Di masa kini, media sosial (medsos) tidak asing lagi bagi warga masyarakat dari semua kalangan usia. Lima medsos yang paling banyak digunakan adalah WhatsApp (WA), Instagram (IG), Youtube, Tiktok, dan Facebook (Fb). Medsos adalah platform digital yang memfasilitasi penggunanya saling berkomunikasi atau membagikan konten (berupa tulisan, foto, video). Medsos juga menyediakan fasilitas bagi penggunanya melakukan aktivitas sosial dalam cakupan wilayah yang luas. Koneksi internet menjadi salah satu syarat utama agar penggunnya bermedsos dengan stabil dan cepat.

Medsos kini memungkinkan penggunanya mendapatkan informasi cepat dan terbaru (up to date) dibandingkan media konvensional seperti media cetak (koran, tabloid) dan televisi. Dengan kelebihan ini penggunanya dituntut bijak menggunakann medsos. Beberapa langkah bijak dalam bermedsos dapat disebutkan antara lain: (1) menjaga informasi yang bersifat pribadi/privat, (2) memperhatikan sikap dan etika berkomunikasi, (3) bijak memilah dan memilih teman, (4) jangan sembarangan posting, (5) mencari kebenaran dan mencantumkan sumber konten/isi yang dibagikan, (6) tetap waspada dan tidak mudah tergiur, (7) menggunakan sesuai kebutuhan, (8) mengikuti infor­masi yang bermanfaat-akurat-dapat dipertanggung­jawabkan, (9) menjauhi akun-akun yang mendorong terjadinya hal buruk; misalnya boros ataupun kemarahan, dan (10) memanfaatkan semaksimalnya.

Dalam bermedsos guru SMA Xaverius Bukittinggi Mesriana Nainggolan (38) menerapkan kiat ‘lihat-baca-renungkan-cukup tahu-berkomentar positif bila dianggap perlu’. Kalau mem-posting sesuatu, Mesriana berpikir untuk menginspirasi bukan mengintervensi. Sebagai guru, kalau menemukan ‘keanehan bermedsos’ di kalangan peserta didik, ia akan kontak pribadi (japri) yang bersangkutan. “Saya ingatkan supaya memperbaiki komentarnya. Sering saya mendapati mereka menggunakan kata dan kalimat kasar. Mungkin bagi kalangan mereka sebagai guyonan. Kalau di dalam grup terbatas mereka cocok, tetapi kalau untuk khalayak umum tidak tepat. Di medsos, saya kadang melihat ada orang yang mem-posting sesuatu untuk unjuk kemarahan, menyindir orang dengan kata-kata kasar. Saya berusaha menghindari hal demikian,” ucapnya.

Perempuan aktivis Paroki St. Petrus Claver Bukittinggi ini melanjutkan untuk kalangan peserta didiknya, setelah ditegur secara pribadi segera merespon dan tidak mengulanginya lagi. Menurut Mesriana, jangan ada pembiaran akan hal-hal yang tidak elok tersebut. Jika mesti ditegor, yaa mesti ditegur. Teguran bisa dilakukan secara pribadi. Peran orangtua yang melek teknologi menurutnya akan lebih mudah, gampang memantau, dan tidak akan membiarkan anak bermedsos. “Sebaliknya, kalau orangtua tidak melek teknologi akan kesulitan, mungkin hanya berdasarkan laporan dari orang-orang yang mengenali mereka.” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Orang Muda Katolik Paroki Hati Kudus Yesus-Pangkalan Kerinci, Riau, Marwan Naibaho berpendapat platform medsos punya sisi baik dan buruk bagi para penggunanya. Hal positif, medsos menjadi sarana berbagi (share) informasi, bahkan promosi bagi kalangan muda yang sedang berwirausaha, tempat berbagi aneka momen. Medsos juga dapat digunakan untuk menunjang karir, usaha, dan pendidikan! Sisi negatif, kalau medsos sekedar menjadi sarana narsis (pamer). Marwan kerap menemui tayangan live Facebook dan Instagram yang tidak tepat. Itu artinya, pemilik akun kurang memahami peruntukannya. “Tayangan live di Fb misalnya memang sangat membantu berbagi momen. Tetapi, mesti dibedakan momen itu bersifat pribadi (privacy) atau untuk orang banyak/publik.” katanya.

Menurut Marwan kalangan dewasa dan orang tua lebih bijak menggunakan perangkat teknologi komunikasi. Kalangan ini memanfaatkan medsos untuk mencari dan berbagi informasi, mendekatkan yang jauh lewat aplikasi Video Call (VC) – dulunya lewat panggilan telepon biasa. Berkaitan dengan ‘pembekalan’ Orang Muda Katolik dalam bermedsos, perlu perhatian dari dua sisi (ekstern dan intern). Sisi ekstern dalam bentuk pengawasan orangtua dan guru, Sisi intern, orang muda sendiri yang selektif dalam memilih dan bijak dalam menggunakan medsos. “Di paroki kami telah melakukan beberapa kali pembekalan bagi OMK berisi bimbingan pemakaian medsos secara tepat, pelatihan Adobe Photoshop dan pelatihan editing video. Melalui pelatihan ini diharapkan menghasilkan karya memiliki kelebihan nilai dan seni untuk di-upload di medsos.” katanya.

Umat Paroki Katedral St. Teresia dari Kanak-kanak Yesus Padang yang juga pegiat medsos, Ricky Rinaldo (40) tidak menampik dinamika masyarakat bermesos tidak bisa dihindari lagi. Karena pergerakan zaman yang seolah-olah mengharuskan semua orang hanyut di dalam dunia medsos. Menurut Ricky kalau dikritisi, banyak pihak masih gugup atau mengalami benturan budaya (culture shock). Contoh sederhana, orang yang merasa leluasa bisa menulis konten apa saja di medsos tanpa memikirkan konsekuensi atau dampaknya. Atau, orang yang tiba-tiba merasa semua kegiatannya ‘wajib’ di upload di medsos; serta merasa setiap status yang ditulis orang lain ditujukan untuk dirinya.

Seseorang merasa harus selalu nomor satu. Selalu merasa harus bersaing dalam kehidupan. Apa pun platform medsosnya terbangun sikap dan semangat kompetisi. “Orang-orang merasa harus menjadi yang “paling”. Ketika tuntutan itu tidak bisa dilakukan, orang itu bersikap negatif terhadap orang-orang yang dianggap berhasil melakukannya,” ujarnya.

Dari pengalaman berinteraksi lewat jaringan internet, Ricky berkesimpulan medsos netral, namun bagi penggunanya seperti pisau yang bersisi dua (negatif dan positif). Pilihan medsos menjadi baik dan buruk, ada pada pengguna. Menurut Ricky setiap platform medsos punya fungsi berbeda, hanya saja kadang orang menyamaratakan; misalnya upload foto jalan-jalan atau berwisata di grup WA, padahal seharusnya di Instagram (IG) atau Facebook (Fb). Perkembangan teknologi komunikasi lanjutnya, tidak selalu sejalan dengan peningkatan kapasitas manusia atau individu penggunanya, terutama lonjakan teknologi yang dialami oleh orang-orang yang sebelumnya tidak sempat punya dan mengalami telepon di rumah dan tiba-tiba mempunyai HP. Belum sempat belajar menggunakan internet – sebagai sumber informasi yang baik, tiba-tiba punya medsos, tempat yang bisa menayangkan atau menulis apa pun yang dipikirkan.

Ricky melanjutkan bahwa ungkapan ‘bijak dan santun’ bermedsos mudah diucapkan, namun tidak mudah dilaksanakan. Kalau ada orang yang membagikan (sharing) konten platform medsos, tanpa menyaring dulu sebelum, bagi Ricky hal itu efek dari sikap ingin menjadi yang paling … Orang itu merasa ingin menjadi yang pertama dalam segala hal. Sehingga begitu mendapat informasi, langsung dan segera berbagi agar dianggap sebagai pihak yang paling update, tidak ketinggalan informasi. “Kalau dilihat lagi pengetikan dan pemilihan kata yang digunakan berkomentar atau membuat status, kadang sedemikian parah. Bahkan, boleh dikatakan netizen Indonesia masih dalam kategori/level anak-anak tatkala bermedsos,” tandasnya.

Agar bijak saat bermedsos, Ricky memberikan tips, “Saat menulis komentar atau status, pikirkan dulu kata dan kalimat. Pantas atau tidak diucapkan? Jika tidak pantas, jangan diketik! Terkait informasi yang beredar, selalukah bersikap kritis! Caranya, mencari sumber informasi lain. Saat ini banyak beredar informasi bersifat hoax dan informasi salah (disinformasi). Kita mesti pintar memilah, selalu beranggapan berita yang beredar di grup WhatsApp (WAG) tidak valid sehingga mesti dikonfirmasi pada portal berita resmi. Juga, penting membedakan antara tulisan jurnalistik dengan tulisan opini. Kini banyak tulisan opini dikemas seperti jurnalistik. Akhirnya, orang mengira opini itu adalah kebenaran (fakta). Untuk mampu memilah, kita mesti rajin membaca dari berbagai sisi, menyaring sebelum sharing (berbagi), serta bertindak adil sejak dalam pikiran.”

Medsos: Menjadi Mesin Uang

Pintu komunikasi yang terbuka luas dan kemudahan mengakses maupun mengirim berita ke seluruh penjuru dunia melalui media sosial di era kini juga disampaikan Ketua Seksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki St. Maria A Fatima Pekanbaru, Asterius Darsono Situmorang (46). “Selain wahana berbagi bidang kehidupan, misalnya ekonomi, bisnis, kesehatan, dan politik, medsos bisa sebagai sarana komunikasi dan publikasi dalam rangka pewartaan Injil – sarana berkatekese.” ucapnya.
Pengurus LP3KD Provinsi Riau ini tidak memungkiri saat ini medsos dapat menjadi ‘mesin uang’ namun dengan syarat menarik banyak pengikut (followers), atau subscriber di platform YoutubeTiktok, Instagram, Facebook, dan Twitter.

Selain itu melibatkan (endorse) salah satu produk kosmetik, busana (fashion) dan produk lainnya. “Namun sangat disayangkan, ada orang yang terjerumus – bahkan berujung penjara karena bermedsos. Orang ini menggunggah konten bersifat kekerasan, asusila, bahkan berita-berita hoaks maupun mengandung unsur ujaran kebencian dan penistaan agama.” katanya.
Pengurus Voxpoint Indonesia Dewan Pengurus Daerah (DPD) Riau yang bekerja di dunia perhotelan ini menambahkan bahwa hal tersebut jelas merugikan diri sendri, keluarga, bahkan kelompok karena akan berurusan dengan hukum atau UU ITE, pasal 27 ayat 3. Sebab itu, selayaknyalah semua orang bermedsos dengan bijak dan santun. “Janganlah muat (upload) berita yang belum terbukti kebenarannya. Periksa ulang dan silang (cross check) sebelum membagikannya ke medsos. Begitupun saat memberikan komentar atas postingan orang lain, pastikan terbebas dari kata dan kalimat kasar, terlebih yang menyinggung suku-agama-ras-antargolongan (SARA).” imbuhnya.

Situmorang menambahkan contoh beberapa kejadian dewasa ini, tatkala orang berlomba-lomba menarik followers atau subscriber di medsos, sengaja meng-upload berita atau video-video kurang pantas. Bahkan, ada pula yang membuat konten dengan perbuatan/tindakan yang membahayakan diri sendiri hanya demi konten. Akibatnya, banyak korban berjatuhan – bahkan ada yang meninggal dunia. Ada pula yang berakhir di penjara. Aktivis Donor Darah Riau ini berharap masyarakat, termasuk umat Katolik bersikap sopan, bijak saat menggunakan medsos agar sungguh menjadi sarana berbagi informasi yang baik dan benar; serta menjadi sumber informasi valid dan dapat dipertanggung­jawabkan. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.