EKARISTI: SUMBER DAN PUNCAK HIDUP

HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS
19 Juni 2022
Kej. 14:18-2-; Mzm. 110:1,2,3,4; 1Kor. 11:23-26;
Luk. 9:11b-17

KETIKA MASA pandemi Covid-19, umat Katolik tidak bisa menghadiri perayaan Ekaristi secara langsung di gereja. Umat bisa mengikuti Misa secara on line atau live streamming melalui siaran TV atau melalui HP dan media sosial lainnya. Dalam Misa online, umat  menerima Komuni Batin, tidak dalam wujud hosti.  Akan tetapi, sebagian umat menyatakan tidak puas kalau tidak hadir langsung di gereja.  Mengapa umat Katolik merindukan merayaan Ekaristi?  Mengapa lebih puas kalau  secara langsung, bukan online? Kerinduan umat  mulai sedikit terobati ketika pintu-pintu Gereja dibuka kembali untuk perayaan Ekaristi walau harus dengan protokol kesehatan yang ketat. Umat lansia  dan kanak-kanak juga belum diizinkan hadir langsung di gereja.

Jawaban atas pertanyaan di atas, pertama-tama karena membutuhkan. Bukan semata-mata karena memenuhi kewajiban. Ekaristi adalah makanan rohani. Sama halnya, raga (tubuh) mengalami lapar dan dahaga, rohani (jiwa) demikian.  Konsili Vatikan II meng­ajarkan Ekaristi adalah sumber dan puncak hidup orang beriman Katolik. Sebagai sum­ber hidup, Ekaristi memberikan kekuatan dan daya hidup bagi umat beriman. Tanpa Ekaristi, hidup terasa kosong, tak bergairah, tak berarti. Sebagai puncak hidup di dalam Ekaristi umat mencapai kepenuhan rahmat penebusan. Melalui dan dan di dalam perayaan Ekaristi umat merayakan syukurnya. Oleh sebab itu, layaknya sebuah pesta atau perayaan tidak puas rasanya kalau tidak hadir langsung.

Bacaan pertama hari ini melukiskan pembaharuan pengikatan janji Allah dengan umat-Nya yang terpilih. Inisiatif perjanjian yang datang dari Allah itu tidak lain mau membebaskan umat-Nya dan menjadikan mereka milik-Nya. Darah kurban menjadi tanda atau lambang ikatan perjanjian antara Allah dan umat-Nya, dan diharapkan agar umat pilihan-Nya itu setia pada janji itu.

Dalam Perjanjian Baru, lambang atau tanda ikatan bukan lagi darah anak domba, tetapi Yesus Kristus-lah sebagai Imam Agung yang mempersembahkan seluruh diri dan hidup-Nya, menjadi kurban persembahan tanpa cela. Yesus mengurbankan diri-Nya, menjadi satu-satunya pengantara umat dan Allah. Yesus adalah wujud nyata perjanjian Allah dengan manusia. Yesus memberi  diri-Nya sehabis-habisnya, memberi Tubuh dan Darah-Nya menjadi santapan kehidupan dan menyelamatkan. Yesus menjadi sumber hidup bagi manusia, yang memberi kekuatan, kemampuan dan keselamatan bagi yang menyambut Tubuh dan Darah-Nya. Dialah puncak hidup beriman.

Perjamuan Ekaristi merupakan momen penting bagi kehidupan umat beriman, bagi yang percaya dan yang menyambut-Nya dalam perayaan Ekaristi. Maka bisa dipa­hami, ketika seseorang tidak bisa mengikuti dan merayakan Ekaristi, maka tidak bisa menyambut Tubuh dan Darah-Nya. Ekaristi perjamuan yang menentukan bagi yang percaya dan yang menyambut-Nya. Karena di dalam perayaan Ekaristi ini disimpulkan seluruh arah kehidupan Yesus bersama para murid-Nya.

Kita bersyukur atas pemberian diri Yesus; Tubuh dan Darah-Nya untuk hidup dan keselamatan. Syukur menjadi penuh dan sempurna,  kalau kita pun berbagi; memberi diri  dan hidup bagi orang lain. Ekaristi sungguh menjadi sumber dan puncak hidup, karena dari sanalah segala anugerah dan berkat mengalir, sekaligus kita mempersem­bahkan hidup dan menjadi semakin setia dalam pelayanan. Semoga Ekaristi sungguh menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup umat beriman, dan hidupnya pun menjadi Ekaristi bagi orang lain. Datanglah, Tuhan Yesus mengundang:  “Ambillah, inilah Tubuh-Ku, inilah Darah-Ku” ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.