Status wilayah pastoral Keuskupan Padang dari Rapat Wilayah (Rawil) menjadi Vikaris Episkopal (Vikep). Bapa Uskup mengangkat tiga imam sebagai Vikaris Episkopalis (Wakil Uskup) untuk kevikepan tersebut. RD. Matheus Tatebburuk sebagai Vikep Sumatera Barat Daratan, RD. Emilius Sakoikoi menjadi Vikep Riau, dan Vikep Mentawai (RP. Agustinus Agus Suwondo).

PADANG – Perubahan tersebut disampaikan Bapa Uskup di bagian akhir pertemuan Imam Keuskupan Padang di Puri Dharma Katedral Padang,  17 – 19 Mei lalu.  Pertemuan yang diikuti 59 imam se-Keuskupan Padang, narahubung sinode lokal dari paroki dua  orang suster, awam (15), frater (5), diakon (2), dan seorang bruder  ini sekaligus sebagai ajang Penutupan Sinode Lokal Keuskupan Padang sekaligus Pembukaan Tahun Keluarga. Perayaan Ekaristi Penutupan dan Pemberkatan Minyak Krisma dilaksanakan di Gereja  Katedral,  Kamis (19/5).

Mengawali pendalaman hasil Sinode, Ketua Tim Perumus Sinode, P. Henrikus Ngambut Oba, Pr. mempresentasikan hasil sinode yang merupakan hasil rangkuman dari seluruh paroki. Dalam kesimpulannya, P. Erik menyampaikan bahwa proses sinode yang telah berlangsung dan dimaknai sebagai kegembiraan sekaligus harapan bagi umat Keuskupan Padang. Dikatakan kegembiraan karena melalui sinode ini, Gereja telah melihat, merenung,  dan menggugat dirinya. Gereja merasa dipanggil untuk melihat dirinya dengan bercermin pada peristiwa Yesus yang telah membangun persekutuan dengan umat manusia, berpartisipasi dalam peristiwa manusiawi dan membawa misi membangun Kerajaan Allah di bumi.

Lebih lanjut Imam Diosesan ini menjelaskan bahwa komunitas Gereja Keuskupan Padang telah menyatakan diri berjuang dan akan terus membangun persekutuan, tidak hanya dengan saudara seiman, tetapi dengan semua orang yang ada di sekitarnya. Hirarki dan awam tidak akan jemu-jemu untuk berpartisipasi baik dalam kehidupan Gereja sendiri maupun tengah masyarakat, terus mengikuti dan mendengarkan Roh Kudus untuk membangun dunia yang lebih baik.  Sinode telah menjadi peneguhan untuk membangun persekutuan tidak hanya dengan Tuhan dan sesama Kristen, tetapi dengan semua orang dengan segala warisan budayanya. “Keterlibatan umat tidak hanya bersifat bantuan jasmani, tetapi juga keterlibatan seluruh jiwa, dalam mana diri pribadi yang seutuhnya ikut ambil bagian dalam seluruh peristiwa sejarah Gereja. Roh Kudus lebih banyak berbicara dan seseorang mendengarkan,” katanya.

Intisari terdalam dari proses sinode yang telah dilaksanakan lanjutnya  dapat diekspresikan melalui ungkapan pertobatan, berbuah, berkarakter, dan menyeberang. Sinode ini merupakan undangan pertobatan agar Gereja kembali kepada jati dirinya. Umat dipanggil kepada kekudusan melalui persekutuan, partisipasi dan misi. Oleh karena itu umat berikhtiar mendengarkan Roh Kudus di saat sulit pandemi Covid-19.  Sinode kesempatan untuk berbagi, untuk menghasilkan buah. “Tuhan sendiri telah menganugerahkan kita dengan talenta itu untuk kebaikan bersama. Bersama tidak hanya dalam pengertian pelbagai talenta. Sinode menyadarkan kita untuk menggunakan seluruh saudara seiman, tetapi seluruh insan manusia dan ciptaan lainnya. Dalam bahasa yang sederhana, Tuhan mau kita semua menjadi berkat (hadiah ) bagi semua orang,” kata Ketua Komkat Keuskupan  Padang ini.

Rm. Erik juga menginformasikan bahwa hasil perumusan sintesis sinode lokal ini akan dikirimkan ke Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) melalui Narahubung Keuskupan, yaitu P. Ganda Jaya Nababan, Pr.  Setelah pemaparan hasil sinode lokal, Bapa Uskup memberikan penegasan dan arahan. Menurut Mgr. Vitus, sinode mengundang seluruh Gereja (hirarki dan awam) untuk mendengarkan dan belajar menjadi Gereja yang sinodal – yang berjalan bersama. “Para imam dan awam diundang untuk menemukan kembali seni mendengar sebagai hal penting untuk suatu komunikasi yang baik,” ucap Bapa Uskup.

Mgr. Vitus menambahkan bahwa mendengarkan itu sulit ketika si pendengar mulai melibatkan hati karena selain berhubungan dengan indera pendengaran, juga meletakkan hati dan telinga dalam satu ruangan. Proses sinode ini lanjutnya,  juga sejalan dengan pesan Paus Fransiskus pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-56 bahwa mendengarkan bukan hanya sekedar mendengar, seperti ucapan yang tidak terangkum dengan baik karena suara itu masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri. Namun, meneladani sikap mendengarkan seperti Bunda Maria yang menyimpan segala perkara di dalam hatinya dan berbuah dalam ketekunan. “Itulah mendengarkan dengan telinga hati, yang sebenarnya, dipupuk dan dikembangkan dalam proses bersama di pertemuan ini sehingga kita juga meneladani hal yang sama.” tegasnya.

Memasuki Tahun Keluarga

Setelah Sinode Lokal ini, Keuskupan Padang akan memasuki Tahun Keluarga. Sebagai persiapan dan pendalaman pesan Paus Fransiskus:  Amoris Laetitia (Sukacita Kasih) dihadirkan Komisi Keluarga Keuskupan Agung Medan (KAM). Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Agung Medan P. Gindo Gervatius Saragih, OFMConv. bersama timnya membagikan pengalaman proses pelaksanaan Tahun Keluarga di keuskupannya.

Mengawali pemaparan materinya, P. Gindo mengutip pesan Bapa Suci Paus Fransiskus yang menekankan pentingnya memahami kehidupan berkeluarga secara positif! Bukan memahami keluarga sebagai persoalan, tetapi sebagai rahmat. Ketika keluarga memiliki banyak persoalan, persoalan-persoalan itu tidak membuat keluarga putus asa. Karena tidak ada keluarga yang sempurna, yang jatuh dan datang dari surga. “Keluarga berkumpul atas dasar kelemahan, kekurangan, dan juga kelebihan satu sama lain,  serta berjanji saling melengkapi. Inilah cara memandang kehidupan berkeluarga yang ditekankan oleh Paus Fransiskus,” katanya. 

Lebih lanjut, P. Gindo menjelas­kan jika ingin menghadir­kan cinta kasih di tengah keluarga, mulailah dari diri sendiri. Keluarga perlu membiasakan diri ambil peran sebagai agen aktif kerasulan keluarga, khususnya evangelisasi dan katekese dalam keluarga supaya tumbuh keharmonisan relasi cinta di tengah-tengah keluarga itu. Keluarga yang tumbuh dalam cinta juga harus pergi ke luar. Menurut  Paus usaha pastoral untuk menumbuhkan kasih dalam keluarga dimulai dari dalam keluarga itu sendiri. ”Sebagai Ketua Komisi Keluarga, saya pun memulai dari diri sendiri. Gerakan pastoral keluarga saya mulai dari diri sendiri di dalam keluarga. Sebagai pastor, keluarga yang maksudkan teman sekomunitas atau keluarga dalam persaudaraan.” ungkapnya.

Pada kesempatan ini Tim Komisi Keluarga KAM  juga mensharingkan pengalamannya. Dinaria Peranginangin menceritakan pengalamannya  sebagai volunteer (relawan) konseling keluarga di paroki. Menurut Dinaria, pengalaman hidupnya dalam berkeluarga adalah modal utama dalam memberikan konseling. Karena ia sudah mengalami lebih dahulu tentang persolan keluarga bisa berbagi pengalaman dengan keluarga lain sehingga tidak mengalami seperti yang dialaminya. “Harapannya semakin keluarga yang mau melibatkan diri dalam pelayanan konseling  ini,” ucap Dina.

Relawan lain, Barita Esman Dabukke menyatakan bahwa berkeluarga itu indah sekaligus lengkap dengan tantangannya. Barita memaparkan fakta penelitian bahwa perkawinan di Indonesia secara umum 10% berakhir dengan perceraian. Selain itu, 80% keluarga mengalami krisis yang dipicu oleh konflik sehingga menyebabkan perceraian. Hanya 5% keluarga yang bahagia dan 5% lainnya sangat bahagia dalam berkeluarga. Keluarga yang terluka mengalami kesulitan dalam kehidupan dan relasi mereka.

Dabuke juga memaparkan hasil penelitian Abraham tentang kejadian di Amerika yang menyatakan bahwa keluarga yang mendasarkan hidupnya pada doa dan Kitab Suci, hanya satu dari 10-nya yang mengalami perceraian. Sedangkan keluarga yang tidak berdasarkan doa dan Kitab Suci satu dari 2-nya bercerai.  Persentasinya tinggi, mencapai lima puluh persen.  “Kesimpulannya masih ada kemungkinan sebuah keluarga bubar meski mengandalkan doa dan Kitab Suci.  Itu berarti masih banyak tugas dari Komisi Keluarga dan Tribunal Keuskupan,” tutupnya.

Menurut Dabukke pelaksanaan Tahun Keluarga adalah untuk merangkul keluarga di seluruh dunia melalui kegiatan rohani, pastoral,  dan budaya di paroki, keuskupan, universitas, gerakan gerejani,  dan asosiasi keluarga. Perayaan ini merupakan inisiatif langsung dari Paus Fransiskus dan kesempatan Gereja untuk mendalami, merenung­kan dan mensyukuri seruan apostolik Amoris Laetitia.

Hari terakhir pertemuan ini Kamis (19/5) diisi diskusi kelompok dalam kelompok kevikepan. Setiap kelompok mendalami tiga  hal, yaitu: masalah keluarga di paroki,  solusi untuk mengatasi masalahannya, dan usul saran untuk mengisi Tahun Keluarga Keuskupan Padang.   (hrd/bud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.