PADANG – Menyemarakkan Hari Panggilan Sedunia ke-59, Komisi Panggilan Keuskupan Padang bekerja sama para frater Praunio Keuskupan Padang di Seminari Tinggi Santo Petrus Pematangsiantar menggelar Virtual Touring  Dalam Cinta Tuhan”, Sabtu (7/5). Virtual Touring melalui Zoom Meeting pukul 19.00 WIB ini diikuti para frater di STSP Pematangsiantar, pastor, dan Orang Muda Katolik (OMK) Keuskupan Padang. Kegiatan ini diisi dengan penyampaian materi, sharing pengalaman, selingan gerak lagu dari para frater. Selain ajang promosi panggilan kegiatan ini sekaligus sebagai sarana temu OMK Keuskupan Padang.

Mengawali kegiatan ini, Fr. Gilbert mengutip pesan Bapa Suci Paus Fransiskus yang mengajak orang muda menjadi perwujudan cinta Allah di dunia. Dalam konteks hidup menggereja, banyak cara orang muda mewujudkan dan menghadirkan cinta Allah, antara lain dengan cara terlibat dalam kehidupan Gereja di stasi atau paroki melalui kegiatan OMK. Namun demikian lanjutnya, ada tantangan nyata terutama di saat pandemi lalu karena ada pembatasan  OMK untuk bertemu dan berkumpul. “Tantangan lain, pengaruh negatif  gadget karena orang muda tidak bijak dalam menggunakan. Semua ini adalah tantangan sehingga OMK malas bertemu untuk latihan koor, persiapan acara gereja, berdoa rosario, dan aneka kegiatan rohani lainnya,” katanya.  Calon Imam Diosesan Padang adalah Paroki St. Maria Assupmta Sikakap ini untuk mendalami materi menayangkan video yang berisi pesan bahwa hidup itu adalah keadaan sadar akan pilihan. Hidup adalah perjalanan seperti garis lurus, dimulai dan diakhiri pada dua titik,  yaitu:  kelahiran dan kematian. Antara titik kelahiran dan kematian itu ada celah kosong untuk diisi dengan membuat keputusan. Setiap keputusan adalah buah dari pilihan. Bahkan keputusan tidak memilih juga sebuah pilihan. Sekecil apapun pilihan itu adalah penentu diri dalam perjalanan. Dibutuhkan keberanian dalam memilih dan memutuskan. Hidup adalah perjalanan dari kelahiran menuju kematian perlu diisi dengan hal positif sehingga perjalanan menjadi menyenangkan. Supaya menyenangkan perlu persiapan sehingga memudahkan ketika melewati jalan berbatu dan menanjak.

Dalam konteks panggilan, Fr. Gilbert menawarkan  “pare”, yaitu: prepare action result evaluationPrepare  atau persiapan untuk melewati perjalanan hidup. Dalam persiapan ini setiap pribadi perlu menyadari dan menerima kelemahan dan kelebihan dirinya.  Action  atau aksi, orang muda mesti beraksi dan bergerak, tidak hanya berdiam diri. Dalam perjumpaan ini orang muda bisa membangun relasi yang baik untuk mendukung perjalanannya.  Result merupakan hasil yang dicapai. Cara memaknai hasil kerja dengan menyadari bahwa pengalaman perjumpaan itu mempengaruhi pembentukan pribadi. Dalam ilmu sosial manusia itu dibentuk dari situasi lingkungannya itu berada. Jika berada di lingkungan baik,  kepribadian seseorang juga baik dan juga sebaliknya.  Evaluation atau evaluasi  adalah melihat kembali hal-hal yang telah dilakukan dan dilalui selama hidupnya. Tujuan dari evaluasi adalah menilai dan melihat kembali hal-hal yang perlu diperbaiki. Evaluasi berguna untuk masa depan agar tidak jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. “Setiap panggilan pasti memiliki konsekuensi yang dapat berujung pada hal yang baik dan bisa merujuk pada hal yang kurang baik juga,” kata Fr. Gilbert.

Dalam sesi sharing mengenai panggilan, Herman Roga dari Bajawa, Flores, NTT bercerita saat bersekolah di SMP St. Antonius Ndona Ende tinggal di asrama frater. Pukul 04.30 WIB mesti bangun untuk beribadah kemudian melanjutkan kegiatan harian.  Ketika SD lanjut Herman  sudah melakukan retret dan kunjungan ke Seminari Mataloko dan Seminari Ritapiret.  “Sejak dini kami tahu cara menjadi pastor atau suster.” katanya.

Tahun 2019 umat Paroki St. Yosef Duri ini  pulang kampung ke Keuskupan Kupang, Flores. Herman terkejut karena menemukan banyak pastor yang “menganggur” bahkan tidak mempunyai tempat untuk pelayanan.  Kondisi ini berbanding  terbalik dengan kondisi di Keuskupan Padang  yang kekurangan imam.   Ketika Herman di Duri, Riau ia mendapati kenyataan berbeda dengan di kampungnya.  “Anak-anak di sini itu tidak berminat masuk seminari atau ingin menjadi biarawan dan biarawati. Mungkin dari seribu orang, sepuluh yang berkeinginan menjadi pastor. Itu pun hanya Tuhanlah yang tahu. Menurut saya selain faktor adat-istiadat, sebab lain adalah kurangnya sosialisasi kepada umat terutama anak-anak dan remaja akan cara-cara menjadi imam dan kehidupan menggereja biarawan-biarawati, “ katanya.

Oleh sebab itu lanjutnya, promosi panggilan perlu terus dilakukan. Bila perlu dibuat jadwal kunjungan ke setiap paroki tujuannya agar bisa menggugah hati dan iman adik-adik kita yang dari BIA, BIR, bahkan sampai ke OMK. Pendalaman iman tentang panggilan hidup masih sangat minim. Pengalamannya  di Flores yang dulu beramai-ramai masuk seminari,  meski akhirnya tidak menjadi imam pun mendapatkan pengalaman yang luar biasa bagi proses pembentukan dirinya. Di seminari itu dididik dengan disiplinnya tinggi, ilmu yang didapat pun sangat  bagus.  “Meskipun tidak menjadi pastor namun ilmu yang dari seminari itu tetap berguna. Menjadi imam memang rahmat dari Tuhan, namun manusia tidak cukup berdiam diri. Tetapi mesti berusaha, kalau Tuhan memanggil, kita mesti menjawab,” tutup Herman Roga.

Peserta lain, Putri Napitupulu juga berpendapat bahwa panggilan itu berasal dari Allah; caranya  bisa secara Ilahi maupun manusiawi. Putri mengambil contoh dirinya sendiri. Dalam mengalami panggilan itu, ia tidak bisa memberi diri sepenuhnya misalnya seperti suster,  tetapi memberikan diri melalui pelayanan di Gereja. Ia menjadi lektor untuk membacakan bacaan Kitab Suci dan doa umat, sebagai pemazmur. “Jika suatu saat ada panggilan untuk menjadi suster, saya akan menerimanya dengan besar hati. Tetapi saya tidak mendalami itu sepenuhnya,  meskipun demikian saya selalu berdoa Rosario, novena,  dan doa-doa lain agar panggilan itu tetap ada pada saya,” katanya.

Serupa yang dikatakan Herman Roga, Putri juga merasa keteladanan bisa menumbuhkan obsesi seseorang. Namun seperti yang dialaminya, Putri melihat para suster itu kurang menunjukkan keteladanan itu di tengah umat, terutama remaja dan orang muda.  Adanya realitas ini menurut Putri tidak heran jika umat kehilangan obsesi menjadi biarawati atau suster. Seperti dirinya, sesungguhnya umat bisa terobsesi menjadi suster,  ketika melihat seorang suster menunjukkan pelayanan dan cara hidup menggereja yang baik. “Saya setuju ke depan ada kegiatan kunjungan dari biarawan-biarawati untuk memperkenalkan panggilan dan cara hidupnya. Saya mengapresiasi Touring Dalam Cinta Tuhan ini.”  imbuhnya.

Di akhir kegiatan ini, Fr. Novem Hutapea juga membagikan pengalamannya. Ketika Tuhan menyapanya, ditanggapinya. Ketika ia menanggapi-Nya,  Tuhan pun menuntunnya. “Itu yang saya rasakan dalam menjalani panggilan. Maka tidak menutup kemungkinan jika ada panggilan yang selama ini belum dirasakan ataupun belum didengarkan.  Melalui touringtouring panggilan ini, seseorang bisa semakin mendengarkannya  sehingga menjawab dan menjadi pilihan hidupnya.”  katanya. (bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.