayu salib. Namun di kayu salib itu, Yesus tidak mengingat sakit-Nya, namun kasih-Nya yang meluap tiada batasnya kepada manusia. Kasih semacam ini telah menjadi ciri khas para rasul dan jemaat perdana, seperti di bacaan pertama hari ini. Para rasul menguatkan jemaat agar bertekun dalam iman, walaupun untuk itu mereka harus mengalami banyak sengsara (lih. Kis 14:22). Mereka dikejar-kejar oleh para penguasa, yang ingin menumpas umat Kristen. Mungkin tak terbayangkan bagi kita sekarang, betapa besar taruhannya untuk menjadi Kristen di abad-abad awal itu. Namun semangat mereka tidak pudar. Dengan doa dan puasa, para rasul itu menetapkan penatua-penatua jemaat—yaitu para imam—dan menyerahkan mereka kepada Tuhan. Pengorbanan kasih dari para rasul dan para imam tersebut membuahkan hasil. Semakin banyak orang, bahkan dari bangsa-bangsa lain, menjadi percaya kepada Kristus. Kita pun merupakan buah dari pewartaan iman mereka, sebab dari merekalah kita menerima karunia iman dan mengalami kasih karunia Allah. Melalui merekalah, kita menerima rahmat Allah, yang menjadikan kemah-Nya ada di tengah-tengah kita dan Ia tinggal bersama-sama dengan kita (lih. Why 21:3). Bukankah ini nyata secara khusus dalam sakramen Baptis dan Ekaristi yang kita terima melalui Gereja-Nya? Sebab melalui sakramen- sakramen-Nya, Allah sungguh tinggal di dalam kita.

Saat kita merenungkan sabda Tuhan hari ini, marilah melihat betapa eratnya sabda Tuhan dengan pesan Konsili Vatikan II. Para Bapa Konsili mengajak agar kita bertumbuh dalam kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan kasih (lih. Lumen Gentium 40). Artinya, dalam persatuan dengan Kristus, kita dimampukan untuk mengasihi sesama di dalam kasih Kristus. Dengan demikian, kita mengikuti jejak Kristus, yang membaktikan diri bagi kemuliaan Allah dan pengabdian terhadap sesama. Meskipun itu “sakit”, namun dalam kesatuan dengan Kristus, semua itu akan diubah-Nya menjadi kasih yang mendatangkan kebahagiaan sejati, yang menjadikan kita bertumbuh semakin menyerupai Dia. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.