Dalam percakapan sehari-hari, adakalanya terlontar ungkapan, “Anak-anak sekarang, kurang punya sopan santun lagi!” Atau, “Terasa makin parah dan payah, seakan etiket tidak penting lagi di tengah masyarakat, khususnya di kalangan orang muda!

Sopan santun, cara berlaku sopan (santun) terhadap orang lain tidak secara langsung diajarkan atau menjadi pelajaran wajib di sekolah. Karena etiket cakupannya sangat luas diharapkan semua guru,  mata pelajaran apa pun memberikan muatan dalam pembelajaran menyangkut etiket. Namun kenyataan, seringkali karena berkejaran dengan waktu, materi pembelajaran mesti selesai, aspek etiket ini kurang mendapatkan porsi. Mengapa penting sopan santun, etiket, tata tertib, adab?

Guru SMP St. Petrus Tuapeijat, Kepulauan Mentawai, Eujenis Salemurat menyatakan sopan santun hal  penting dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, di mana saja berada. Sopan santun mesti diterapkan sesuai lingkungan, tempat, waktu, bersifat relatif; misalnya di rumah, sekolah, kampus, pergaulan, di tempat-tempat umum, dan sebagainya. “Bila kita berlaku sopan, orang lain akan menghargai, menyegani, senang, dan menghormati.” katanya.

Aktivis Orang Muda Katolik (OMK) Paroki St. Petrus Tuapeijat ini menambahkan pembelajaran cara berlaku santun itu dimulai dari  keluarga. Di rumah misalnya, anak mesti menghormati orangtua dan kakak, bertingkah laku baik, berbicara lemah lembut, berkata jujur, tidak melakukan perbuatan yang menyakiti perasaan. Dengan yang lebih muda menyayangi dan seluruh anggota keluarga dengan bertutur kata yang baik, tidak berkata dan berperilaku kasar, serta menjaga hubungan harmonis. Begitu saat keluar rumah, juga mesti menjaga etika dalam pergaulannya.

Berbicara tentang etiket, warga Rayon St. Yosep-Seberang Palinggam, Paroki Santa Maria Bunda Yesus-Tirtonadi, Padang, Laurensius Raples Waruwu menyatakan tertarik  dengan ungkapan: “Anda Sopan Kami pun Segan”.  Benar! Kalau kita sopan pada orang lain, orang itu pun bakal segan kepada kita. Segan bukan disebabkan karena ketakutan, namun karena hormat, respect.  Dalam menerapkan etika, menurutnya sangat  bijak ajaran budaya Minangkabau yang menerapkan tingkatan cara berekomunikasi dengan orang yang lebih tua, sebaya, dan lebih kecil dengan ungkapan:  Kato nan ampek:  kato mandaki (kepada lebih tua), kato malereng (kepada lebih kecil), kato mandata (sebaya-seusia), dan kato manurun. Nan tuo dihormati, nan samo gadang dibaok bakawan, nan ketek disayangi.  “Artinya kurang lebih yang tua dihormati, yang sebaya diajak berkawan, yang kecil disayangi.” katanya.

Menurut  guru SMP Negeri 1 Siberut Utara, Sikabaluan, Yosmar (30) sopan santun  bisa menentukan posisi seseorang, karena terkait bersosialisasi dengan orang lain.  Seseorang dihargai orang lain atau tidak, bergantung dari caranya bergaul. Tegur sapa, tingkah laku, karakter yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat bisa menimbulkan persoalan, kesenjangan, bahkan disintegrasi/perpecahan. Perbuatan satu orang bisa berdampak  buruk pada keluarga inti bahkan keluarga besarnya. Satu saja anggota keluarga berlaku tidak baik, orang lain dapat menilai seluruh keluarganya juga tidak baik. Buntutnya keluarga itu dipandang rendah dan dianggap tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan.

Umat Paroki St. Maria Auxilium Christianorum-Sikabaluan, Mentawai ini menambahkan bahwa sopan santun di dalam keluarga dan lingkungan sosial menciptakan suasana harmonis di masyarakat.

OMK Paroki St. Damian, Saibi Muara, Siberut Tengah, Mentawai, Aron Rafael Leleuma Sakailoat (20) menambahkan ada lima alasan perlunya sopan santun, yakni: (1) menjaga hubungan sosial, (2) memberikan efek positif saat berinteraksi dengan pihak lain, (3) menumbuhkan sikap saling menghargai, (4) menjaga harmoni antarsesama, dan (5) menjaga hubungan senioritas (terkait masa sekolah/pendidikan/studi, kerja, dan sebagainya). 

Atas dasar alasan tersebut, mahasiswa Keperawatan Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya ini  memberikan contoh usaha yang dapat dilakukan dalam menerapkan etiket, misalnya: (1) saling menghargai (misal mengucapkan salam atau saling sapa saat berpapasan), (2) tidak  menyebut nama –lawan bicara yang lebih tua, (3) memerhatikan seksama saat ada yang berbicara, misalnya menatap muka/face to face, (4) memperhatikan dan menjaga ‘bahasa tubuh’ (body language) ketika berinteraksi dengan orang lebih tua.

Elvin Cuaca ibu rumah tangga warga Paroki Katedral Padang  ikut berkomentar, “Perilaku sopan atau santun seseorang  terungkap dalam cara bertutur kata, bersikap dan bersosialisasi, dan memperlakukan orang lain di sekitarnya. Kalau seseorang berlaku sopan, maka apa pun yang dilakukan menjadi lebih mudah karena tidak akan bertentangan dengan adat, norma, dan aturan dalam masyarakat. Beretika membuktikan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang berbudi luhur. “Inilah yang membedakannya dengan makhluk atau ciptaan lain di bumi ini”, katanya.  Sesuai pengalamannya, ibu sepasang anak ini menambahkan perilaku sopan santun mesti bermula dari keluarga. Orangtua mesti mendidik dengan menjadi contoh bagi anaknya dalam bersopan santun. Orangtua haruslah menjadi cerminan dalam berperilaku santun bagi anak. Kalau anak setiap hari melihat sosok ayah ibunya yang berlaku sopan, akan tertanam dalam dirinya untuk melakukan hal sama. Anak akan menirunya. (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.