Fenomena umat Katolik murtad terjadi di Mentawai. Tantangan besar bagi Gereja untuk membina dan membekali keluarga Katolik agar memiliki imat yang kuat dan mengakar.

Sungguh mengejutkan! Dalam kurun waktu satu minggu, tiga keluarga Katolik di stasi kami  murtad, menjadi Islam. Ini berita duka dan keprihatinan bagi saya dan warga stasi ini. Salah satu keluarga yang murtad itu anak kepala dusun. Keluarga tersebut tidak lagi mengikuti Yesus yang ada­lah Jalan, Kebenaran, dan Kehidupan. Menurut saya, mereka tidak mau mengalami kesela­matan di dalam Yesus.

Menurut kabar, mereka lebih memilih uang tiga ratusan ribu daripada iman atau agamanya. Mereka menggadaikan imannya dan  “memu­tuskan hubungan’ dengan Tuhan Yesus. Memang, ada yang memengaruhi sehingga tiga keluarga itu murtad. Di daerah saya se­dang gencar gempuran ‘godaan’, rayuan,  dan iming-iming yang menggiurkan  dari kelom­pok pendakwah.  Banyak tawaran bantuan, bahkan gratis dalam berbagai bentuk, mulai dari bantuan uang, makanan, pakaian, dan pendidikan.  Adalah fakta,  cara itu kini dipa­kai untuk memengaruhi umat Katolik yang masih ada hubungan darah dan kekerabatan. Mereka tergiur mendapat bantuan biaya pendidikan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Orangtua yang sekedar beragama tidak peduli, yang penting dapat “gratisan” anaknya bisa sekolah. Ban­tuan itu tentu saja ada SKB (syarat dan keten­tuan berlaku). Tahu sendirilah maksudnya.

Sebab lain umat Katolik “murtad” adalah hubungan sanak saudara dan kekerabatan yang bercampur aduk agama­nya. Tatkala ada ada di antara kerabat yang berbeda agama  ‘menawarkan gratisan”  lebih mudah masuk dan menjadi satu daya tarik. Tidak heran di sini, dalam satu keluarga, ayah ibu Katolik,  anaknya telah mualaf – karena diajak sanak familinya. Atau, sebaliknya, orangtua mualaf,  anak masih Katolik – tidak lama kemudian semua mualaf.

Saya pernah mendengar ungkapan se­orang anak mualaf  kepada orangtuanya yang Katolik.  “Ketika bapak dan ibu sakit atau meninggal, saya tidak bisa bantu, karena kita beda agama,” katanya. Karena takut dengan ‘gertakan’ itu, orang­tuanya ikut murtad, karena khawatir  kalau meninggal anaknya tidak mengurus penguburannya. Doktrin tersebut ditanamkan kepada anak-anak yang menjadi sasaran.

Peristiwa murtad ini tidak hanya di kalangan umat biasa, tetapi juga terjadi pada tokoh umat,  mantan pengurus stasi yang saat itu Seksi Komsos Stasi. Selain dirinya, mantan pengurus stasi ini juga memboyong serta istri dan tiga anaknya untuk murtad. Ceritanya begini, pada periode 2016-2019, kami sama-sama menjadi pengurus stasi. Saya sebagai seksi liturgi. Setelah selesai masa baktinya, dirinya tidak lagi aktif menggereja. Boleh dikatakan, ia aktif hanya karena tugas semata. Setahu saya, sebelum murtad dia terbilang satu-satunya ‘yang tersisa’ masih Katolik. Saudara kandung lainnya telah murtad terlebih dulu.

Dari peristiwa murtadnya umat di stasi ini, selain faktor adanya berbagai jenis bantuan, fasilitas, dan kemudahan; juga disebabkan karena “pengaruh pertalian dalam keluarga besar”. Tatkala salah satu saudara dan keluarganya sudah ada yang murtad, maka sangat besar kemungkinan anggota keluarga yang lain ikut serta. Bila ada saja satu anggota keluarga telah pindah keyakinan, dapat dipastikan ‘akan merembet’ kepada anggota keluarga lainnya.  Sebagaimana dialami si mantan seksi komsos stasi.  Situasi akan menjadi lebih perparah lagi tatkala anggota keluarga yang telah murtad itu  mem­banding-bandingkan situasinya sekarang dengan sanak familinya yang masih bertahan Katolik. Misalnya, soal sekolah anak, kalau tetap Katolik, biaya sendiri tidak mungkin bisa sekolah. Tetapi karena murtad, di agama baru bisa sekolah. Gratis lagi!

Di sisi lain, masyarakat Katolik di sini punya keterbatasan dalam pengetahuan dan pemahaman iman, ditambah keterbatasan kemampuan ekonomi sehingga sangat mudah menjadi pintu masuk. Umat Katolik gampang terpengaruh dengan tawaran materi yang ber­sifat sesaat. Keadaan diperparah ini, minim­nya pembinaan iman umat, terkhusus untuk keluar­ga  Katolik tentang ketahanan berkeluarga.

Minimnya pembinaan iman seperti pastoral keluarga ini memunculkan sikap tidak peduli umat dengan agamanya. Mereka menganggap menjadi agama Katolik cukup dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP). Salah satu bukti, mereka kurang dengan ibadah (Perayaan Sabda dan Perayaan Ekaristi) hari Minggu. Mereka lebih mementingkan pekerjaan atau bersantai-santai daripada ke gereja. Anehnya, saat Natal dan Paska, kondisinya luar biasa. Gereja tidak mampu menampung membludak­nya umat. Ini bentuk Katolik  ‘napas” (Natal Paskah” atau Katolik  “kapal selam” yang muncul pada waktu tertentu dan ‘menyelam’ (menghilang) di lain waktu.  Setiap Natal dan Paskah, luar biasa semangatnya, gereja penuh. Mengapa? Karena punen (pesta).

Kami – pengurus stasi telah berupaya menjalankan tupoksi  (tugas pokok dan fungsi) melayani umat,  mengingatkan supaya mereka melepaskan semangat hidup seperti “kapal selam” ini. Namun, seakan sia-sia, bahkan tidak lama kemudian beberapa keluarga yang bersemangat “kapal selam” murtad.

Atas kejadian ini, pembinaan iman pasto­ral keluarga mesti dilakukan untuk memper­kuat ketahanan keluarga Katolik di daerah ini.

Selain itu, ada fenomena menarik dialami anak keluarga Katolik yang berada di kelas akhir (VI SD, IX SMP, XII SMA). Kesem­patan melanjutkan ke sekolah lebih tinggi inilah pintu masuk ‘kalangan sebelah’ menjadi dewa penolong, dengan tawaran gratis dan menggiurkan namun SKB. Orangtua yang kepepet keadaan (tidak siap biaya atau memang miskin)  dan cetek imannya, tidak peduli dengan agama,   tanpa banyak pikir setuju daripada anaknya  tidak sekolah dan menganggur. Tahun 2021, dua mantan murid saya murtad hanya supaya dapat melanjutkan ke SMP.  Kami pun berupaya mencegah, tetapi apa daya. Saat dijumpai,  orangtuanya mengatakan, “Kami tidak punya pilihan lain lagi! Kalau tidak, anak kami tidak sekolah!”  Informasi yang saya dapatkan selanjutnya, dua anak bersangkutan dibawa ke tempat nun jauh, walau di desa tentangga (Madobag)  ada SMP.

Suatu saat, ketika ada kesempatan persoalan kami sampaikan ke paroki. Namun kami mendapatkan jawaban, “Biarkan saja! Berapa pun umat Katolik yang tersisa pasti umat yang punya iman yang kokoh, teguh, tidak mudah diombang-ambingkan dan termakan bujuk rayu.”  Kini, berdasarkan data terbaru jumlah umat stasi kami, empat puluh enam keluarga. Sebelum Paska 2022 masih 50 keluarga. Dalam waktu singkat, empat keluarga murtad. Apakah akan ada keluarga Katolik yang tersisa? Atau di waktu mendatang semua murtad? Waktulah yang menjawab dan membuktikannya. Kenyataan di atas dan kekhawatiran ke depan adalah tantangan bagi Gereja.  Menurut saya, Gereja tidak bisa diam saja dan  “menunggu sisa” seperti kalimat di atas.  Gereja, hirarki dan awam, mari bergerak bersama. Dari peristiwa ini, sebagai umat Katolik, saya berharap pihak-pihak terkait memberikan perhatian. Jangan sampai umat termasuk keluarga Katolik seperti ‘anak ayam kehilangan induk’.  (hrd)

Yosep Saeggeoni
Seksi Liturgi Stasi St.  Maria Assumpta Matotonan,
Paroki St. Maria Diangkat ke Surga Siberut, Mentawai 
dan Guru honor SD Negeri 02 Matotonan, Siberut Selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.