Salam belas kasih,
Saudari dan saudara umat se-keuskupan Padang dan para pembaca GEMA yang budiman, pada Pesta Santo Yusuf, 19 Maret 2021, tahun lalu, tepat lima tahun diumum­kannya Seruan Apostolik Amoris Laetitia, Paus Fransiskus mencanang­kan tahun Keluarga Amoris Laetitia. Tahun keluarga ini akan ditutup dalam Pertemuan Keluarga se Dunia X di Roma,  22-26 Juni 2022. Perte­muan keluarga se Dunia ini akan mengambil tema: “Kasih Keluarga: Panggilan dan Jalan Kekudusan”. Sebagaimana dijelaskan oleh Mgr. Christophorus Tri Harsono, Ketua Komisi Keluarga KWI, Paus meng­ajak semua keluarga untuk dapat mengikuti Pertemuan Keluarga se-Dunia ini dengan cara mengadakan pertemuan di tingkat keuskupan dengan memanfaatkan bahan-bahan yang sudah dipersiapkan oleh Dikas­teri untuk Awam, Keluarga dan Hidup dari Roma.

Tema-tema katekese keluarga yang telah disiapkan  dapat disatukan pula dengan proses sinode yang sedang berlangsung di keuskupan. Masa pandemi dan persiapan sinode ini menjadi masa yang tepat bagi Gereja juga untuk merenungkan karya pastoral keluarga di keuskupan dan paroki. Kenyataannya, itulah yang sudah terjadi dan sedang kita geluti dengan penuh antusias di stasi-stasi, rayon-rayon dan paroki-paroki-di Keuskupan Padang, menyambut ajakan Paus Fransiskus untuk bersinode, berjalan bersama, mulai dari bawah. Rangkuman hasil Sinode tingkat Keuskupan menunjukkan fokus perhatian utama yang jelas pada pastoral keluarga Katolik, karena keluarga adalah akar dari hidup Gereja dan masyarakat. Pastoral Gereja Domestik harus menjadi panggilan untuk berjalan bersama para gembala dan seluruh komunitas gerejawi dengan keluarga-keluarga Katolik dengan seluruh permasalahan hidup rumah tangga mereka yang kompleks.

Keluarga dalam Kitab Suci

Dalam Kitab Suci keluarga ditampilkan dengan semua ke­indahannya, tetapi juga dengan semua kelemahannya. Kitab suci berbicara tentang keluarga dengan sangat terang-terangan: sukacita dan dukacita, kegagalan dan keberhasilan, kegelisahan dan kepuasan, kesulitan dan keharmonisan, semua ini dikisah­kan dengan cara sederhana, dari orang-orang yang tahu menghadapi satu kenyataan manusiawi yang terdalam. Suami isteri, orangtua, anak-anak dan orang-orang lanjut usia dilukiskan dalam hubungan antar kekeluargaan mereka dengan selu­ruh kenyataan mereka sebagai makhluk ciptaan, yang sibuk dalam menanggapi tantangan kebebasan manusiawi. Mereka dipanggil kepada tanggung jawab dan justru karena itu, sering juga dikuasai oleh konflik tak kunjung usai antara yang baik dan yang jahat.

Dari sudut pandang sosiologis harus ditegaskan bahwa dalam Kitab Suci keluarga tidak terdiri dari suatu kenyataan kecil saja, melain­kan seluruh suku, seperti diwakili oleh kelompok-kelompok Bapa Bangsa yang semakin lama semakin berkembang biak dan memasukkan peran para isteri dan anak-anak.  Istilah “keluarga” yang dipahami secara ketat sebagai satu institusi sosial terkecil dalam dunia modern tentu tidak ditemukan dalam Kitab Suci secara langsung. Begitu juga dalam Perjanjian Baru pemahaman tentang institusi keluarga itu muncul dalam kaitannya dengan istilah yang berkait dengan “rumah” (oikos Luk 1:27.69; 10:5; 19:9) dan “keturunan” (patria Luk 2:4; atau genesis Mat 1:1-17).

Matius dan Lukas menempatkan kelahiran Yesus pada akhir satu sejarah keturunan yang panjang, dimulai dengan Abraham (Mat 1:1) atau bahkan sampai dengan Adam (Luk 3:38). Ditinjau dari sudut manu­siawi Yesus datang dari satu sejarah keluarga yang kompleks dan penuh kesulitan, tetapi kodrat keilahian yang mengagumkan menempatkan-Nya dalam satu relasi khusus dengan Allah. Dialah Putera-Nya yang tung­gal. Sudah sejak dalam Perjan­jian Lama kita dapat menemukan peri­kop-perikop dimana Allah dipanggil dengan sebutan “bapa,” namun dalam Yesuslah Allah mewujudkan dirinya secara penuh sebagai Bapa yang begitu mengasihi dunia sampai mengaruniakan Anak-Nya (Yoh 3:16). Dalam Yesus Allah tampil sebagai “Bapa kami” (Mat 6:9; Luk 11:2)  keputeraan setiap manusia dikukuhkan secara definitif (Yoh 1:12-13). Relasi kekeluargaan men­jadi pengungkapan hubungan baru antara Allah dan manusia, dan antara manusia dan sesamanya: kare­na kedatangan  Yesus di antara umat manusia inilah orang yang percaya dan menyambut Dia menjadi “keluarga Allah” (Ef 2:19), “anak-anak-Nya” (1Yoh 3:1) dan, akibat­nya menjadi saudara semua orang.

Keluarga Kudus di Nazaret

Perjanjian Baru memberikan kesaksian bahwa peristiwa terbesar yang paling mengguncangkan dalam sejarah adalah bahwa penjelmaan Putera Allah itu terjadi dalam konteks dan dalam keseharian satu keluarga. Bukan itu saja: Allah Putera menjadi manusia dan menghidupi sebagian besar dari keberadaan-Nya di dunia ber­sama dengan orangtua-Nya dan tunduk di bawah asuhan mereka (Luk 2:51), dalam ketersembu­nyian di satu kampung yang tak dikenal  oleh kebanyakan orang, Nazaret. Yesus tidak terbedakan dari anak-anak lain, atau dari tukang kayu-tukang kayu setempat di mana dia hidup. Bagi orang-orang sekampungnya ia hanyalah “si tukang kayu” anak Maria dan saudara Yakobus, Yusuf, Yudas dan Simon (Mrk 6:3). Yesus mengalami secara langsung kegembiraan dan kesulitan hubungan keluarga yang dihayati hari demi hari. Dengan pengalaman-Nya sendiri Yesus menguduskan keluarga dengan menunjukkan bagaimana hal ini dapat menjadi tempat istimewa bagi pengudusan dan pewartaan Injil.

Dari Injil kita tahu bahwa anggota-anggota Keluarga Kudus di Nazaret itu memiliki ciri-ciri khas dalam hasrat terus menerus mereka untuk melakukan kehendak Allah Bapa, dan ini mengkondisikan seluruh peristiwa keluarga mereka. Kita dapat mencermatinya dalam kisah Yesus pada umur 12 tahun, ditemukan di Bait Allah di antara para Ahli Taurat. Yesus menyatakan secara terang-terangan alasan keberadaan-Nya di dunia: “Mengapa kamu mencari aku? Tidakkah kamu tahu bahwa aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Luk 2:49).

Berusaha untuk membentuk seluruh jati dirinya seturut kehendak Allah sebagaimana terungkap dalam sabda Allah akan menjadi ajaran yang tanpa kenal lelah ditekankan Yesus kepada mereka yang hendak menjadi anggota keluarganya, sahabat-sahabat dan murid-murid-Nya: “Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” (Mat 12:50).

Maria adalah seorang ibu dan sang mempelai yang setiap hari berusaha menempatkan Allah dan sabda-Nya pada tempat yang utama: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38). Dalam hal inilah terletak kebesaran Maria: tidak hanya dalam keibuan fisiknya, tetapi juga pertama-tama dalam keberadaannya sebagai teladan sempurna sebagai murid Tuhan (bdk. Luk 1:45; 11:27-28).

Yusuf, bapak angkat Yesus, seseorang yang karenanya Yesus menjadi anak Daud, anak Abraham (bdk. Mat 1:1-17), disebut dalam Injil sebagai seorang yang “tulus hati” (Mat 1:19). Dalam tradisi alkitabiah itu berarti patuh dan setia pada kehendak Allah. Yusuf adalah seorang pengantin dan seorang ayah yang siap sedia menanggapi rencana Allah yang mengejutkan dalam keluarganya sendiri (bdk, Mat 1:24). Yusuf menyambut panggilan dari Allah untuk menghayati satu bentuk baru kebapakan yang menjadikannya penjaga yang hening bagi penebus umat manusia. Penyelamat dunia itu dilahirkan Allah dalam daging, sebagai manusia ia akan dilahirkan dalam sifat, dalam perhatian dan pengawasan Yusuf.

Kasih Keluarga: Panggilan dan Jalan Kekudusan

Dalam pesannya untuk para pasutri dalam rangka Tahun Keluarga Amoris Laetitia, Paus Fransiskus menggarisbawahi doa, perhatian dan kedekatan yang hangat kepada keluarga-keluarga Katolik yang selau ada dalam hati Bapa Suci. Semua keluarga Katolik diundang untuk menghayati panggilan hidup be­rumah tangga ini seperti Abraham yang “berangkat dari negerinya dan rumah bapanya menuju negeri asing yang akan ditunjukkan Allah sendiri kepadanya (bdk. Kej 12:1). Kita juga pernah mengalami ketidakpastian, kesepian, kehilangan orang-orang terkasih; kita juga telah dipaksa untuk meninggalkan kepastian kita, “zona nyaman” kita, cara kita melakukan sesuatu dan ambisi kita, dan bekerja demi kesejahteraan keluarga kita dan masyarakat secara keseluruhan, yang juga bergantung pada diri kita dan tindakan kita.”

Dengan gaya bahasa yang sederhana dan konkret, Paus mengajak keluarga-keluarga memandang secara realistis tetapi dengan penuh iman, kehidupan banyak rumah tangga yang sempat terkena dampak pandemi. Memang, situasi “lock down berarti ada lebih banyak waktu untuk bersama, dan ini membuktikan peluang unik untuk memperkuat komunikasi dalam keluarga. Tentu, ini menuntut latihan kesabaran tertentu. Namun, tidak mudah untuk bersama sepanjang hari, ketika semua orang harus bekerja, belajar, berekreasi dan beristirahat di rumah yang sama. Jangan biarkan rasa lelah menguasai dirimu: semoga kekuatan kasih membuatmu lebih memperhatikan orang lain – pasanganmu, anak-anakmu – daripada kebutuhan dan kekhawatiranmu sendiri.” Bapa Suci mengakui, “bagi beberapa pasutri, kondisi keterpaksaan hidup selama karantina sangat sulit. Permasalahan yang sudah ada sebelumnya diperparah, menciptakan perselisihan yang dalam beberapa kasus menjadi hampir tak tertahankan.” Paus mengundang semua untuk memberi perhatian kepada kaum muda yang makin sulit mendapatkan pekerjaan, tetapi harus diakui dunia teknologi yang makin dipacu perkembangannya dengan pandemi adalah dunia mereka ini di masa depan. Dan yang tak kalah penting, orang-orang lanjut usia yang semakin merasa sendirian dan kesepian juga harus mendapat perhatian karena tidak sesungguhnya tanpa mereka tidak ada masa depan bagi kita.

Oleh karena itu, Bapa Suci mendorong para pasutri Katolik untuk aktif dalam Gereja, terutama dalam pelayanan pastoral keluarga. “Tanggung jawab bersama untuk perutusan Gereja menuntut agar para pasutri dan para pelayan tertahbis, terutama para uskup, bekerjasama dengan cara yang bermanfaat dalam merawat dan memelihara Gereja rumah tangga”.

† Mgr. Vitus Rubianto Solichin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.