Sekitar dua belas tahun lalu (2011), saya mengenal Face­book. Awalnya, saya kepo! Apa itu Facebook? Selanjutnya, saya diajak teman membuat surat elek­tronik (e-mail) dan belajar meng­gunakan Fb. Saya memilih Fb karena terlihat seru, dapat mengenal banyak orang dari mana saja. Juga, seru membaca berbagai macam postingan dan komentar yang terlihat galau dan lucu. Setelah akrab dengan Fb, saya pun memanfaatkan medsos Instagram (IG), Messenger, Whats­App (WA), dan Tik Tok.

Ternyata, saya mendapat banyak manfaat dari medsos. Lewat Fb, saya bertemu lelaki, kini suamiku. Kini pun, saya bisa ber­promosi dan berjualan produk, tidak hanya berko­munikasi dengan orang-orang jauh. Saya merasakan tepat sasaran dan dapat menjangkau lebih banyak calon pembeli. Selain mendapatkan manfaat atau keuntungan, saya ada pengalaman duka dan tidak mengenakkan. Saya mengalami di-tag orang tidak dikenal dengan konten yang tidak benar, termasuk konten porno. Nama akun fb saya di-tag pada kolom komentar, memang tidak sempat dibajak, karena akun dibuat saya sendiri. Hanya saja, kejadiannya ‘ditandai’ nama saya pada kolom komentar. Dulu saya sering diberi link. Kalau link diklik bakal langsung dibajak akun kita. Saya mendapat pemahaman hal demikian dari teman. Makanya, kalau saya di-tag dengan postingan dan ada “link biru”, tidak diklik, karena sangat berpotensi dibajak atau di-hack. Kejadian tidak enak selama berjualan di medsos, ada kalanya calon pembeli hanya memberi harapan palsu atau tidak menepati janji dalam pembayaran.

Hingga kini, saya gunakan akun Fb untuk promosi dan menjual produk busana secara online (online shop). Saya punya lima ribu teman – batas maksimal di FB. Cukup banyak yang minta pertemanan, tetapi tidka bisa lagi dilayani. Maka, saya seleksi, sortir dan hapus ‘pertemanan’ yang tidak penting agar dapat menerima pertemanan baru. Akun Fb lelaki, apalagi tidak jelas, pasti saya hapus! Saya hanya menerima pertemanan yang berpotensi berbelanja. Ada Fans Page (FP) sebagai ‘ladang berjualan’ yang merupakan halaman dari akun asli Fb. Sebab, kalau sering promosi di Fb bisa terkena spam. Ada pembatasannya. Di FP, saya bisa promo secara langsung (live) begitupun dengan foto-foto produk di story WA.

Khusus saat siaran langsung (live) di FP, saya mesti benar-benar harus mampu menggunakannya secara bijak, agar tidak ada di antara penonton yang tersinggung akibat ucapan atau tindakan. Pada kesempatan live tersebut, saya mesti mampu mengatur kata-kata yang digunakan, selain kemampuan menguasai aneka jenis barang dan bahan yang dijual. Hal ini penting saya lakukan, karena sebagai non Muslim, saya mesti mampu meyakinkan penjualan bahan baju bernuansa keagamaan, yang syar’i. Mulanya, banyak di antara facebookers mengira saya muslimah. Saya selalu awali permintaan maaf bila ada yang salah atau keliru dalam memakai busana gamis dan jilbab, semata-mata untuk promosi dan berjualan.

Saat live tersebut, ada kalanya terjadi hal tidak mengenakkan telinga dan hati ini. Pernah terjadi, lima kali, ada di antara penonton yang iseng berkomentar ke arah porno. Sementara yang mengarah pada suku, agama, ras, antargolongan (SARA) tidak muncul saat live, tetapi lewat WA. Saya diajak untuk mendengar ceramah ustad ini-itu dan diberikan link. Tujuannya agar beralih agama. Biasanya, saya tidak terlalu menanggapi hal semacam itu. Penggunaan medsos dengan baik, santun, bijak, dan benar terpulang pada tiap individu. Terkhusus anak-remaja butuh pantauan dan bim­bingan orangtua dalam bermedsos. Hati-hati dan bijaklah saat ber­medsos! Jangan terlalu kepo dan sibuk ‘membagikan’ (share) hal yang tidak perlu, karena medsos adalah dunia sensitif. (hrd)

Magdalena Yanti
Ibu rumah tangga punya satu anak.
Warga Paroki St. Fransiskus Assisi, Padang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.