Umat Paroki Keluarga Kudus Pasaman Barat, terutama  kalangan senior atau sepuh tentu ingat suka dan duka pembangunan Gereja Stasi Santa Maria Kinali. Pembangunan gereja ini meng­gores­kan sejumlah kenangan, lara dan heroik pada masa itu.  Beberapa tokoh umat paroki dan keuskupan mesti rela “menginap gratis” di Lubuk Sikaping.

Herry Sugito Hb, S.Ip., A.Ma.Pd. (67) salah satu saksi mata dan saksi sejarah keberadaan dan perjuangan membangun gereja stasi ini. Suka duka dialaminya, termasuk risiko yang ditang­gungnya bersama sejumlah rekan guru pegawai negeri sipil (PNS). Kala itu, sekitar 1990-1991, terjadi persoalan pembangunan gereja stasi. Sugito – panggilan akrabnya dipindahkan ke Paya­kumbuh, sejumlah rekan sejawatnya dipindah­kan ke Padang. Meski ada alibi bahwa pemin­dahan tidak terkait  pembangunan gereja, namun tidak sulit untuk menelusuri akar masalahnya.

Walau seperti “diasingkan” karena dicabut dari komunitasnya di Pasaman, Sugito tidak kapok aktif menggereja. Sejak menetap di Payakumbuh hingga pensiun Sugito aktif di paroki salah satunya sebagai prodiakon. Ayah lima anak dan kakek lima cucu ini berkisah di Payakumbuh dimasukkan ke kompleks Batalyon 131 Kota Payakumbuh hingga pensiun tahun 2015. Saat pembangunan gereja Stasi Kinali,  sebagai Ketua Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) dan tokoh masyarakat setempat,  suami Lucia Daryati (62) ini tentu punya peran besar sehingga ‘kalangan sebelah’ memandang perlu disingirkan.  Di lingkungan batalyon, alumni jurusan pendidikan tingkat ahli madya (A.Ma.Pd.) Universitas Terbuka (UT)  ini menjadi guru bagi anak-anak prajurit di SD Negeri 17 Ranah Payakumbuh.

Mengenang perjalanan hidupnya sebagai guru, setamat SPG Van Lith-Muntilan (1974), lelaki kelahiran Yogyakarta 4 Juli 1955 ini menjadi guru di SD Keluarga Kudus Pasaman Barat binaan Yayasan Prayoga Padang (1975-1982). Saat ada kesempatan, Sugito ikut tes pegawai negeri sipil/PNS, lulus dan ditempatkan di SD negeri di Rao Mapat Tunggul Pasaman.  Dua tahun berselang, alumni Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu  Politik (Stisipol)  Bukittinggi (1999) ini dipindah ke  kampungnya semula di SD Negeri Limau Purut Barat dan SD Negeri Limau Purut Timur (1984-1991), Kinali,  Pasaman Barat.

Sejak pensiun (2015),  Sugito  pulang dan menetap kembali di Kinali, Pasaman Barat. Suasana stasi sudah berubah, tidak seperti tahun 1990-an. Kini sebagai sesepuh (tetua),  Sugito kerap diminta pendapat dan nasihatnya meski semakin banyak umat terdidik di kampungnya.  Aktivitas kegerejaan pun tidak bisa dihilangkannya, malah punya banyak waktu. “Saya merasakan panggilan untuk pelayanan terus melekat,” ungkapnya kepada GEMA.  (hrd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.