Penggunaan telepon pintar (smartphone) di kalangan peserta didik SD di Paya­kum­buh (juga di tempat lainnya), sekitar 99% orangtua kewalahan! Meski usia SD, banyak yang mempunyai akun Facebook (Fb) atau media sosial lainnya.
Sebagai pendidik, saya melihat sangat besarnya pengaruh medsos dalam proses belajar-mengajar (PBM). Saya kerap mendengar keluhan orangtua, anaknya tidak mau belajar. Salah satu penyebabnya asyik game online. Di sekolah, tidak langsung terlihat pengaruhnya, karena peserta didik dilarang mem­ba­wa HP. Peserta didik memanfaat­kan HP, misalnya: untuk urusan pekerjaan rumah (PR) dan tugas-tugas lain. Dari pengalaman orangtua dipanggil ke sekolah, punya kisah atau keluhan serupa. Karena asyik dengan HP, anak lupa belajar, mengerjakan PR, bahkan makan pun lupa.

Sebagai guru, saya menggu­nakan medsos grup WhatsApp (WAG) kelas, untuk urusan sekolah. Namun, ada dalam grup pribadi, masing-masing mereka punya kisah yang menjurus pada dunia remaja, misalnya: pacar-pacaran, menaksir-naksir lawan jenis, dan mengguna­kan game. Informasi semacam ini dari ‘bocoran’ di antara mereka yang suka curhat, karena dekat dengan saya. Anak yang kecanduan game atau gadget kalau tidak didampingi orangtua bisa kebablasan. Dari pemantauan beberapa akun medsos mereka, saya menemukan penggu­naan bahasa yang ‘serem’ (tidak layak) digunakan. Anak yang berlaku demikian, saya panggil dan ditegur empat mata. Setelah itu, umumnya, yang bersangkurtan tidak aktif beberapa saat, setelah “dingin” aktif kembali. Pada kesempatan perjumpaan saya berikan pengertian tentang akibatnya. Bila ada postingan yang menyakiti orang lain dan kalau dendam bakal bisa dilaporkan ke polisi, karena postingan itu bisa menjadi bukti pelaporan ke polisi. Ancaman ini masih ampuh di kalangan peserta didik SD. Mungkin, beda bagi kalangan di tingkat SMP, SMA, apalagi perguruan tinggi. Untuk para alumni sekolah, medsos menjadi sarana kangen-kangenan atau bernostalgia semasa sekolah.

Penggunaan medsos di kalangan anak dan remaja membutuhkan pendampingan dan pengawasan orangtua. Guru dan orangtua, meski sering-sering melihat postingan anaknya. Saya pernah mendapati pemakaian bahasa yang salah, menggunakan kata, kalimat, bahasa kotor; ‘ungkapan kebun binatang’ penyebutan nama orangtua, dan caci-maki. Bahkan dua tahun silam, satu peserta didik kelas VI tertangkap basah menyimpan gambar-gambar tidak pantas. Atas izin orangtuanya, HP-nya disita, setahun kemudian dikembalikan kepada orangtuanya.

Di SD Fidelis Payakumbuh, setiap pagi dalam apel pagi konsisten memberikam nasihat kepada peserta didik mengenai pemanfaatan dan penggunaan HP dan telepon pintar (smartphone). Selain nasihat, dibeberkan pula dampak atau pengaruh negatif yang muncul. Selain kepada anak didik, kami juga mengingatkan peran penting orangtua dalam meminimalisir pengaruh negatif penggunaan medsos. Orangtua mesti tegas dan sejalan dengan guru, karena mempunyai kekhawatiran yang sama. Orangtua jangan mengikuti saja kemauan anak. Orangtuua jangan takut dengan ancaman anak, yang mengatakan: “Kalau papa/ma­ma tidak memberi kesempatan main HP, saya tidak mau buat PR! Saya tidak mau belajar!” Kalau diberi kesempatan main HP sebentar, malah keterusan bahkan lupa waktu.

Khusus di kalangan anak-remaja Katolik, hingga kini, sepengetahuan saya, masih baik dan patuh walau ada juga yang malas belajar. Posting­an di medsos pun lebih sopan, sesuai dengan usia. Mereka lebih banyak cerita dan foto bersama teman. Mungkin, perhatian orangtua cukup memadai dan peserta didik pun mau menyerap nasihat guru. (hrd)

Veronika Teja
Guru SD Fidelis, Payakumbuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.