Masyarakat Selatpanjang, Provinsi Riau, termasuk umat Katolik juga aktif bermedsos (Facebook dan WhatsApp). Aktivitas menggereja di Selat­panjang juga menggunakan medsos. Beberapa umat menyam­paikan semakin bertambah penge­tahuan agama dan iman Katolik setelah nonton youtube saluran/channel Katolik atau membaca artikel mengenai pengajaran iman dari situs Katolik.
Seiring perkembangan waktu, stasi kami mempunyai akun facebook yang dikelola oleh dua aktivis (Stefanus Wiyanton dan Oloan Siallagan). Stasi juga memiliki grup WA “G FX Stasi Selatpanjang”. Dilihat frekuensi partisi­pasi berko­mentar di grup WA, kebanyak­an umat pasif. Tetapi umat aktif melak­sanakan apabila info atau arahan untuk melakukan kegiatan. Sebagai pengurus, saya berharap umat stasi ini bijak menggunakan medsos sebagai sarana komunikasi karena itu bagian cerminan diri sebagai umat Katolik. Bila medsos digunakan dengan baik dan bijaksana bisa membangun relasi yang harmonis, berarti kita telah membagikan berkat dan kabar suka cita.

Pemantauan saya, anggota grup (Facebook dan WhatsApp) Stasi Selatpanjang telah bijaksana memanfaatkan medsos. Setidaknya tidak ada yang memposting hal yang aneh-aneh dan tidak menimbulkan masalah. Semoga di waktu mendatang lebih aktif menyampai­kan pesan, tidak pasif dan lebih bijaksana. Memilih kata/diksi yang tepat. Komentar yang disampaikan disampaikan secara tepat. Terkadang berniat baik, karena penempatan atau pilihan kata atau kalimat kurang tepat menimbulkan salah pengertian atau tafsiran bias, melenceng, sehingga berakibat munculnya ‘keributan’ dalam grup akibat kesalahpahaman. Salah satu kelemahan penggunaan media sosial, menyampaikan pesan tidak dalam posisi bertatap muka; sehingga tidak terlihat mimik wajah, intonasi kata saat penyampaian pesan. Tidak terlihat dan tidak terdengar. Idealnya pembicaraan tatap muka. Agar santun dan bijak bermedsos, yang dapat dilakukan adalah memilih kata yang tepat, intonasi atau nada saat berkontak. Kalau ada informasi yang meragukan perlu direcek dikonfir­masi, jangan langsung disebarkan. Kalau di grup/kelompok, mesti kon­sisten pada latar belakang dibentuk­nya grup. Kalau grup dibentuk untuk kelompok umat, sebaikya tidak dicampurbaurkan pembicaraan atau informasi di luar topik yang kurang penting bagi umat – anggota kelompok. (hrd)

Martinus Hutagaol
Ketua Stasi St. Fransiskus Xaverius, Selatpanjang.
Anggota BPL Badan Kerjasama Antargereja Kabupaten Meranti, Provinsi Riau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.